Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
BanjarmasinTRI BANJAR

Tradisi Itikaf, Mesjid Buka 24 Jam

×

Tradisi Itikaf, Mesjid Buka 24 Jam

Sebarkan artikel ini
a1a
IFTIKAF- Inilah masyarakat Kalsel memasuki 10 Hari Terakhir menggitkan iftikaf di Masjid2 di Banjarmasin.

Walaupun kebanyakan warga melakukan itikaf hanya pada waktu malam tetapi untuk Masjid Muhammadiyah Sungai Miai menyediakan makan sahur sehingga bagi yang akan ibadah dengan tak harus bawa makanan sahur

BANJARMASIN, KP – Menjelang 10 hari terakhir malam di bulan Ramadhan, masyarakat Banjar memiliki tradisi itikaf atau bermalam di mesjid.

Kalimantan Post

Dalam tradisi itikaf ini, warga mengisi malam-malam terakhir bulan Ramadhan dengan ibadah sholat wajib, sholat sunat, tadarus Al Quran, Qiyamul Lail dan ibadah-ibadah lainnya.

Peribadatan ini dilakukan untuk mengejar malam Lailatul Qadar atau malam yang dalam Al Quran lebih baik dari 1000 bulan.

Untuk mendukung tradisi ini, mesjid-mesjid yang menjadi tujuan warga pun buka selama 24 jam.Salah satunya mesjid Muhammadiyah Sungai Miai Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin.

Untuk keperluaan jemaah, pihak mesjid menyediakan makan sahur dan berbuka.

Ketua Pengurus Masjid Muhammadiyah Mesjid Sungai Miai Ir H Muslin Abdurahman mengatakan untuk kenyamanan jemaah, pengurus mesjid tidak hanya menyediakan makan dan minum untuk berbuka dan sahur saja, namun minuman berupa kopi atau teh bagi jemaah yang melakukan itikaf.

Walaupun kebanyakan warga yang melakukan itikaf hanya pada waktu malam dan pulang pada siang hari untuk keperluan kerja atau urusan lainnya, namun rasa nyaman dalam beritikaf tetap menjadi perhatian pengurus.

Soal rasa nyaman warga dalam beritikaf juga dituturkan Ketua Badan Pengelola Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Darul Quthni.

Pihak pengelola mesjid juga memberikan keperluan makan dan minum untuk warga yang beritikaf, namun karena jumlah yang beritikaf sangat banyak, pihaknya hanya dapat memberikan secara terbatas.

Warga yang beritikaf mencapai jumlah ribuan sementara kemampuan badan pengelola menyediakan menu sahur hanya 200 porsi.

Baca Juga :  Tradisi Kebersamaan Iduladha, Keluarga Besar Hasnur Group Pererat Silaturahmi di Kampung Melayu

Sementara, kebutuhan jemaah lainnya yang tidak kebagian biasanya disediakan oleh jemaah yang membawa makanan serta sumbangan dari jemaah lainnya ke badan pengelola mesjid.

Penyediaan makan dan minum untuk jemaah yang beritikaf bakal menjadi perhatian badan pengelola, karena jumlah warga yang datang itu berfluktuasi kata Darul Quthni.

Selain itu, dukungan terhadap kenyamanan dalam beribadah, pihak pengelola mesjid menyediakan fasilitas penunjang dan menjaga kebersihan.

Misalnya saja tempat wudhu yang dekat, tempat parkir yang luas serta toilet yang sangat bersih.

Tujuannya dalam beribadah tetap nyaman dan khusyuk tutur Darul Quthni.

Walaupun kebanyakan warga kota Banjarmasin beritikaf di Mesjid Raya Sabilal Muhtadin lebih banyak pada malam hari dan jarang selama 24 jam.

Darul Quthni mengatakan jemaah yang datang melakukan itikaf dan ibadah lainnya selalu lebih banyak dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya ini bukan akibat pengaruh pembatasan dampak covid 19, namun meningkatnya rasa kesadaran warga untuk meningkatkan ibadah terutama pada akhir bulan Ramadhan.

Sementara, Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan tradisi menghidupkan 10 malam terakhir bulan ramadhan, di seluruh malam-malam ganjil atau genap, agar tetap menjaga suasana tetap kondusif termasuk menjaga keamanan di lingkungan masing-masing.

Jangan sampai tradisi ini membuka ruang bagi pelaku kejahatan untuk beraksi atau membuat warga saling bentrok dan bertikai karena merasa terganggu.

Agar tradisi ini berjalan dengan aman dan lancar, Pemko Banjarmasin menjamin tidak ada pemadaman tutup Ibnu Sina. (Mar/K-3)

Iklan
Iklan