Banjarbaru, KP – Tim gemologi asal Australia dan Prancis meneliti potensi berlian serta warisan geologi kawasan Geopark Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), melalui kunjungan ke sejumlah geosite unggulan, termasuk Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, guna memperkuat riset dan promosi geowisata kelas dunia.
Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam Ainun Jariah saat dikonfirmasi di Banjar, Kamis (7/5, mengatakan peneliti meninjau langsung batu serpentinit atau batu kulit ular yang menjadi salah satu geosite penting Meratus dan berkaitan dengan proses pembentukan berlian Kalsel.
“Batu serpentinit sisik ular memiliki nilai ilmiah tinggi karena menjadi bukti sejarah terbentuknya Kalimantan dari dasar samudera purba yang membawa berbagai mineral bernilai ekonomi, seperti berlian dan batu ametis,” ujar Ainun.
Kunjungan diawali di kawasan Mandiangin melalui pemaparan mengenai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta pengelolaan kawasan berbasis konservasi di Tahura Sultan Adam, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video profil di Geo Theater.
Rombongan peneliti turut meninjau area konservasi anggrek dan lokasi habituasi satwa sebagai bagian pengenalan upaya pelestarian flora dan fauna endemik Kalimantan, yang dilakukan secara berkelanjutan guna menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung fungsi edukasi wisata alam.
Perjalanan dilanjutkan menuju situs geologi Batu Serpentinit Sisik Ular yang memiliki tekstur unik dan nilai akademik penting dalam kajian geologi dunia, kemudian ditutup dengan kunjungan ke kawasan Pesanggrahan Belanda di Pegunungan Meratus.
Wakil Ketua Badan Pengurus (BP) Geopark Meratus Ali Mustafa mengatakan kunjungan gemolog asal Australia dan Prancis tersebut juga bertujuan meneliti jenis, karakteristik, serta pewarnaan berlian yang dihasilkan pertambangan tradisional di Kalsel.
Menurut dia, penelitian turut mencakup identifikasi sistem pertambangan tradisional intan di lokasi Pumpung, Gabin, dan Karang Intan, guna memperkuat dokumentasi ilmiah terhadap praktik pertambangan rakyat yang berlangsung turun-temurun.
“Kunjungan tersebut menjadi bagian promosi internasional untuk mengangkat keunikan berlian Kalimantan sebagai salah satu warisan geologi terbaik dunia, sekaligus memperkuat posisi Geopark Meratus sebagai destinasi geowisata dan pusat penelitian geologi berkelas dunia,” ujar Mustafa.
Sementara itu, Badan Pengelola (BP) Geopark Meratus, Kalimantan Selatan menggandeng Jaringan Geopark Indonesia dan Asuransi Bumi Putera untuk memperkuat aspek keselamatan kawasan dalam pengelolaan kawasan yang berkelanjutan serta aman bagi masyarakat dan wisatawan.
Wakil Ketua Harian BP Geopark Meratus Ali Mustopa mengatakan penguatan sistem keselamatan menjadi bagian penting dalam tata kelola kawasan geopark seiring berkembangnya Geopark Meratus menjadi UNESCO Global Geopark sebagai destinasi wisata alam, edukasi, penelitian, dan konservasi di Kalsel.
Ia mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap pengunjung, masyarakat lokal, serta aktivitas wisata di kawasan geopark, termasuk melalui dukungan sektor asuransi yang dinilai dapat memperkuat mitigasi risiko dan kesadaran keselamatan.
“Kerja sama ini menjadi langkah awal membangun sinergi untuk mendukung pengelolaan kawasan geopark yang aman dan berkelanjutan,” kata Mustopa.
Biologist BP Geopark Meratus Ramadhan Jayusman mengatakan kawasan Geopark Meratus memiliki kekayaan biodiversitas dan bentang alam yang memerlukan pengelolaan berbasis mitigasi risiko, agar pengembangan kawasan tetap menjaga aspek perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Menurut dia, edukasi keselamatan dan mitigasi kebencanaan perlu menjadi perhatian bersama guna mendukung pengembangan geopark secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi risiko di kawasan wisata alam.
Pihak Jaringan Geopark Indonesia menyambut positif penjajakan kerja sama tersebut dan menilai kolaborasi pengelola geopark dengan sektor asuransi dapat menjadi model penguatan tata kelola geopark di Indonesia. (ant/K-2)















