BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar, mengungkapkan meningkatnya volume sampah di kota ini tidak terlepas dari terbatasnya kapasitas pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjarbakula yang hanya mampu menampung sekitar 200 ton per hari.
Kondisi tersebut semakin memburuk ketika operasional TPA dihentikan sementara. Akibatnya, proses distribusi sampah terhenti dan menyebabkan penumpukan di sejumlah titik penampungan sementara.
“Kalau TPA tidak beroperasi, sampah otomatis tidak bisa dibuang, itu yang membuat TPS jadi penuh,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Di tengah situasi itu, Tezar menyebut pihaknya langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan koordinasi lintas tim sekaligus memastikan pelayanan tetap berjalan sesuai arahan Wali Kota.
Meski begitu, ia menilai langkah penanganan yang bersifat sementara tidak akan menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Menurutnya, perlu ada solusi jangka panjang yang menyasar akar masalah.
Salah satu upaya yang didorong adalah perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam hal pemilahan sampah sejak dari rumah. Ia mengajak warga untuk tidak lagi membuang sampah organik ke TPS, melainkan mengelolanya secara mandiri.
Selain itu, penguatan peran Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) juga terus dilakukan. Saat ini, terdapat 17 unit TPS3R yang sudah beroperasi, ditambah dua unit yang masih dalam tahap pengembangan.
Pemerintah juga tengah menambah fasilitas pendukung seperti rumah cacah dan rumah pilah sampah guna meningkatkan kapasitas pengelolaan.
Namun demikian, tingkat pengelolaan sampah di Banjarmasin masih tergolong rendah. Data menunjukkan baru sekitar 21,36 persen sampah yang tertangani dengan baik, mencerminkan masih terbatasnya efektivitas sistem serta partisipasi masyarakat.
“Masalah sampah ini tidak bisa hanya dibebankan ke pemerintah, kesadaran masyarakat sangat penting, terutama untuk tidak membuang sampah sembarangan,” tegasnya. (nug/KPO-3)















