Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mualim Husin Naparin Ulama Komplit

×

Mualim Husin Naparin Ulama Komplit

Sebarkan artikel ini

oleh: Ahmad Barjie B
Pemerhati Sosial Keagamaan

MUALIM KH Husin Naparin Lc MA telah meninggalkan kita semua. Beliau tutup usia Rabu pagi sekitar pukul 08.30 tanggal 6 Mei 2026/18 Zulqaidah 1447 H di RS Sultan Agung Banjarbaru. Ribuan jemaaah menshalatkankan jenazahnya bersama dengan alm Dr H Hadariansyah MA yang juga meninggal di hari yang sama, menjelang shalat Zuhur di Masjid Jami Banjarmasin. Kemudian dishalatkan lagi jelang Ashar di Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, selanjutnya dimakamkan di kampung kelahirannya Kalahiyang Paringin Balangan. Ulama besar kelahiran 10 November 1947 tersebut meninggal di usia 79 tahun, setelah dalam dua tahun terakhir sering masuk keluar rumah sakit.

Kalimantan Post

Wafatnya para ulama dan manusia pada umumnya, merupakan peristiwa wajar dan rutin. Setiap saat kita mendengar, melihat, membaca dan menyaksikan orang meninggal. Kita pun pada saat yang sudah ditentukan Allah juga akan meninggalkan dunia yang fana ini. Jika ajal telah tiba, tidak bisa diundur dan dimajukan barang sesaat. Hanya iman yang benar dan amal saleh yang tulus, yang akan menemani kita di alam kubur dan alam akhirat akhirat nanti. Kubur sebagaimana dinyatakan dalam hadits, bisa merupakan raudhatan min riyadhil jannah (taman dari taman-taman sorga) dan hufratan min huffarin niran (jurang dari jurang-jurang neraka). Semoga kita semua nantinya meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diselamatkan di alam kubur dan di akhirat kelak dimasukkan Allah ke dalam sorga tanpa hisab, amin.

Lengkap

Wafatnya KH Husin Naparin perlu kita garisbawahi. Beliau adalah ulama yang komplit (lengkap), baik dilihat dari latar belakang pendidikan, pengalaman, organisasi, pendekatan dan penggunaan media dalam berdakwah. Boleh dikatakan KH Husin Naparin yang oleh Kesultanan Banjar ditunjuk sebagai Mufti Kesultanan Banjar dan diberi gelar Tuan Guru Besar (TGB) ini adalah ulama plus.

Di segi pendidikan, KH Husin Naparin menempuh jalan yang panjang. Setelah menamatkan SR dan PGA Swasta di kampungnya, dan Normal Islam (tingkat tsanawiyah dan aliyah) di Amuntai, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin di Amuntai. Selepas Sarjana Muda, ia melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo dan beroleh gelar Lc. Selanjutnya kuliah di Punjab University dan Islamic University Islamabad Pakistan, keduanya memberi gelar MA. Masih banyak pendidikan formal dan nonformal yang dikutinya, termasuk spesialisasi bahasa Arab dan kursus bahasa Inggris di lembaga internasional.

Baca Juga :  Mengembalikan Kesakralan Sungai

Pengalamannya hidup, belajar dan bekerja di luar negeri juga lama, sehingga pengalaman dan pergaulannya sangat luas. Dan soal haji dan umrah jangan ditanya lagi, beliau tidak dapat lagi menghitungnya karena saking banyak dan seringnya. Dengan dukungan pendidikan tinggi dan pengalaman yang banyak itu maka keilmuannya merupakan paduan antara teori dan praktik, antara das sein dan das sollen, antara kitab-kitab kuning dengan realitas kehidupan di lapangan dalam berbagai lini, di dalam dan luar negeri.

Selanjutnya, setelah pulang ke tanah air, ia aktif sekali berkhutbah, berceramah, mengasuh pengajian, mengisi acara mimbar-mimbar agama Islam di radio dan televisi, berdakwah dengan pendekatan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian. Kita masih ingat, dulu di RRI Banjarmasin pernah ada acara yang cukup favorit di bidang keagamaan, yaitu Konsultasi Hidup dan Kehidupan, yang diasuh oleh Prof KH Aswadie Syukur Lc. Setelah Pak Asywadie, acara itu diasuh oleh KH Husin Naparin. Sayang acara seperti itu tidak lagi dilaksanakan di RRI. Mungkin karena zamannya sudah berubah, dan sekarang orang mudah bertanya kepada Mr Google atau cara lainnya.

Dakwah perorangan tentu tidak seefektif dakwah organisasi. Maka KH Husin Naparin pun aktif berdakwah lewat organisasi dengan menjadi pengurus atau mengetuai langsung sejumlah organisasi dan lembaga dakwah atau penddiikan Islam. Beberapa organisasi Islam di daerah ini pernah beliau pimpin, di antaranya MUI Kota Banjarmasin, MUI Provinsi Kalimantan Selatan, Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan sejumlah masjid lainnya, Ketua STAI al-Jami Banjarmasin, Pembina Pesantren Hunafaa Banjarmasin, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, Pembina Yayasan PP Darul Hikmah (Cabang PP Gontor) Kotabaru, Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Banjarmasin, dan banyak lagi. Belum lagi ketika kuliah di luar negeri, beliau menjadi pengurus organisasi pelajar dan mahasiswa dan sejenisnya. Karena itu banyak sekali santri, mahasiswa, para junior, teman dan sahabat KH Husin yang pernah merasa dekat dengannya.

Betapapun luasnya jangkauan dakwah, tetap terbatas, jika hanya lewat dakwah lisan, organisasi, pendidikan dan sejenisnya. Mualim Husin Naparin juga melengkapi dakwahnya dengan menulis banyak artikel dan buku-buku, dan sebagian juga sudah tersebar melalui media online. Kebiasaan menulis ini sudah dilakukan dalam masa yang lama sekali. Waktu masih studi di luar ia pernah menulis di Majalah Kiblat dan Panji Masyarakat. Buku Bunga Rampai dari Timur Tengah Jilid I dan II adalah kumpulan tulisannya. Kemudian setelah pulang ke tanah air, lebih banyak lagi buku yang pernah disusunnya, baik kumpulan tulisan di koran, maupun yang sengaja disusun untuk buku. Bertahun-tahun lamanya beliau mengasuh rubrik keagamaan di Harian Banjarmasin Post dan koran lainnya. Jadi, kita masih bisa menikmati menikmati tulisannya.

Baca Juga :  Hari Pendidikan Nasional :Mewujudkan Kompetensi Peserta Didik, Antara Harapan dan Kenyataan

Menjadi ulama tidak harus lengkap atau komplit, dengan satu atau dua bidang ilmu yang dikuasai, atau mengajarkan kepada masyarakat hanya dengan pendekatan pengajian kaji duduk misalnya, itu sudah cukup. Kita tidak bisa memaksa orang di luar kompetensinya. Tapi kalau ada yang lebih, seperti Mualim Husin Naparin, tentu lebih baik lagi. Hanya saja jarang kita temui ulama yang berdakwah di segala lini seperti beliau.

Panjang sekali cerita tentang kiprah dakwah beliau. Ketika beliau berusia 70 tahun, Nur Hidayatullah santri Rakha Amuntai yang kini menjadi akademisi di UIN Walisongo Semarang telah menyusun biografi beliau berjudul “Secercah Kiprah Seorang Penumpang Kafilah Dakwah 70 Tahun Tuan Guru Husin Naparin (2017), dan diterbitkan oleh Siyarmedia Publishing Semarang bekerjasama dengan Yayasan PP Rakha Amuntai. Dan ketika beliau berusia 75 tahun, buku tersebut dicetak lagi sebagai edisi revisi dengan penulis (Ahmad Barjie B) sebagai editor, dan diterbitkan oleh Pustaka Agung Kesultanan Banjar. Bagi yang ingin menggali hikmah dan pengalaman hidup mualim secara lebih luas dan mendalam, dapat mempelajari buku tersebut.

Kini Mualim Husin Naparin sudah tiada. Tentu warisan paling berharga adalah para santri, para mahasiswa dan para juniornya di sejumlah organisasi, serta ilmu yang pernah diajarkannya. Semoga rekam jejak mualim Husin Naparin bisa diteruskan dan diwarisi, dan pesan-pesan dakwahnya tetap hidup di hati masyarakat dan kita semua. Semoga beliau diberi tempat terbaik dan penuh rahmah, dan kalau ada dosa-dosanya semoga diampuni oleh Allah SWT. Aamiin.

Iklan
Iklan