BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Forum Komunikasi Penyelenggara Travel, Umrah dan Haji Khusus (FK PATUH) Kalimantan Selatan memastikan adanya penyesuaian harga paket perjalanan umrah menyusul meningkatnya biaya operasional penerbangan dan penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Ketua FK PATUH Kalsel, H. Saridi Salimin mengatakan, hasil kesepakatan bersama para penyelenggara travel umrah di Kalsel menetapkan kenaikan paket umrah berkisar Rp5 juta hingga Rp6,5 juta per jemaah.
“Ya, kami telah menyepakati untuk melakukan penyesuaian harga paket umrah dengan kenaikan kisaran Rp5 juta hingga Rp6,5 juta,” ujar Saridi saat pertemuan bersama anggota FK PATUH Kalsel di Hotel TreePark Banjarmasin, Sabtu (9/5/2026) malam.
Menurutnya, penyesuaian tersebut tidak dapat dihindari karena tingginya biaya operasional, terutama pada sektor transportasi udara.
“Jadi mau atau tidak mau, kita harus menyesuaikan biaya paket umrah yang telah kita jual pada saat ini,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, paket umrah yang sebelumnya dipasarkan di kisaran Rp30 juta kini mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp35 juta hingga Rp37,5 juta per jemaah.
Saridi menjelaskan, kenaikan harga dipicu meningkatnya harga avtur yang menjadi komponen utama operasional maskapai penerbangan.
“Biaya operasional pesawat sekitar 40 persen ditopang avtur. Jadi seluruh maskapai penerbangan telah menaikkan harga tiket pesawat,” tandasnya.
Selain faktor avtur, kenaikan kurs dolar terhadap rupiah juga berdampak pada biaya hotel dan akomodasi di Tanah Suci.
“Dulu dolar di kisaran Rp16.500, kini sudah mencapai Rp17.500. Ini tentu berpengaruh terhadap biaya hotel dan layanan lainnya,” imbuhnya.
Saridi mengungkapkan, pada Juni 2026 tercatat lebih dari 6.500 jemaah asal Kalimantan Selatan dijadwalkan berangkat umrah. Karena itu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi terkait penyesuaian harga kepada para calon jemaah maupun masyarakat.
“Hasil rekomendasi penyesuaian harga ini akan kami sampaikan kepada stakeholder sekaligus mengedukasi masyarakat terkait kondisi kenaikan biaya umrah saat ini,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat memahami situasi tersebut dan tetap memiliki semangat beribadah ke Tanah Suci.
“Jemaah umrah kami mohon dapat memahami kenaikan harga paket umrah yang baru ini. Penyesuaian harga paket umrah tidak mahal, yang penting kemauan beribadah,” ucapnya.
Sementara itu, Owner PT Hikmah Rizquna Persada, HM Taufan Aulia Akbar mengatakan, kenaikan biaya umrah merupakan fenomena global yang terjadi hampir di seluruh negara.
“Saat ini biaya paket naik kisaran Rp5 juta hingga Rp6,5 juta per jemaah. Tentu hal ini akan kami sampaikan kepada para jemaah,” tuturnya.
Ia menyebutkan, hingga Agustus 2026 jumlah jemaah yang terdaftar di perusahaannya mencapai sekitar 3.500 orang.
Ustadz muda tersebut optimistis para jemaah tetap dapat menerima penyesuaian harga tersebut dengan bijak.
“Jika niat dan tekad untuk umrah, jemaah pasti berangkat. Kenaikan itu juga masih murah jika diakumulasikan. Kita perlu bersyukur karena bukan ditutup umrah-nya. Mekkah dan Madinah masih buka. Tapi hanya kenaikan harga. Insya Allah aman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Owner PT Noor Thoibah, Muhammad Kholik. Ia mengatakan, penyesuaian harga dilakukan untuk menyesuaikan kenaikan avtur dan nilai tukar dolar.
“Kenaikan dan penyesuaian harga ini untuk menyesuaikan dengan kenaikan avtur dan mata uang dolar,” jelasnya.
Menurut Kholik, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada agen dan jemaah terkait perubahan harga paket umrah, dan sejauh ini mendapat respons positif.
“Alhamdulillah jemaah sangat memahami. Kami menaikkan paket standar hanya Rp3 juta per jemaah, sedangkan untuk paket promo masih kami pikirkan penyesuaian harganya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, saat ini tercatat sekitar 1.000 jemaah umrah terdaftar di PT Noor Thoibah. (Opq/KPO-1)















