Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Menguatkan Gerakan Literasi dari Akar di Banjarmasin

×

Menguatkan Gerakan Literasi dari Akar di Banjarmasin

Sebarkan artikel ini
IMG 20260428 WA0043 e1777369421584

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Upaya memperkuat budaya literasi di tingkat akar di Kota Banjarmasin terus didorong melalui konsolidasi jejaring Bunda Literasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ruang kolaborasi.

Forum bertajuk “Sinergi Bunda Literasi untuk Kota Banjarmasin Maju Sejahtera” yang digelar di Ballroom Rattan Inn pada 23 April 2026 menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

Kalimantan Post

Kegiatan yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banjarmasin ini merupakan wujud komitmen memperkuat peran perempuan—khususnya Bunda Literasi—sebagai penggerak utama dalam menumbuhkan budaya gemar membaca di tengah masyarakat.

Sekitar 100 peserta terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari Bunda Literasi tingkat kecamatan dan kelurahan, serta aparatur sipil negara dan non-ASN di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Forum ini sekaligus menjadi ruang temu antara pemerintah daerah, TP.PKK, dan jejaring literasi untuk menyamakan arah gerakan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banjarmasin, Ikhsan Alhaque, dalam laporannya menegaskan bahwa konsolidasi tersebut diarahkan untuk memperkuat langkah bersama dalam mendorong peningkatan literasi masyarakat.

“Literasi tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kesamaan arah dan kolaborasi,” ujarnya.

Sejumlah narasumber turut memperkaya forum ini, di antaranya Ketua TP.PKK Kota Banjarmasin sekaligus Bunda Literasi Kota, Hj. Nelly Listriani, pegiat literasi Ira Setiana Khairunnisa, serta Ria Rosalinda, pengelola perpustakaan Kelurahan Kelayan Selatan.

Kehadiran mereka menghadirkan perspektif dari tingkat kebijakan hingga praktik di lapangan.
Wali Kota Banjarmasin, HM.YAMIN,HR yang hadir dan membuka acara secara langsung, menegaskan bahwa Bunda Literasi memegang peran strategis sebagai penggerak di tingkat komunitas. Ia mengingatkan agar gerakan yang dibangun tidak berhenti pada simbol dan seremoni, melainkan menjelma menjadi kerja nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat mewujudkan Banjarmasin Maju Sejahtera.

Baca Juga :  Baznas Hadirkan Z Corner, Dorong UMKM Naik Kelas di Banjarmasin

Menurutnya, penguatan literasi tidak cukup bertumpu pada program, tetapi menuntut keterlibatan aktif warga yang dimulai dari lingkungan terkecil—keluarga.
Namun, di balik dorongan tersebut, tantangan literasi di Banjarmasin masih cukup mendasar. Dari 52 kelurahan yang ada, belum seluruhnya memiliki perpustakaan kelurahan. Di sejumlah titik yang sudah tersedia, kondisi fasilitas masih belum sepenuhnya representatif, dengan koleksi buku yang terbatas dan belum mutakhir, serta minimnya tenaga pengelola.

Ketersediaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pun masih sangat terbatas—jumlahnya belum mencapai 10 unit di seluruh kota. Kondisi ini mencerminkan bahwa akses literasi berbasis komunitas belum merata dan masih menyisakan jarak dengan kebutuhan warga.

Memang, beberapa simpul literasi telah hadir, seperti perpustakaan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di kawasan Km 6, Perpustakaan Kota di Siring Tendean, Perpustakaan Rumah Alam di Sungai Andai, Kampung Buku, hingga perpustakaan khusus di kampus dan instansi.

Namun, daya jangkau fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan literasi masyarakat secara luas.
Pemerintah Kota Banjarmasin telah merespons kesenjangan ini.

Sejak akhir 2025, upaya perluasan akses dilakukan melalui penyediaan 10 perpustakaan digital dalam bentuk Titik Baca Digital (TBD) yang tersebar di berbagai titik layanan publik dan ruang publik, termasuk taman dan tempat ibadah. Inisiatif ini diharapkan menjadi alternatif akses di tengah keterbatasan ruang fisik, sekaligus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Di sela kegiatan, suasana forum makin mencair melalui momen perayaan ulang tahun Bunda Literasi Banjarmasin, Hj Nelly Listriani. Buket bunga dan tumpeng diserahkan oleh pegiat literasi sebagai bentuk apresiasi dan menghadirkan nuansa hangat di tengah agenda konsolidasi.

Lebih dari sekadar pertemuan, forum ini menegaskan bahwa literasi bukan sekadar program, melainkan kerja panjang yang menuntut kesinambungan, kedekatan dengan masyarakat, dan kesediaan merawatnya dari ruang-ruang kecil.

Baca Juga :  Wali Kota Ajak ASN dan Mahasiswa Gotong Royong Bersihkan Taman Edukasi Banjarmasin Maju Sejahtera

Akhirnya di situlah, gerakan literasi diuji—bukan pada gemanya di ruang pertemuan, tetapi pada daya hidupnya di tengah keseharian warga. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan