BANJARMASIN, Kalimantanpost.com– Semarak peringatan Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin kembali menghadirkan ruang bagi para pengrajin untuk menunjukkan karya terbaik mereka.
Salah satunya melalui Grand Final Lomba Desain Motif Sasirangan (LDMS) Kota Banjarmasin Tahun 2026 kategori Best of The Best yang digelar di Ballroom Rattan Inn Banjarmasin, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Wali Kota Banjarmasin H. Muhammad Yamin HR, dan dihadiri Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj. Neli Listriani, Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin Noorsyahdi, dewan juri, serta para finalis dari berbagai rumah produksi sasirangan.
Wali Kota menegaskan, sasirangan bukan sekadar kain tradisional, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Banjar yang memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam.
Menurut Yamin, sasirangan juga mempunyai potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu mendorong pertumbuhan usaha lokal dan membuka peluang pasar yang lebih luas.
Ia menilai inovasi harus terus dilakukan agar sasirangan tetap relevan di tengah perkembangan zaman dan semakin diminati oleh generasi muda.
“Kalau ingin sasirangan terus berkembang, kita harus berani menciptakan motif baru tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi ciri khasnya,” ujar Yamin.
Ia pun mengapresiasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin yang secara konsisten menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan sasirangan sebagai warisan budaya khas Kalsel.
Yamin menyebut lomba desain motif seperti ini memiliki peran penting karena tidak hanya menilai keindahan visual, tetapi juga mendorong lahirnya gagasan kreatif yang dapat memperkaya identitas khas Kota Banjarmasin.
Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj. Neli Listriani mengaku bangga, karena LDMS telah berlangsung secara konsisten selama sembilan tahun dan terus melahirkan desain-desain baru yang berkualitas.
Menurutnya, kategori Best of The Best mempertemukan para juara dari tahun-tahun sebelumnya sehingga persaingan berlangsung sangat ketat dengan kualitas karya yang sama-sama luar biasa.
“Kami berharap sasirangan semakin dikenal, semakin dicintai masyarakat, dan terus menjadi kebanggaan daerah sekaligus membuka peluang usaha bagi para pengrajin,” ucap Neli.
Pada kategori Best of The Best pewarna alam, juara pertama diraih Najwa Nur Putri dari Sasirangan Premium Najwa. Ia mengaku bersyukur dapat meraih kemenangan di ajang bergengsi tersebut.
Najwa mengajak sesama pengrajin untuk terus berinovasi agar motif sasirangan semakin beragam dan mampu menarik perhatian masyarakat di luar daerah hingga mancanegara.
Sementara itu, juara pertama kategori Best of The Best pewarna kimia diraih Fahmianoor dari Fahmi Sasirangan. Ia menilai lomba ini menjadi langkah positif untuk memperkaya ragam motif sekaligus memperluas pasar sasirangan.
Menurut Fahmi, sasirangan kini tidak hanya dipandang sebagai kain tradisional, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang dapat diaplikasikan pada berbagai produk fesyen.
Untuk kategori Best of The Best pewarna kimia, juara kedua diraih Muslim Sugianto dari Muslim Sasirangan dan juara ketiga Nurdiansyah dari Unique Sasirangan. Sedangkan kategori Best of The Best pewarna alam menempatkan Sandi Agustinus dari Kantan Sasirangan sebagai juara kedua dan Ena Sahena dari Sahena Sasirangan sebagai juara ketiga.
Pada kategori reguler pewarna alam, juara pertama diraih Supianor dari Adyt Sasirangan. Posisi berikutnya ditempati Ahmad Hilman Jamil dari Kasasiur Banjar, Bustami dari Balakas Sasirangan, Rina Rahmawati dari Jasymira, Muhammad Rafi dari D’sujing Sasirangan Limited, dan Hasan Basri dari Hasan Sasirangan. (nug/KPO-4)















