Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Bikin Menjerit, Harga Dexlite di Kalsel Melejit

×

Bikin Menjerit, Harga Dexlite di Kalsel Melejit

Sebarkan artikel ini

Meski kenaikan merupakan dampak dari dinamika global, cara penyampaian kebijakan harus tetap diperhatikan agar tidak memicu kepanikan.

BANJARBARU, KP – Situasi lagi susah, kini harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Dexlite yang dijual Pertamina di Kalimantan Selatan (Kalsel) melejit sejak Sabtu (18/4).

Kalimantan Post

Seperti di salah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Trikora Banjarbaru, harga BBM jenis Dexlite naik menjadi Rp24.650 per liter.

Padahal sebelumnya, harga Dexlite hanya Rp14.800 per liter.

Kenaikan harga BBM Dexlite dikeluhkan oleh sopir angkutan barang.

Rahmadi, salah satu sopir angkutan tandon air yang baru saja mengisi BBM Dexlite yang disebutnya mengalami kenaikan sebesar Rp10 ribu.

“Mengapa bukan Bio Solar saja yang dinaikkan, malah Dexlite) yang dinaikkan.

Malah mereka yang melangsir diuntungkan,” katanya. 

Ia mengaku, perusahaan tempatnya bekerja mengharuskan angkutan yang ia kemudikan menggunakan BBM Dexlite.

Dengan nada kesal, ia kembali mempertanyakan mengapa bukan Bio Solar saja yang dinaikkan harganya.

“Karena pelangsiran itu yang menggunakan Bio(solar), yang diperjualbelikan itu Bio(solar),” tuturnya.

Walau mengalami kenaikan, Rahmadi mengaku tetap mengisi angkutannya dengan BBM Dexlite, namun tergantung dari perjalanan pengantaran barang.

Ia sendiri mengantar barang dari Banjarmasin ke Martapura via Jalan Trikora.

Sopir angkutan lainnya, juga keberatan dengan kenaikan harga BBM Dexlite.

Padahal biasanya, ia mengaku mampu mengisi BBM hingga 20 liter.

“Berat sudah membeli. Biasanya (harga) Rp250 ribu dapat 18-20 liter, (sekarang) 10 liter saja,” tambahnya. 

Selain BBM jenis Dexlite, informasi kenaikan harga BBM juga terjadi pada BBM jenis Pertamax Turbo, yang sebelumnya seharga Rp13.650 per liter naik menjadi Rp20.250 per liter.

Kemudian, BBM jenis Dex juga naik, dari yang semula Rp15.100 per liter menjadi Rp24.950 per liter.

Baca Juga :  Kebersamaan Gubernur H. Muhidin dan Pangdam XXII/ Tambun Bungai dalam Ramah Tamah Bersama Forkopimda Kalsel dan Kalteng

Sementara harga BBM jenis Pertamax tetap di harga Rp12.900 per liter.

Begitu juga dengan BBM jenis Pertalite dan Biosolar, yang per liternya masing-masing seharga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

[]Picu Respons

Kenaikan signifikan harga BBM memicu respons dari Komisi VI DPR RI yang meminta pemerintah melakukan langkah antisipatif agar dampak ekonomi tidak merembet ke kebutuhan dasar masyarakat.

Berdasarkan data dari situs Mypertamina, kenaikan terjadi pada jenis BBM dengan Research Octane Number (RON) tinggi.

Selaian Dexlite, hrga Pertamax Turbo (RON 98) melonjak dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) tetap di angka Rp12.300 per liter.

Untuk BBM jenis subsidi dan penugasan, yakni Pertalite dan Bio Sar, harganya tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Merespons kebijakan tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim menilai bahwa meski kenaikan tersebut merupakan dampak dari dinamika global, cara penyampaian kebijakan ini harus tetap diperhatikan agar tidak memicu kepanikan.

“Dalam situasi global dan tekanan terhadap sektor energi, kita memahami bahwa penyesuaian harga BBM bisa menjadi opsi yang pada akhirnya harus diambil pemerintah.

Namun, momentum dan komunikasi kebijakan ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kegelisahan publik,” ujar Rivqy kepada wartawan,Sabtu (18/4).

Ia mendorong pemerintah untuk lebih transparan mengenai kondisi sektor energi nasional, mulai dari ketersediaan stok hingga beban subsidi.

“Kami meminta pemerintah menjelaskan secara komprehensif bagaimana kondisi sebenarnya sektor BBM kita saat ini.

Ini penting agar masyarakat tidak hanya menerima kebijakan, tetapi juga memahami urgensinya,” lanjutnya.

Rivqy memberikan perhatian khusus pada dampak lanjutan dari kenaikan BBM RON tinggi ini.

Baca Juga :  Gelontorkan 5 Miliar Lengkapi Fasilitas Penunjang

Karena jenis BBM yang naik bukan merupakan jenis yang umum digunakan untuk distribusi logistik barang pokok, maka seharusnya tidak ada alasan bagi harga pangan untuk ikut naik.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan ini tidak merembet ke harga-harga kebutuhan pokok.

Stabilitas harga pangan dan barang penting lainnya harus tetap dijaga, sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus,” tegasnya.

Ia meminta, pemerintah dan BUMN energi untuk memastikan kesiapan strategi dalam menjaga pasokan energi ke depan agar tetap stabil dan tidak terjadi kelangkaan di tengah penyesuaian harga ini.

Rivqy berharap pemerintah terus mengedepankan komunikasi publik yang transparan dan tetap berpihak pada perlindungan masyarakat kecil di tengah dinamika ekonomi global yang menekan sektor energi nasional.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai Sabtu, 18 April 2026. Kenaikan ini berlaku untuk produk unggulan seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di berbagai wilayah Indonesia. (net/-K-2)

Iklan
Iklan