Oleh : AHMAD BARJIE B
Melalui Pikiran Rakyat Online, saya mengikuti dengan seksama tulisan Herman Ibrahim “Kezaliman dalam Penulisan Sejarah Islam” (PR 18/2/2020) dan tanggapan oleh Reiza D Dienaputra “Membuat Bangsa Ini Melek Sejarah” (PR 27/2). Saya tertarik dengan kedua tulisan tersebut, sebab mengandung banyak kebenaran dan tantangan untuk kita cermati lebih jauh, sehingga kita semua anak bangsa ini dapat secara arif dan adil melihat melihat sejarah. Kita dituntut untuk terus proatif menggali fakta dan bukti sejarah, agar rekonstruksi sejarah dapat terus dibangun dengan baik dan objektif.
Banyak daerah di Indonesia kelihatannya belum mendapatkan porsi yang wajar dalam deskripsi sejarah nasional. Termasuk di antaranya sejarah perjuangan Kalimantan. Kalau kita baca buku sejarah nasional tentang perjuangan Kalimantan, pejuang yang ditokohkan kelihatannya hanya Pangeran Antasari yang diakui sebagai pahlawan nasional, dan Pangeran Hidayatullah yang dibuang Belanda dan wafat di Jawa Barat yang justru belum diakui kepahlawanannya oleh pemerintah. Kedua tokoh ini hanya segelintir pejuang Kalimantan era Perang Banjar (1859-1905), sedangkan sejarah perjuangan sesudahnya,khususnya ketika merebut dan mempertahankan Proklamasi RI 1945 sangat kurang publikasi.
Ada anggapan umum, yang kelihatannya cenderung dianut pusat, bahwa Kalimantan kurang berkontribusi dalam perjuangan nasional. Anggapan ini tentu sangat merugikan orang Kalimantan dan karenanya perlu direvisi. Kita harus dapat membedakan antara kurang, dengan kurang diketahui. Frase kurang mendekati arti tidak ada, sedangkan kurang diketahui terkait teknis penulisan sejarah yang memang belum optimal, dan inilah yang kelihatannya dialami Kalimantan.
Selama ini cerita perjuangan rakyat Kalimantan memang masih minim diketahui publik khususnya pusat. Buku-buku sejarah yang beredar di bangku sekolah terlalu Jawa sentris. Secara nasional kita lebih mengenal peristiwa 10 November, Bandung Lautan Api, Palagan Ambarawa, Serangan 6 Jam di Yogyakarta, dll. Kita akui banyak peristiwa heroik terjadi di Jawa, Sumatra, Sulsel dll, tetapi pada saat yang sama kita pun harus mengapresiasi peristiwa serupa di daerah lain, termasuk Kalimantan.
Bertolak dari kenyataan historis, perjuangan di Kalimantan sebenarnya sangat kuat dan heroik, hanya saja kurang diberitakan sampai ke pusat. Hal ini disebabkan Belanda (NICA) sangat ketat melakukan blokade, tidak saja di segi sosial politik dan ekonomi, tetapi juga informasi, sehingga informasi perjuangan dari Kalimantan ke Jawa pada masa perjuangan fisik sangat sulit, begitu juga sebaliknya.
Setelah perjuangan usai, pelaku sejarah di Kalimantan tidak pula buru-buru menyusun buku sejarah perjuangannya. Di masa lalu ada semacam prinsip hidup rakyat Kalimantan khususnya etnis Banjar, untuk urusan kebaikan, perjuangan dan pengabdian jangan digembar-gemborkan, semuanya ditenggelamkan ke perut bumi dan cukup disimpan dalam memori. Mereka menyamakan perjuangan dengan bersedekah, yang kalau diberita-beritakan bisa menjadi riya (pamer) dan menghilangkan pahala.
Prinsip ini ternyata merugikan karena sejarah perjuangan Kalimantan belum banyak diketahui. Akibatnya jangankan orang pusat dan daerah lain, bahkan para pemuda, remaja dan anak-anak sekolah di Kalimantan pun banyak yang kurang mengetahui kisah heroik perjuangan di daerahnya sendiri.














