Oleh : AHMAD SYAWQI
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 17 Mei selalu diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Di tahun 2026 ini, momentum tersebut terasa semakin reflektif karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan tema “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tema itu seolah menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus digital, bangsa ini sedang menghadapi tantangan besar: bagaimana menjaga budaya membaca di tengah lahirnya “GENERASI SCROLL”.
Istilah generasi scroll menggambarkan kebiasaan baru masyarakat digital, terutama anak muda, yang menghabiskan banyak waktu menggulir layar ponsel tanpa henti. Informasi dikonsumsi cepat, singkat, dan serba visual. Video berdurasi beberapa detik mampu menarik perhatian lebih besar dibanding halaman-halaman buku yang menuntut konsentrasi. Akibatnya, membaca perlahan berubah dari kebutuhan menjadi pilihan yang semakin jarang diambil.
Kita tidak sedang hidup di zaman kekurangan informasi. Justru sebaliknya, manusia modern dibanjiri informasi dari berbagai arah. Ironisnya, banjir informasi itu tidak selalu menghasilkan kedalaman pengetahuan. Banyak orang mengetahui banyak hal secara sepintas, tetapi kesulitan memahami persoalan secara utuh. Di sinilah paradoks generasi digital muncul: akses informasi semakin mudah, tetapi kemampuan refleksi justru semakin melemah.
Perpustakaan berada tepat di tengah perubahan besar itu. Dahulu perpustakaan dipandang sebagai pusat pengetahuan yang ramai dikunjungi pelajar dan mahasiswa. Kini, sebagian perpustakaan menghadapi tantangan baru: rak buku yang semakin sunyi di tengah layar yang semakin ramai. Kehadiran internet membuat banyak orang merasa tidak lagi membutuhkan perpustakaan. Semua dianggap tersedia di mesin pencari dan media sosial.
Padahal pengetahuan tidak sama dengan sekadar informasi. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi pengetahuan memerlukan proses membaca, memahami, dan merenungkan. Buku melatih manusia berpikir panjang, sedangkan budaya scroll sering kali mendorong manusia berpikir pendek. Dalam budaya digital yang serba cepat, perhatian manusia menjadi semakin singkat. Orang terbiasa berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa benar-benar menyelami makna.
Fenomena ini berpengaruh besar terhadap kualitas literasi masyarakat. Banyak pelajar mampu mengakses ribuan informasi, tetapi kesulitan membaca teks panjang dengan fokus. Tidak sedikit mahasiswa lebih terbiasa membaca ringkasan daripada buku utuh. Bahkan ruang diskusi publik kini sering dipenuhi komentar spontan yang miskin argumentasi. Kita hidup di era ketika opini lebih cepat lahir daripada pemahaman.
Di tengah situasi seperti itu, perpustakaan sesungguhnya menjadi semakin penting. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi ruang untuk melatih kedalaman berpikir. Ia adalah tempat di mana manusia belajar memperlambat diri dari budaya serba instan. Ketika dunia digital terus mendorong kecepatan, perpustakaan mengajarkan ketenangan dan refleksi.
Tema “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” menjadi sangat relevan karena martabat bangsa sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga kualitas intelektual masyarakatnya. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menciptakan teknologi canggih, tetapi juga bangsa yang memiliki budaya literasi kuat. Sebab tanpa kemampuan berpikir kritis, teknologi justru dapat mempercepat penyebaran disinformasi dan manipulasi.
Generasi scroll bukan generasi yang malas belajar. Mereka sebenarnya sangat aktif mengonsumsi informasi. Persoalannya terletak pada cara informasi itu dikonsumsi. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian manusia selama mungkin. Konten yang cepat, sensasional, dan emosional lebih mudah viral dibanding bacaan yang mendalam. Akibatnya, manusia perlahan terbiasa dengan pengetahuan instan.
Di sinilah perpustakaan perlu melakukan transformasi. Perpustakaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan konsep lama sebagai tempat sunyi penuh rak buku. Ia harus hadir sebagai ruang belajar yang lebih hidup, kreatif, dan relevan dengan generasi digital. Perpustakaan perlu menjadi pusat literasi modern yang mampu memadukan teknologi dengan budaya membaca.
Digitalisasi layanan, ruang diskusi kreatif, podcast literasi, klub membaca, hingga pemanfaatan media sosial dapat menjadi jalan untuk mendekatkan perpustakaan dengan generasi muda. Perpustakaan harus mampu berbicara dengan bahasa zaman tanpa kehilangan ruh utamanya sebagai penjaga pengetahuan.
Namun transformasi fisik saja tidak cukup. Tantangan terbesar justru membangun kembali kesadaran bahwa membaca adalah kebutuhan penting. Sebab dalam kehidupan modern hari ini, banyak orang merasa cukup hanya dengan melihat potongan informasi. Padahal kemampuan membaca mendalam sangat menentukan kualitas berpikir seseorang.
Membaca buku melatih kesabaran intelektual. Ia mengajarkan manusia memahami konteks, melihat hubungan antar gagasan, dan tidak mudah mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa. Kemampuan ini sangat penting di tengah maraknya hoaks, polarisasi, dan budaya debat dangkal di media sosial.
Lebih jauh lagi, budaya membaca berkaitan erat dengan masa depan demokrasi. Masyarakat yang gemar membaca cenderung lebih kritis dan tidak mudah diprovokasi. Sebaliknya, masyarakat yang terbiasa mengonsumsi informasi pendek tanpa verifikasi lebih rentan terhadap manipulasi opini. Karena itu, literasi sesungguhnya bukan hanya isu pendidikan, tetapi juga isu kebangsaan.
Momentum Hari Buku Nasional tahun ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Kita perlu bertanya secara jujur: apakah perpustakaan masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat digital? Ataukah ia perlahan hanya menjadi simbol tanpa pengunjung?
Jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada cara kita memandang buku dan pengetahuan. Jika membaca dianggap sekadar kewajiban sekolah, maka perpustakaan akan semakin ditinggalkan. Namun jika membaca dipahami sebagai fondasi pembentukan manusia dan peradaban, maka perpustakaan akan tetap relevan, bahkan semakin penting.
Pada akhirnya, perpustakaan bukan sekadar bangunan penuh buku. Ia adalah ruang peradaban. Di tengah generasi scroll yang hidup dalam arus informasi cepat, perpustakaan hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua hal harus dipahami dalam hitungan detik. Ada pengetahuan yang memerlukan waktu untuk direnungkan. Ada kebijaksanaan yang hanya lahir dari kesediaan membaca lebih dalam.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan tergesa-gesa ini, perpustakaan adalah salah satu tempat terakhir yang masih mengajarkan manusia untuk berpikir dengan tenang .













