Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

KISAH AL-QAMAH

×

KISAH AL-QAMAH

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Orang-orang Islam yang masa hidupnya sempat menemui zaman Nabi Muhammad SAW disebut dengan sahabat, jumlahnya diperkirakan sebanyak 125 ribu orang. Sedangkan periode sesudahnya disebut tabi’in. Al-Qamah termasuk orang yang hidupnya di zaman Nabi, jadi bisa dikatakan sebagai salah seorang sahabat, namun bukan sahabat utama, sebab namanya tidak dikenal di antara para sahabat nabi yang utama, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Mungkin tempat tinggalnya di luar kota Madinah dan jauh dari lingkaran para sahabat nabi yang nama-nama mereka sering disebutkan dalam sejarah Islam.

Kalimantan Post

Al-Qamah mulanya adalah seorang yang berbakti kepada ibunya. Ia hidup dan tinggal bersama ibunya, sedangkan ayahnya sudah tidak ada lagi, sudah meninggal dunia. Namun sikapnya berubah setelah berumah tangga. Ia lebih memperhatikan dan menyayangi istrinya ketimbang ibunya sendiri, padahal bagi seorang anak lelaki, kewajiban untuk mengabdi kepada ibunya tidak boleh berkurang atau berubah meskipun sudah berumah tangga. Anak lelaki adalah milik ibunya selamanya, tanpa mengabaikan tanggung jawab kepada anak istrinya kalau sudah berumah tangga. Kecuali anak perempuan, setelah menikah ia sudah menjadi milik suaminya, jadi pengabdiannya yang utama adalah kepada suaminya, baru kepada ayahnya, dengan tetap mentaati dan menghormatinya.

Mungkin istri al-Qamah ini cantik atau kaya, tidak dijelaskan dalam cerita ini. Namun yang jelas, sejak menikah terjadi perubahan sikap al-Qamah pada ibunya. Ia tidak lagi menghiraukan, menyayangi, apalagi menafkahi ibunya, padahal ibunya memerlukan, dan al-Qamah mampu memberikan semua itu. Istri al-Qamah, mungkin termasuk perempuan yang tidak taat beragama dan tidak memiliki ilmu agama, sehingga ia tidak mengingatkan dan menegur sikap suaminya itu. Bahkan ia ikut bangga dengan sikap suaminya itu, karena berarti perhatian, kasih sayang, uang dan harta suaminya tidak lagi terbagi, melainkan fokus untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah mau berpikir dan mengukur betapa besarnya jasa seorang ibu. Karena itu jika ibunya al-Qamah datang, bukan saja al-Qamah yang bersikap acuh tak acuh, tetapi istri al-Qamah juga menunjukkan sikap tidak senang. Mukanya cemberut, bahkan ikut berkata-kata kasar dan mengata-ngatai ibunya (mertuanya) dengan kata-kata yang tidak sopan dan tidak pantas diucapkan oleh seorang perempuan muslimah. Ia ingin ibunya cepat pergi pulang, dan tidak berlama-lama di rumahnya, karena suaminya, al-Qamah, sudah menjadi miliknya. Akhirnya ibunya kecewa dan sakit hati. Ia tidak lagi mendatangi rumah al-Qamah. Ia memilih tinggal sendiri yang agak jauh dari rumah al-Qamah.

Baca Juga :  Menguatkan Partisipasi Semesta:Relevankah Gagasan Ki Hajar Dewantara di Era Digital?

Rupanya al-Qamah ditakdirkan oleh Allah SWT meninggal dunia lebih dahulu daripada ibunya. Usianya tidak begitu panjang. Ia mengalami sakit keras, yang diperkirakan sudah akan menjelang sakaratul-maut. Kebanyakan sahabat di zaman Nabi SAW, kalau meninggal dunia, baik di medan perang saat berjihad, maupun karena sakit, mampu mengucapkan kalimat tauhid “la ilaha illallah”, baik secara jelas maupun di dalam hati atau dengan isyarat, sehingga mereka meninggal dengan mulus. Orang yang meninggal demikian, diyakini akan masuk surga. Hal ini sesuai hadis Nabi SAW, “Man qala lailaha illallah fi akhiri hayatihi dakhalal-jannah” (Barangsiapa yang mengucap la ilaha illallah di akhir hidupnya dia masuk surga)”. (Imam Muslim). Hadis lainnya, “Man mata wa huwa ya’lamu annahu la ilaha illallah dakhalal-jannah” (Barangsiapa mati dan dia meyakini tiada Tuhan selain Allah dia masuk surga).

Ternyata al-Qamah tidak demikian, selain tidak dapat mengucapkan kalimat tauhid, ia juga sangat gelisah, kondisinya benar-benar mengenaskan, ia tidak hidup 100 persen dan tidak pula mati 100 persen. Istrinya pun bingung dan gelisah, namun tidak mengerti mengapa hal tersebut terjadi atas diri suaminya.

Kondisi al-Qamah yang demikian rupanya diketahui oleh sebagian sahabat, lalu mereka melaporkan keadaannya kepada Rasulullah SAW. Beliau pun segera mendatangi rumah al-Qamah, dan setelah melihat kondisinya, beliau mencoba menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid, namun tetap saja al-Qamah tidak bisa. Nabi lalu bertanya, apakah al-Qamah masih punya orangtua, ayah atau ibu. Istrinya mengatakan, masih ada ibunya, dengan menyebutkan alamatnya. Nabi mengutus seorang sahabat untuk menjemput ibu tersebut dan menceritakan kondisi al-Qamah yang sesungguhnya, seraya memintanya datang untuk terakhir kalinya. Namun sang ibu menolak, katanya anaknya itu telah mendurhakainya, lebih sayang kepada istrinya ketimbang ibu kandungnya sendiri, sehingga ibunya kecewa dan hidup tersia-sia.

Baca Juga :  Dari Pena ke Algoritma: Warisan Kartini di Zaman AI

Sahabat yang tidak berhasil membujuk ibunya itu kemudian kembali melaporkan halnya kepada nabi. Selanjutnya nabi sendiri yang mendatangi ibunya al-Qamah dan membujuknya agar bersedia mengampuni kesalahan al-Qamah agar ia bisa meninggal dengan cepat dan tenang. Namun tetap saja jawaban ibunya seperti semula. Akhirnya Nabi menyuruh para sahabat mengumpulkan kayu bakar untuk membakar al-Qamah supaya sakitnya tidak berlarut-larut. Melihat nabi dan sahabat mau membakar anaknya, akhirnya hati sang ibu luluh, muncul perasaan kasihan kepada anaknya, dengan melupakan sakit hatinya. Lalu ia bersedia datang dan memaafkan kesalahan anaknya di depan tubuh anaknya yang sedang sakaratul maut. Begitu sang ibu memaafkan, maka al-Qamah dapat mengucapkan kalimat tauhid dengan lancar, kemudian menghembuskan nafas terakhir dengan tenang.

Istri al-Qamah pun meminta maaf dan ampun kepada mertuanya, karena ia ikut andil menyebabkan al-Qamah menjadi anak durhaka. Ibu mertua itu pun memaafkannya, sehingga meskipun terlambat, hubungan keduanya membaik kembali. Terlambat masih lebih baik ketimbang tidak sama sekali, karena orang punya waktu untuk memperbaiki diri.

Iklan
Iklan