Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Depresi Memperdaya Cinta Ibu

×

Depresi Memperdaya Cinta Ibu

Sebarkan artikel ini

Oleh : Salasiah, S.Pd
Pendidik-Founder Rumah Kece Ahmad

Pernikahan tidaklah selalu seindah cerita Cinderella. Akan selalu ada kejutan-kejutan cerita dan peristiwa yang akan menjadi pembelajaran hidup setiap keluarga dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

Kalimantan Post

Membangun keluarga membutuhkan banyak ilmu. Walaupun bisa didapatkan sambil mengarungi perjalanan, setiap keluarga tetap harus mengisi perbekalan ilmu itu. Ilmu berguna sebagai amunisi menghadapi masalah yang akan hadir mengiringi.

Ilmu agama adalah bekalan utama yang harus dimiliki. Karena tujuan keluarga dalam Islam adalah menjadi keluarga bahagia dunia dan akhirat. Suami menjadi kepala rumah tangga. Sebagai qawwam, ayah tidak hanya dikenai kewajiban mencari nafkah untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan keluarganya. Bahkan jauh lebih berat adalah menyelamatkan anak-anaknya agar selamat dari api neraka.

Istri sebagai pendamping suami memiliki tugas yang juga tidak kalah berat sebagai manager rumah tangga. Ibu tidak hanya sekedar bertugas mengurus urusan rumah tangga. Perannya sebagai ummu warabbatul bait, ibu dibanggakan sebagai pendidik pertama anak-anaknya. Bahkan kemuliannya perannya lebih mulia dengan ditempatkannya syurga di telapak kakinya.

Penggorokan yang dilakukan Kanti Utami (35) terhadap ketiga anaknya pada Minggu (20/3/2022) adalah salah satu peristiwa penderitaan yang dialami seorang ibu. Sejatinya tidak ada ibu yang secara sadar mampu membunuh buah hatinya. Fitrah ibu adalah menyayangi, dan mengasihi terhadap anak-anaknya. Ibu akan sangat sedih bila anaknya tersakiti.

Islam membawa visi keluarga tidak hanya sebatas dunia tapi mengekali surga. Hanya saja memang tidak mudah mewujudkan visi luar biasa itu.

Tugas suami istri menjadi ayah dan ibu akan terasa lebih ringan bila dijalankan dengan cinta dan kasih sayang. Suami pulang ke rumah setelah seharian lelah bekerja memerlukan perhatian dan pengertian sang istri, begitupun sebaliknya. Istri yang merupakan tulang rusuk suami membutuhkan tempat bersandar dan bercerita setelah direpotkan oleh urusan rumah tangga yang tidak kelar-kelar dan anak-anak yang kadang merepotkan. Keduanya bersama anak-anak membutuhkan ruang komunikasi yang baik agar kesalahpahaman dan menganggap dirinya menjalankan perannya dalam keluarga lebih baik dari yang lainnya. Membawa dendam ke dalam hati dan tak terobati.

Baca Juga :  Banjir, Kapitalisme Membawa Petaka. Bagaimana Solusi dalam Islam?

Hanya saja desakan ekonomi dalam sistem kapitalis yang terus menghimpit level kewarasan. António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB mengatakan pandemi covid-19 menimbulkan ketidaksetaraan gender. Pegiat Gender menganggap perempuan adalah pihak yang paling hebat merasakan dampak pandemi Covid-19 ini, baik dalam hal risiko penularan maupun dampak ekonomi.

Kapitalisme, dengan rayuan kesetaraan gender, menyeret para perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia kerja. Bukankah atas nama pemberdayaan ekonominya, perempuan keluar dari wilayah domestiknya sebagai ibu rumah tangga. Para lelaki juga bersaing ketat dengan pesona perempuan untuk mendapatkan lahan dan peluang kerja untuk menafkahi keluarga. Bahkan kadang peran pengasuhan ibu diambil oleh sang ayah sementara sang istri bekerja mencari nafkah.

Peran domestik sebagai ibu rumah tangga pun mulai kurang diminati, dianggap tidak modern dan tidak produktif karena bukan menghasilkan perolehan materi yang bisa dikalkulasi. Perempuan dianggap sejajar dengan laki-laki ketika dia juga mampu memberikan pemasukan uang bagi keluarga. Wanita yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, akan sedikit tersisihkan dalam pergaulan dan komunitas sosialita.

Perubahan peran dan persaingan yang terjadi memberikan tekanam psikologis yang dialami oleh keluarga. Komunikasi yang jarang karena rutinitas dan kelelahan akan membuat keluarga rapuh jika tidak dibekali oleh ilmu dan kesholehan. Depresi akan mudah hadir dalam sistem kapitalisme yang hanya mengambil tujuan materi namun kering dari tuntunan agama. Maka wajar jika keputusasaan kerap hadir dalam keluarga. KDRT, perselingkuhan dan kekerasan pada anak akan menjadi kewajaran.

Menciptakan keluarga yang bahagia adalah sebuah amanah yang hanya bisa dijalankan dengan keikhlasan, kompentensi, dan kualifikasi yang tinggi dari potensi yang dimiliki calon ayah dan ibu sebelum pernikahan, terutama dalam sandaran agama. Sehingga depresi tidak akan hadir memperdaya cinta ibu dalam menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dalam mendidik anak-anaknya.

Iklan
Iklan