Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Puasa, Haji dan Qurban

×

Puasa, Haji dan Qurban

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : Ahmad Barjie B
Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

Setelah menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan lalu, kini umat Islam yang mampu dan mendapatkan giliran bersiap-siap untuk menunaikan ibadah haji. Para petugas dan jamaahnya secara bertahap mulai berangkat. Pada saat bersamaan umat Islam yang mampu di tanah air juga melaksanakan ibadah qurban

Kalimantan Post

Sebagian kita menganggap bahwa masing-masing ibadah ini berdiri sendiri dan tidak terkait satu sama lain. Sesungguhnya ibadah puasa masih ada kaitannya dengan ibadah haji dan qurban, baik di segi esensi atau hakikatnya maupun manfaat rohani dan sosial yang diperoleh.

Dari segi esensi, jelas puasa dan haji sama-sama bertujuan untuk mencapai dan meningkatkan ketaqwaan. Puasa sebagaimana dinyatakan dalam surah al-Baqarah ayat 183 adalah untuk mencapai derajat taqwa. Begitu juga dengan ibadah haji untuk mencapai taqwa, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa (al-Baqarah ayat 197). Tidak itu saja, ibadah qurban yang sebentar lagi akan dilaksanakan, juga untuk mencapai taqwa. Daging dan darah-darah hewan quran itu tidak akan mencapai keridhaan Allah, yang sampai (dinilai) oleh Allah adalah ketaqwaan di antara hamba yang melaksanakannya (al-Hajj: 37).

Ikhlas sebagai Kunci

Orang yang melaksanakan ibadah puasa dituntut untuk ikhlas, dalam arti memperuntukkan ibadahnya hanya kepada Allah SWT, bukan karena terpaksa, untuk diet, kesehatan, ikut-ikutan atau karena malu dengan keluarga, tetangga dan manusia lainnya. “Barangsiapa berpuasa dan (mendirikan malam dengan qiyamul lail) karena ikhlas dan mengharap rahmat Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni oleh Allah SWT. (HR al-Bukhari).

Ibadah haji juga demikian, sebagaimana dinyatakan: “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah (al-Baqarah: 196). Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi yang sanggup menempuh perjalanan ke Baitullah (Ali Imrah: 97). Dengan keikhlasan ini maka jemaah haji rela mengorbankan segalanya, khususnya uang yang tidak sedikit, pikiran, tenaga dan waktu untuk berhaji. Ia rela meninggalkan keluarganya, pekerjaan dan sebagainya untuk berhaji. Rela melaksanakan manasik haji dengan tekun dengan segala aturannya, baik yang sifatnya taabbudi (ibadah yang semata perintah Allah dan mutlak dilaksanakan, tanpa perlu dicari alasan atau hikmahnya) maupun taaqquli (ibadah yang bisa dirasionalkan dan dilihat langsung hikmahnya). Dalam beribadah sebaiknya tanpa protes dan harus bertanya-tanya mengapa hal itu dilakukan, walaupun sebenarnya semua ada rahasia di balik ibadah tersebut, baik yang hanya diketahui Allah saja maupun bisa dirasa oleh manusia yang mengerjakannya.

Baca Juga :  Klik Ilmu: Mewujudkan Pendidikan Bermutu dari Ujung Jari

Ibadah puasa, juga bagian dari upaya melatih kesabaran, as-shiyamu nisfu shabr. Sabar untuk menahan makan dan minum, sabar untuk tidak berhubungan dengan pasangan di siang hari, sabar memelihara pandangan mata dan lisan dari berkata-kata yang sia-sia dan kotor dan sebagainya. Di dalam ibadah haji juga sangat diperlukan kesabaran. Kalau puasa tidak boleh berkata kotor, maka dalam berhaji juga demikian, mereka tidak boleh bersikap fasiq, berkata kotor, rafats (cabul), berdebat dan bertengkar (jidal) yang dapat menodai minimal mengurangi nilai pahala ibadah hajinya (al-Baqarah: 197).

Setiap jemaah ada kalanya dihadapkan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, misalnya cuaca ekstrem, makanan yang tidak sesuai selera, tempat menginap yang tidak nyaman, tempat ibadah yang penuh sesak dan berjejal, belum lagi sikap pasangan suami istri, kawan sekamar, sekloter, mungkin menjengkelkan, dan sebagainya, yang membuat kesal dan kecewa. Semua itu sangat membutuhkan kesabaran agar mereka tidak bertindak di luar kontrol.

Syukur dan Peduli

Orang yang mampu berpuasa, berhaji dan berqurban, berarti oleh Allah diberi kemampuan (istitha’ah), baik istitha’ah biaya, kesehatan, juga kelancaran dan keamanan dalam perjalanan. Maka mereka harus mensyukuri nikmat ini, karena tidak semua orang muslim mampu melaksanakannya.

Sebagai bukti rasa syukur kita harus menggunakan nikmat itu sesuai kehendak Yang Memberi, yaitu Allah SWT. Dalam puasa, kita dianjurkan banyak berinfak dan bersedakah, di samping umumnya orang juga berzakat, sebagai bagian dari memperkuat ukhuwah, tolong-menolong, solidaritas sosial dan silaturahim. Sikap egoistis dan nafsi-nafsi hendaklah dihindari. Islam sangat menekankan perlunya menolong orang, baik di waktu lapang maupun sempit, dan itu termasuk sifat orang yang bertaqwa yang dijanjikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi (Ali Imran: 133-4). Menurut Abu Zar al-Ghiffari, yang digelari Bapak Sosialisme Islam, jika harta yang kita makan dan gunakan melebihi keperluan tiga hari, maka di situ sudah ada hak orang lain yang tidak berpunya.

Baca Juga :  PENULISAN SEJARAH

Dalam melaksanakan haji juga demikian. Setiap jemaah tidak boleh hanya mengutamakan kepentingan atau keperluannya sendiri. Mereka harus peduli dengan jemaah lain, baik dalam hal makanan, minuman, tempat duduk, istirahat, kesehatan dan sebagainya. Menurut Drs H Muchlis AS dalam Khutbah Jumat di Masjid An-Noor Banjarmasin (April 2026), ketika berangkat, tiba di tanah suci, melaksanakan rangkaian ibadah, menginap, lalu pulang ke tanah air dan sebagainya, ada kalanya kita lihat jemaah lain yang sakit, kesulitan, tersesat dan perlu dibantu. Kita hendaknya membantu semaksimal kemampuan yang ada pada kita, apakah mereka itu keluarga kita, satu kloter, satu daerah bahkan satu negara atau lain negara. Orang yang berhaji semuanya bersaudara, maka satu sama lain harus saling menolong.

Sekarang sering dipersoalkan kesalehan sosial jemaah haji yang masih kurang dibanding dengan kesalehan individual. Memang tampaknya ini perlu digarisbawahi untuk ditindaklanjuti. Dari puluhan juta orang yang sudah berhaji dan berumrah, bahkan banyak yang berulang-ulang melaksanakannya, lebih banyak untuk mencapai kepuasan spiritual yang sifatnya pribadi. Mengacu kepada uraian di atas, yang diinginkan dalam Islam adalah keseimbangan antara kesalehan individual dan sosial. Hal ini sangat penting, mengingat masalah sosial, hususnya berupa kemiskinan dan keterbelakangan masih menonjol di kalangan rakyat Indonesia. Andaikata mereka yang sudah berhaji (dan berumrah) berkali-kali itu mau sedikit saja meningkatkan kepedulian sosialnya, maka sekian banyak problema sosial dapat teratasi. Mengatasi masalah sosial tidak hanya kewajiban pemerintah, tapi juga masyarakat.

Drs H Syukriansyah MA dalam bukunya tentang tentang “Pesona Haramain dan Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah di Kalimantan Selatan (2016)” sangat menekankan perlunya kesalehan sosial. Bahkan menurutnya, di antara ciri haji yang mabrur, adalah terpeliharanya kemambruran haji di masa-masa sesudah berhaji. Salahsatunya ditandai dengan sifat-sifat terpuji orang yang sudah berhaji (dan berumrah), serta tumbuhnya sikap sosial. Kalau sifat-sifat sosial tidak dimiliki, maka kemabruran haji dan kemaqbulan umrah seseorang patut dipertanyakan. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan