Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
EkonomiHEADLINE

Ambapers 22 Tahun, Menjaga Alur Barito, Menopang Nadi Ekonomi Banua

×

Ambapers 22 Tahun, Menjaga Alur Barito, Menopang Nadi Ekonomi Banua

Sebarkan artikel ini
IMG 20260423 WA00761 scaled
Direktur Utama PT Ambapers, Zulfadli Gazali, saat memberikan sambutan. (Kalimantanpost.com/Opiq)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Di usia ke-22, PT Ambang Barito Persada (Ambapers) menegaskan kembali perannya sebagai penjaga alur pelayaran Sungai Barito yang menjadi urat nadi logistik Kalimantan Selatan.

Momentum hari jadi ini tidak sekadar perayaan, tetapi refleksi dua dekade lebih perjalanan perusahaan dalam memastikan alur sungai tetap aman, efisien, dan bernilai ekonomi.

Kalimantan Post

Direktur Utama Ambapers, Zulfadli Gazali, menyampaikan bahwa perusahaan ini lahir dari keyakinan sederhana: Sungai Barito tidak boleh mati. “Kami memulai tanpa kapal besar atau dermaga megah. Yang kami miliki hanya satu keyakinan, bahwa sungai ini adalah kompas peradaban Banua,” ujarnya.

Sebagai Badan Usaha Pelabuhan pemegang konsesi pengelolaan alur Ambang Sungai Barito dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Ambapers kini menjadi salah satu pengelola alur pelayaran komersial paling vital di Indonesia.

Perusahaan ini merupakan buah sinergi antara PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Bangun Banua Kalimantan Selatan.

Mengusung tema “Safe Channel Economic Growth”, Ambapers memaknai keamanan alur sungai bukan sekadar bebas dari kecelakaan, tetapi menjamin kepastian logistik, rasa aman nelayan, hingga stabilitas harga barang di pasar rakyat.

{{Turunkan Kecelakaan}}

Mantan Sekda Tanah Bumbu dan Sekda Banjarmasin Zulfadli mengungkap sejumlah capaian penting selama lima tahun terakhir:

Karena Angka kecelakaan kapal di alur Barito turun dari rata-rata 12 kasus per tahun menjadi 2 kasus per tahun, berkat penerapan sistem pemantauan kapal 24 jam.

Kemudian, Kapasitas angkut meningkat dari 60 juta ton per tahun di awal berdiri menjadi lebih dari 150 juta ton per tahun dan Kedalaman alur terjaga di minus 5 LWS, memungkinkan kapal hingga 5.000 DWT masuk ke Banjarmasin—melonjak jauh dari kemampuan 3.000 DWT dua dekade lalu.

Baca Juga :  JCH Banjarmasin Termuda 17 dan Tertua 85 Tahun

Kemudian Waktu tempuh kapal yang sebelumnya 6–8 jam karena bergantung pasang surut, kini jauh lebih efisien berkat pengerukan terukur dan penataan alur.

Menurutnya, dampak efisiensi ini berkontribusi langsung terhadap penurunan biaya logistik yang berimbas pada pengendalian inflasi daerah.

{{Program Barito Backload dan Sungai Hijau}}

Ambapers juga menggagas program Barito Backload bersama Pemerintah Provinsi Kalsel. Program ini mendorong kapal-kapal yang sebelumnya kembali kosong dari Jawa untuk membawa muatan balik dari Kalsel. Efisiensi logistik balik muatan disebut meningkat hingga 40 persen.

Di sisi lingkungan, Ambapers menjalankan program Sungai Hijau dengan memulihkan lebih dari 15 kilometer sempadan sungai dari permukiman liar dan melakukan restorasi ekosistem untuk menjamin keselamatan pelayaran jangka panjang.

Kontribusi ekonomi perusahaan pun tidak kecil. Pada 2025, Ambapers disebut berkontribusi langsung terhadap 2,3 persen PDRB Kalimantan Selatan.

Zulfadli juga menyinggung momentum 500 tahun Kota Banjarmasin pada 2026. Ia mengingatkan bahwa sejak abad ke-16, kawasan Bandarmasih telah menjadi bandar dagang penting Nusantara, tempat kapal dari Tiongkok, India, Arab, dan Portugis berlabuh melalui Sungai Barito.

“Sungai ini pernah menjadi jalan tol maritim. Ambapers hadir untuk memastikan kejayaan itu tidak hanya menjadi cerita sejarah,” ucapnya.

Rangkaian HUT ke-22 Ambapers dirangkai dengan Halal Bihalal, customer gathering, serta dialog bertema optimalisasi Kanal Barito sebagai poros logistik Indonesia Timur.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Sungai Barito bisa bangkit, tetapi apakah kita siap menjadikannya pusat logistik modern dalam lima tahun ke depan,” tutup Zulfadli. (Opq/KPO-1)

Iklan
Iklan