Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

“Andai Bapak HM Taufik Effendie Masih Ada..”

×

“Andai Bapak HM Taufik Effendie Masih Ada..”

Sebarkan artikel ini

Refleksi Dua Tahun Kepergian Pendiri Kalimantan Post

Taufik

GENAP dua tahun berlalu sejak Kalimantan Selatan ditinggalkan oleh salah satu putra terbaik Banua Kalsel.

Pada 31 Juli 2024, HM Taufik Effendie, figur yang dikenal sebagai pendiri Kalimantan Post, mantan ketua umum HIPMI Kalsel, mantan Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Kalsel dua periode.

Kalimantan Post

Ketua ARDIN Kalsel, eksponen 66, Mantan Ketua FKPPI Kalsel, pengusaha rotan dan tikar lampit, pengusaha kayu.

Sekaligus panutan masyarakat Banua berpulang ke rahmatullah pada usia yang menginjak 84 tahun.

Meski sekian lama waktu berlalu, bagi mereka yang dekat dengan Beliau, pernah merasakan secara langsung ketegasan sikap dan prinsipnya, atau bahkan yang secara langsung menyaksikan komitmennya membangun institusi media yang independen di tengah tekanan berbagai kepentingan.

Selang waktu dua tahun terasa belum cukup untuk melupakan sosoknya.

Pertanyaan reflektif pun muncul, “andaikan saja beliau masih berhadir di tengah kita, bagaimana kiranya beliau menyikapi kondisi Indonesia khususnya Kalimantan Selatan saat ini”?.

Redaksi Kalimantan Post mencoba menggali refleksi tersebut melalui perbincangan dengan Troy Satria, putra sulung almarhum yang kini melanjutkan estafet kepemimpinan di media yang didirikan ayahndanya.

Salah satu isu yang mengemuka dalam perbincangan tersebut adalah tentang pemadaman listrik bergilir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Kalsel hingga kini, termasuk wilayah Banjarmasin dan PalangkaRaya. Menurut Troy, ayahnya kemungkinan akan merespons dengan gelengan kepala, bukan karena ketidaktahuannya akan persoalan teknis kelistrikan, melainkan karena sebagai seorang pengusaha, ia sangat memahami bahwa aliran listrik merupakan denyut nadi bagi kelangsungan usaha rakyat kecil.

Pengalaman almarhum yang pernah menjabat Bendahara Golkar Kalsel, Ketua AMPI kalsel dan juga banyak jabatan bidang usaha yang digelutinya, membuatnya sangat emmahami bahwa lonjakan biaya operasional yang terpaksa ditambahkan akibat penggunaan genset dapat menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha mikro.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pemadaman tersebut dipicu oleh pemeliharaan bersamaan pada tiga pembangkit utama, yaitu PLTU SLK Gunung Mas di Kalimantan Tengah, PLTU Tanjung Power Indonesia di Tabalong, dan PLTU Asam-Asam, dengan target pemulihan yang dijadwalkan pada akhir Agustus 2026.

Andai almarhum masih hidup, Troy meyakini bahwa sang ayah akan melontarkan pertanyaan kritis dengan gaya khasnya yang lugas dan tegas : “Mengapa tiga pembangkit besar harus menjalani perbaikan dalam waktu yang bersamaan dan di mana letak perencanaan yang matang dalam hal ini.

Baca Juga :  Milad ke-22, Bank Kalsel Syariah Berikan Voucher Belanja bagi Nasabah Tabungan Haji

Karena persoalan tersebut bukan semata-mata persoalan teknis, melainkan persoalan tata kelola,dan tentu saja sebelum ini terjadi seharusnya menjadi tugas (pihak terkait) untuk mengkalkulasikan dan mengantisipasi serta menyiapkan solusi jauh-jauh hari”.

Filosofi hidup yang kerap diucapkan almarhum “Kamu disukai atau tidak disukai” mengajarkan bahwa kebenaran tidak perlu dikemas dengan cara yang manis hanya untuk memberikan ketenangan semu.

Meskipun Troy memperkirakan tentu saja ayahnya akan mengapresiasi langkah Gubernur Muhidin yang turun tangan mengimbau masyarakat untuk menghemat listrik hingga 40 persen, namun di sisi lain ia akan menekankan pentingnya perbaikan sistem secara fundamental, bukan hanya sekadar menyandarkan diri pada imbauan yang berisiko menjadikan kesabaran rakyat sebagai komoditas.

Di ranah lain, industri pers yang dirintis HM Taufik Effendi yang bermula dari Dinamika Berita hingga bertransformasi menjadi Kalimantan Post pada tahun 2000, kini menghadapi tantangan yang barangkali tidak pernah terbayangkan pada masanya.

Disrupsi teknologi, khususnya kehadiran kecerdasan buatan (AI), serta persaingan ketat antarmedia digital, telah mengubah lanskap jurnalistik secara fundamental.

Troy mengenang bahwa ayahnya adalah sosok pejuang senyap yang lebih mengandalkan kerja dan karya ketimbang retorika kosong.

Almarhum pernah menyatakan bahwa Kalimantan Post sejak awal didirikan sebagai media komunikasi dengan pengambil kebijakan.

Baginya, informasi bukanlah sekadar judul-judul sensasional, melainkan jembatan penghubung antara rakyat dan penguasa.

Namun kondisi pers hari ini berbeda, pelaku industri justru berhadapan dengan persoalan keberlanjutan ekonomi.

Dalam Deklarasi Pers 2026, insan pers secara kolektif mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan hak cipta atas karya jurnalistik serta meminta platform digital agar memberikan kompensasi yang adil atas penggunaan konten jurnalistik.

Troy meyakini bahwa andai ayahnya masih hidup, HM Taufik Effendie yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat PWI Kalsel, Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar akan memimpin diskusi mengenai persoalan ini dengan gaya tenang namun tajam.

Ia akan mendorong Kalimantan Post untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, sebagaimana yang kini dijalankan melalui tagline “Literasi Lintas Batas” yang mencakup liputan lintas negara dan upaya menjangkau generasi digital. Namun dengan tegas, almarhum akan mengingatkan untuk tidak kehilangan akar identitas: bahwa mereka adalah koran kebanggaan masyarakat Banua, dan ke mana pun langkah mereka melangkah, amanat utama mereka adalah menyuarakan aspirasi rakyat Kalsel.

Ketika topik perbincangan beralih ke pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Troy mengungkapkan bahwa isu ini kerap menjadi bahan diskusi hangat di lingkungan keluarganya. Ayahnya yang mengabdikan seluruh kariernya di Kalimantan tentu tidak asing dengan dinamika sosial dan budaya tanah ini.

Baca Juga :  Pemadaman Listrik Berulang, Warga Demo PLN

Proyek ambisius IKN Tahap II saat ini terus diakselerasi, dengan nilai investasi swasta yang telah mencapai sekitar Rp66,5 triliun, sementara sejumlah gedung strategis seperti gedung DPR dan Mahkamah Agung perlahan mulai berdiri.

Andai almarhum masih ada, Troy meyakini bahwa sang ayah akan menyambut proyek ini dengan senyuman, namun senyuman yang segera diikuti oleh pertanyaan kritis: “apakah pembangunan fisik ini benar-benar membawa perbaikan nasib bagi masyarakat sekitar, ataukah hanya sekadar pemindahan pusat birokrasi tanpa diiringi transformasi mendasar dalam wajah birokrasi itu sendiri?”.

HM Taufik Effendie, sebagai aktivis eksponen 66 yang turut menggulingkan rezim Orde Lama, mewariskan pemahaman bahwa pembangunan yang hanya berorientasi pada infrastruktur fisik tanpa pembangunan mental adalah sia-sia. Troy masih ingat bagaimana ayahnya pernah duduk berdampingan dengan Gubernur Sahbirin Noor dan menyampaikan nasihat tentang pentingnya pengabdian tulus kepada masyarakat, seraya mengingatkan bahwa suara-suara dari Banua harus senantiasa didengar.

Beliau tidak ingin IKN menjadikan Kalimantan sekadar latar belakang semata, padahal Kalimantan adalah jantung dari proyek peradaban tersebut.

Dua tahun bukanlah rentang yang lama, namun warisan HM Taufik Effendie terbukti tetap hidup. Kalimantan Post masih berdiri kokoh di tengah arus digitalisasi yang deras, sesuai dengan amanat yang pernah ditinggalkannya.

Putra-putrinya melanjutkan estafet kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab.

Namun yang terpenting, nilai-nilai fundamental yang ditanamkannya kejujuran, ketegasan prinsip, kemandirian, dan dedikasi kepada masyarakat terus menjadi suluh bagi generasi penerus.

Almarhum pernah berujar bahwa kekuatan pers tidak bergantung pada sosok individual, melainkan pada keberlanjutan institusi.

Hal yang sama berlaku bagi perjuangan membangun daerah dan bangsa, keberhasilan tidak diukur dari satu orang, melainkan dari kontinuitas nilai dan semangat perjuangan.

Andai HM Taufik Effendie masih ada, mungkin ia tidak akan banyak berkomentar.

Pria murah senyum ini akan terus bekerja dalam diam, sebagaimana yang selalu ia lakukan sepanjang hidupnya.

Baginya, kerja nyata jauh lebih bermakna daripada seribu kata-kata.

Ayahnda HM Taufik Effendie.

Dua tahun telah berlalu, namun jejak langkah dan teladanmu tetap abadi di bumi Banua yang engkau cintai. Al-Fatihah. (*)

Iklan
Iklan