Oleh : Nor Hasanah, SAg, MIKom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Tanggal 2 Mei 2026 bukan sekadar penanda kalender untuk menghormati jasa Ki Hadjar Dewantara. Tahun ini, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) hadir dengan resonansi yang unik. Di satu sisi, kita mengusung tema besar “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Di sisi lain, suasana batin masyarakat sedang terpaut pada keberangkatan jemaah haji ke Tanah Suci. Pertemuan dua momentum ini “pendidikan dan perjalanan suci” melahirkan sebuah refleksi mendalam tentang apa yang saya sebut sebagai “Librasi Digital” atau “Haji Literasi”.
Dalam khazanah kepustakawanan, literasi bukan lagi sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan sebuah perjalanan transformatif. Jika haji adalah perjalanan fisik dan spiritual menuju titik nol pengabdian, maka literasi di era digital adalah perjalanan intelektual untuk membebaskan diri dari belenggu ketidaktahuan. Di tengah banjir informasi yang sering kali keruh oleh disinformasi, perpustakaan digital hadir sebagai “sumur zam-zam” ilmu pengetahuan yang harus bisa diakses oleh setiap anak bangsa tanpa terkecuali.
Dari Rak Buku ke Ruang Siber
Mengapa kita menyebutnya “Haji Literasi”? Dalam ibadah haji, terdapat prinsip kesetaraan yang mutlak; semua orang mengenakan pakaian yang sama, bergerak menuju tujuan yang sama. Semangat inilah yang menjadi inti dari tema Hardiknas 2026: “Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Di era digital, perpustakaan tidak boleh lagi menjadi menara gading yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berada di kota besar atau memiliki privilese ekonomi.
Librasi digital adalah upaya pembebasan akses. Perpustakaan masa kini sedang menanggalkan “pakaian” fisik yang kaku dan beralih ke wujud digital yang lebih inklusif. Partisipasi semesta akan sulit terwujud jika sumber ilmu pengetahuan berkualitas masih terkunci di balik dinding gedung-gedung beton. Dengan digitalisasi, seorang siswa di tepian sungai Barito di Banjarmasin harus memiliki kesempatan yang sama untuk membaca literatur terbaru sebagaimana siswa di Jakarta. Inilah hakikat dari pendidikan bermutu: aksesibilitas yang adil.
Navigator Spiritual Digital
Dalam ekosistem ini, peran pustakawan mengalami evolusi yang krusial. Jika dulu pustakawan dianggap sebagai “penjaga gerbang” yang pasif, kini mereka adalah navigator atau “pembimbing manasik” dalam rimba informasi digital. Pustakawan di era 2026 dituntut memiliki kompetensi kurasi yang tajam. Mereka harus mampu memilah mana konten yang mendidik dan mana yang sekadar polusi informasi.
Tantangan terbesar kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelimpahan informasi yang menyesatkan. Tanpa panduan pustakawan yang mumpuni, partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan digital bisa terjebak dalam labirin hoaks dan radikalisme pemikiran. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pustakawan adalah investasi wajib jika kita ingin mewujudkan pendidikan bermutu. Mereka adalah para profesional yang memastikan bahwa “haji literasi” setiap individu sampai pada tujuan kebenaran ilmiah.
Partisipasi Semesta dan Ekosistem Literasi
Tema Hardiknas 2026 menekankan pada kata “Semesta”. Ini berarti beban pendidikan tidak hanya berada di pundak sekolah atau pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif. Dalam dunia kepustakawanan, partisipasi semesta berarti membangun ekosistem di mana setiap orang adalah kontributor sekaligus pemanfaat ilmu.
Perpustakaan digital modern kini berbasis pada “open access” dan kolaborasi. Kita melihat munculnya repositori pengetahuan yang dibangun secara gotong royong. Guru, dosen, praktisi, hingga masyarakat umum menyumbangkan pemikiran dan karya mereka ke dalam platform digital untuk dipelajari oleh sesama. Inilah bentuk nyata dari “gotong royong intelektual”. Pendidikan bermutu hanya bisa tercapai jika ada sirkulasi pengetahuan yang sehat dan dinamis di seluruh lapisan masyarakat.
Tantangan Infrastruktur dan Etika
Tentu saja, perjalanan menuju “Haji Literasi” ini tidak tanpa hambatan. Kesenjangan digital masih menjadi tantangan nyata di Indonesia. Membicarakan pendidikan bermutu di era digital tanpa membicarakan ketersediaan sinyal dan perangkat adalah sebuah utopia. Pemerintah dan sektor swasta harus melihat infrastruktur digital sebagai “jalan tol” menuju kecerdasan bangsa.
Selain itu, aspek etika digital menjadi sangat penting. Pendidikan bermutu tidak hanya soal kecerdasan otak, tetapi juga integritas moral. Dalam librasi digital, kita harus menekankan pentingnya menghargai hak kekayaan intelektual, menghindari plagiarisme, dan menjaga adab dalam berdiskusi di ruang siber. Literasi digital harus mencakup literasi etis agar kemajuan teknologi tidak justru merusak tatanan sosial kita.
Menuju Puncak Literasi 2026
Sebagai penutup, momentum Hardiknas 2 Mei 2026 yang beriringan dengan musim haji ini harus kita jadikan titik balik. Jika haji diakhiri dengan harapan menjadi manusia yang mabrur (baik), maka haji literasi harus menghasilkan masyarakat yang cerdas, kritis, dan berdaya.
Perpustakaan digital adalah kendaraan kita. Pustakawan adalah kompasnya. Dan partisipasi semesta adalah bensin yang menggerakkannya. Mari kita jadikan librasi digital ini sebagai gerakan nasional. Kita tidak ingin sekadar mencetak lulusan yang mampu mengoperasikan gawai, tetapi kita ingin membentuk generasi yang mampu menggunakan teknologi untuk menggali kedalaman ilmu pengetahuan dan membangun peradaban yang lebih bermartabat.
Pendidikan bermutu untuk semua bukan lagi sekadar slogan di atas spanduk upacara, melainkan sebuah realitas yang kita bangun melalui akses literasi yang tak terbatas. Saatnya kita ber-itikaaf di ruang ilmu, melakukan thawaf di antara ribuan e-book, dan mencapai puncak wukuf kesadaran intelektual untuk Indonesia yang lebih maju.













