Banjarmasin, KP – Warga dan pengguna jalan yang melintas di Jalan Jafri Zam-zam, Kecamatan Banjarmasin Barat mengeluhkan kondisi jalan yang becek akibat lumpur kerukan endapan sungai yang meluber ke jalan.
Benar saja, lumpur berwarna hitam itu menumpuk di tepi jalan tanpa diangkut kontraktor proyek. Bahkan, alat berat yang berada di atas badan jalan pun menganggu pengguna jalan, lantaran memakan hampir setengah badan jalan.
Tumpukan lumpur hitam berasal dari pengerjaan normalisasi dan pengerukan Sungai Jafri Zam-zam oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) senilai Rp800 juta itupun mendapat protes dari warga setempat.
Amat, salah satu warga mengaku ia terkejut dengan tumpukan lumpur dan alat berat di badan jalan Jafri Zam-Zam tersebut, mengingat sisa kerukan dari pengerjaan normalisasi sungai tersebut ditumpuk hingga meluber ke badan jalan. “Biasanya kalaupun ada pembersihan pasti ada armada yang standby, untuk mengangkut lumpurnya. Kalau yang ada sekarang ini malah tidak ada,” ucapnya, Minggu (11/9).
Selain itu, ia juga merasa terganggu dengan posisi peletakkan alat berat. “Soalnya meletakan alat berat dan sisa pengerukannya saja asal-asalan,” ujarnya.
Ia juga mengaku tidak mengetahui ada proyek pengerjaan normalisasi sungai yang dilakukan Dinas PUPR Kota Banjarmasin yang akan dijalankan selama 105 hari kalender. “Saya tidak tahu kalau ada proyek ini, karena tida ada pemberitahuan,” ungkapnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Sungai, Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Rini Wardina mengatakan, keluhan warga tersebut terjadi kemarin tersebut disebabkan adanya penolakan dari salah satu warga tempat pembuangan lumpur di Basirih. “Kata kontraktor, ada penolakan salah seorang warga yang berlokasi di dekat tempat pembuangan lumpur di daerah Basirih. Karena itu, kemarin kontraktor tidak bisa membuang lumpur,” ucapnya saat dikonfirmasi awak media, Minggu (11/9) sore.
Padahal, pihak kontraktor sudah berupaya untuk melakukan pembuangan terhadap lumpur hasil pengerukan sungai tersebut kemarin juga.
“Kemarin sudah ada uji coba armada melakukan pembuangan lumpur. Dan saat itulah terjadi penolakan dari salah satu warga tersebut sehingga menghentikan aktivitas mereka untuk mengangkut,” tuturnya.
Meski demikian, Rini memastikan bahwa permasalahan tersebut sudah tidak akan lagi terjadi. Ia mengklaim bahwa saat ini lumpur yang telah meluber ke jalan tersebut sudah mulai diangkut dan dibersihkan kontraktor. (kin/K-7)















