Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menggali Potensi Penyangga Pangan IKN

×

Menggali Potensi Penyangga Pangan IKN

Sebarkan artikel ini

Oleh : Tita Rosy
Fungsional Statistisi Ahli Madya di BPS Kalsel

Indonesia telah menetapkan sasaran untuk masuk dalam jajaran lima besar perekonomian terkuat di dunia dan berposisi sebagai negara dengan pendapatan perkapita tinggi pada tahun 2045. Sasaran ini dibangun di atas empat pilar utama Visi Indonesia 2045 yaitu pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dilakukan sebagai salah satu strategi untuk merealisasikan target ekonomi Indonesia 2045, yaitu pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan merata melalui akselerasi pembangunan kawasan Timur Indonesia.

Kalimantan Post

Delineasi Ibu Kota Negara yang termuat dalam Lampiran I Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara menggambarkan bahwa lokasi IKN yang selanjutnya akan disebut sebagai Ibu Kota Nusantara memiliki luas 56.180 hektare yang terletak pada dua kabupaten yaitu Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Pemindahan IKN ke Provinsi Kalimantan Timur diharapkan dapat menjadi katalis untuk pembangunan di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan.

Bagi Kalimantan Selatan, posisi ini sangat menguntungkan karena peluang untuk meningkatkan output ekonomi yang dapat diekspor antar provinsi terbuka lebar di depan mata. Ekonomi Kalimantan Selatan hingga saat ini ditopang oleh dua sektor ekstraktif dominan yaitu pertambangan dan pertanian yang masing-masing menyumbang 19,37 persen dan 13,93 persen terhadap kue ekonomi Kalsel. Dalam konteks ekspor antar wilayah Kalsel terhadap IKN, salah satu komoditas yang berpeluang untuk diekspor adalah output sektor pertanian khususnya tanaman pangan. Hal ini sangat beralasan karena hingga saat ini Provinsi Kalimantan Selatan masih berada pada kondisi surplus beras. Berbekal produksi padi tahun 2021 yang dikonversi menjadi beras sebesar 601,33 ribu ton, dikurangi konsumsi sebesar 469,68 ribu masih ada surplus sekitar 131,65 ribu ton.

Baca Juga :  Banjir Banua: Momentum Refleksi Kebijakan Pembangunan

Selama tahun 2021 Kalimantan Selatan selain masih berjuang menghadapi pandemi, juga masih diselimuti oleh la nina. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarbaru, terjadi peningkatan curah hujan di tahun 2021 dibandingkan 2020. Curah hujan di Kalsel meningkat dari 3.141,5 mm menjadi 3.581,1 mm. Curah hujan sebesar 3.581,1 mm merupakan curah hujan tertinggi se Kalimantan. Salah satu dampak curah hujan yang sangat tinggi ini ditranslate ke dalam penurunan luas panen padi. Penurunan luas panen padi tidak hanya terjadi di Kalsel namun juga di provinsi lain di Indonesia. Hampir separuh provinsi di Indonesia termasuk Jawa Timur yang merupakan top producer padi nasional mengalami penurunan luas panen sehingga luas panen padi nasional mengalami penurunan sekitar 2,3 persen di tahun 2021.

Produksi padi Kalsel tahun 2021 mencapai 1,016 juta ton Gkg (gabah kering giling). Meskipun terjadi penurunan produksi padi sekitar 11,6 persen dari tahun sebelumnya, namun produksi sebesar itu menempatkan Kalsel pada posisi dua belas besar produsen padi nasional. Produksi padi diperoleh dari formulasi perkalian antara luas panen dengan produktivitas. Apabila ditelusuri menurut formula tersebut, komponen yang merupakan penyebab produksi padi di Kalsel menurun adalah karena penurunan luas panen. Luas panen padi Kalsel tahun 2021 menurun sekitar 35,57 ribu Ha dibandingkan tahun 2020.

Berita bagusnya, meskipun terjadi penurunan luas panen namun terjadi peningkatan dari sisi produktivitas. Produktivitas padi Kalsel meningkat dari 39,69 kuintal/ha pada tahun 2020 menjadi 39,97 kuintal/ha di tahun 2021. Produktivitas sebesar 39,97 kuintal/ha ini bahkan merupakan yang tertinggi se Kalimantan. Peningkatan produktivitas Kalsel disumbang oleh peningkatan produktivitas di 7 kabupaten/kota yaitu Kotabaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Tengah, Balangan, Tabalong, dan Kota Banjarbaru. Untuk Kabupaten Tabalong yang merupakan pintu gerbang IKN kenaikan produktivitasnya cukup tinggi yaitu dari 37,13 kuintal/ha menjadi 44,42 kuintal/ha.

Baca Juga :  SHOLAT TEPAT WAKTU

Berbekal pembelajaran yang sudah ditakar di tahun 2021, kiranya pemerintah dapat mengantisipasi ke depannya atau setidaknya dapat meminimalisir dampak apabila kondisi cuaca ekstrem terjadi. Pengaturan sistem pengairan yang baik sangat diperlukan oleh pertanian Kalsel yang masih didominasi oleh sawah tadah hujan. Inovasi lain di bidang pertanian berupa benih padi yang tahan genangan air dengan ketinggian tertentu juga kiranya tidak salah untuk dieksplorasi mengingat teknologi nya sudah ditemukan. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas yang mampu meng offset penurunan luas panen yang (mungkin) tidak dapat dihindari akibat faktor alam maupun faktor lainnya.

Di luar konteks produksi, sedikit mengarah ke kesejahteraan petani, skema asuransi pertanian dan sistem resi gudang dapat membantu petani bertahan di tengah kondisi panen yang tidak menentu akibat cuaca yang tidak bisa diintervensi. Dua program di bidang pertanian ini sangat tepat untuk meredam gejolak ekonomi yang terjadi di rumah tangga petani. Sebagai catatan, sekitar sepertiga (31,87 persen) tenaga kerja di Kalsel menggantungkan nafkahnya di sektor pertanian.

Data-data statistik harus dipahami sebagai rangkaian informasi laksana puzzle yang harus dirangkai secara utuh baru bisa dibaca maknanya. Termasuk juga tentang data penurunan produksi padi yang terjadi di Kalsel harus ditelaah tidak hanya dalam konteks produksi. Informasi lain terkait produksi padi seperti produktivitas juga dapat memberikan panduan bagi pemerintah bahwa Kalsel yang memiliki produktivitas tertinggi se Kalimantan berpotensi menjadi penyangga pangan IKN yang berkedudukan di Provinsi Kalimantan Timur.

Iklan
Iklan