Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Kehilangan Air Sungai

×

Kehilangan Air Sungai

Sebarkan artikel ini

Editorial Kalimantan Post, 5 September 2026

KAPUAS bukan sekadar sungai. Ia adalah urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Airnya menghidupi permukiman, pertanian, perikanan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi. Ketika debitnya menyusut drastis akibat kemarau panjang, yang terganggu bukan hanya pelayaran tongkang pengangkut batu bara.

Yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah kehidupan di sepanjang sungai.

Kalimantan Post

Pemerintah melalui Wakil Menteri ESDM memastikan terhambatnya tongkang bukan akibat pembatasan produksi batu bara. Penyebabnya sederhana, tetapi sekaligus menyesakkan: air tidak cukup untuk mengapungkan kapal. Tongkang pun mandek, bahkan ada yang dilaporkan kandas selama hampir tiga bulan.

Peristiwa ini seharusnya menjadi peringatan keras. Selama ini, sungai lebih sering dipandang sebagai jalur distribusi dan penopang kepentingan ekonomi. Ketika airnya surut, barulah semua menyadari betapa pentingnya sungai bagi perputaran kehidupan.

Ironisnya, saat kapal pengangkut komoditas tak bisa berlayar, masyarakat justru turun ke hamparan pasir yang muncul. Mereka berfoto, bermain, dan menikmati matahari terbenam. Alam yang sedang memberi tanda bahaya, tanpa sadar berubah menjadi tempat rekreasi.

Kita tentu tidak boleh menyalahkan masyarakat yang mencari kebahagiaan di tengah keterbatasan. Namun, jangan sampai kegembiraan sesaat membuat kita lupa membaca pesan yang lebih besar.

Kemarau panjang, perubahan iklim, kerusakan kawasan hulu, pembukaan lahan, dan tekanan terhadap lingkungan adalah persoalan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sungai yang mengering hari ini bisa menjadi gambaran tentang masa depan jika alam terus diperlakukan hanya sebagai sumber yang bisa diambil tanpa batas.

Tongkang yang kandas mungkin suatu saat dapat kembali berlayar ketika hujan turun. Tetapi pertanyaannya, apakah kita harus selalu menunggu alam pulih sendiri?

Sungai Kapuas sedang berbicara. Kali ini bukan melalui derasnya arus, melainkan melalui dasar sungai yang terbuka dan air yang menghilang.

Baca Juga :  Pengembalian Uang Negara

Semoga kita masih mau mendengarnya.

Iklan
Iklan