Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Berhaji Jalan Kaki dan Bersepeda

×

Berhaji Jalan Kaki dan Bersepeda

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku ”Sejarah Urang Banjar Tulak Haji dan Gambaran Kota Suci”

Semua muslim dunia hakikatnya mendambakan berhaji ke tanah suci. Mereka menempuh perjalanan dengan berbagai cara dan sarana. Bahkan di belahan dunia lain, ada yang nekad berjalan kaki. Menurut Cyril Glasse (2002: 118), orang-orang yang nekad pergi ke tanah suci dengan berjalan kaki dulu umumnya berasal dari Afrika. Mereka menempuh perjalanan panjang dan lama, yaitu dua tahun berangkat dan dua tahun pulang. Sampai ketika Glasse menulis The Concise Encyclopaedia of Islam (1988), fenomena orang berhaji berjalan kaki masih banyak ditemui. Mereka itu selain berasal dari kalangan yang tidak mampu menempuh perjalanan dengan kapal laut, mobil dan pesawat udara, juga karena sengaja ingin merasakan dan mendapatkan pengalaman fisik, mental dan spiritual yang lebih sebagai bukti kecintaannya kepada Allah swt dan Rasulullah saw dengan menziarahi tanah suci.

Kalimantan Post

Belakangan, pergi ke tanah suci berjalan kaki juga dilakukan oleh Senad Hadzic, seorang muslim dari Bosnia Herzegovina, sebuah negara muslim di kawasan Balkan-Eropa yang di era 1990-an mengalami peperangan yang banyak memakan korban jiwa umat muslim. Di awal 2010 ia pergi berhaji ke tanah suci dengan berjalan kaki, menempuh jarak 5.700 km, melewati tujuh negara dan puluhan kota, melintasi dua benua, dua gurun pasir dan tiga lautan, menempuh perjalanan berat di bawah suhu ekstrem panas 50 derajat Celcius dan dingin minus 37 derajat Celcius. Untuk sampai ke tanah suci besar sekali tantangan, hambatan, ujian, caci-maki dan hujatan yang ia dapatkan, bahkan ia kadang sakit dan nyaris tewas di tengah jalan. Tidak hanya negara-negara nonmuslim yang ia lewati, juga negara-negara muslim, dan tantangan terberat yang ia hadapi justru di Arab Saudi sendiri di mana terdapat dua kota suci yang ia idamkan. Tetapi akhirnya Senad Hadzic selamat dan berhasil berhaji setelah menempuh perjalanan panjang selama 8,5 bulan (Nur, 2013).

Berhaji jalan kaki juga dilakoni oleh Adam Mohammad (52), pria asal Inggris. Ia mendorong gerobaknya yang bertuliskan Journey United Kingdom to Mecca. Gerobak itu berisi pakaian dan alat-alat keperluan sehari-hari. Ia memulai perjalanan sejak Agustus 2021 dan tiba di Makkah 26 Juli 2022, dengan lama masa tempuh semuanya 11 bulan 26 hari. Setiap hari ia mampu berjalan kaki tidak kurang dari 17,8 km, dengan jarak tempuh seluruhnya 6.500 km. Beberapa negara yang dilalui oleh Adam sejak dari Inggris adalah Belanda, Jerman, Chekoslovakia, Hongaria, Rumania, Bulgaria, Turki, Lebanon, Suriah, Yordania hingga Saudi Arabia. Adam tak kenal lelah dan selalu bersemangat, apalagi menurutnya di setiap kota dan negara yang dilaluinya, hampir selalu ada orang yang bersimpati padanya dan berkenan membantu perbekalannya, berupa fasilitas istirahat, bermalam, makanan, pakaian, juga uang.

Baca Juga :  Mei di Banua: Ketika Jalanan Mengingat, Rakyat Bertanya, dan Kalimantan Selatan Menatap Masa Depan

Indonesia Juga

Sama tapi tak serupa, berhaji dengan jalan kaki juga dilakukan oleh Muhammad Chamim Setiawan (28 tahun) seorang pemuda dari Pekalongan-Indonesia. Ia berangkat dari Pekalongan pada tanggal 28 Agustus 2016 dan tiba di Abu Dhabi Uni Emirat Arab 19 Mei 2017. Bekal yang ia bawa hanya berupa uang Rp 1 juta, ditambah air, madu, kaos, celana, sepatu, lampu sinter dan paspor. Visa ia urus sendiri di setiap negara yang dilewati. Di tas punggungnya ia kibarkan bendera Merah Putih berukuran kecil sebagai penanda bahwa ia berasal dari Indonesia. Karena keterbatasan bekal, ia lebih banyak berpuasa di siang hari perjalanan. Kalau malam hari ia mampu menempuh perjalanan sepanjang 50 km, sementara siang hari hanya 15 km, karena harus banyak istirahat sambil mengusir rasa lelah. Kecuali kalau menyeberang laut atau sungai, maka mau tak mau ia harus naik kapal laut atau kapal, selebihnya berjalan kaki, karena hal inilah yang menjadi tekadnya sedari awal. Mengingat banyak juga negeri-negeri nonmuslim yang ia lewati, maka tidak jarang ia juga beristirahat di kuil-kuil Hindu dan Budha, hal ini dialaminya saat melintasi negara Thailand, Myanmar dan India. Namun ia bersyukur, banyak orang yang bersimpati padanya, tidak hanya dari kalangan muslim, nonmuslim juga banyak membantunya seperti dari pemeluk agama Budha, Hindu dan Kristen, dengan menawarinya makanan-minuman, tempat istirahat dan bermalam di rumah mereka, memberi pakaian, bahkan uang. Di antara hambatan yang dialami oleh Chamim Setiawan, dua kali mengalami sakit, sehingga harus istirahat beberapa hari, dan setelah pulih meneruskan perjalanan kembali.

Tidak kurang pula semangatnya seorang pensiunan guru SMP dari Kota Bandung-Indonesia yang nekad berhaji dengan bersepeda. Adalah H Landung, tahun 2003 lalu berusaha melakukan perjalanan haji ke Haramain dengan naik sepeda. Dengan hanya berbekal uang Rp1.200.000 ia nekad memulai perjalanannya ke tanah suci. Dari Bandung, ia menyeberang ke Lampung, terus ke Jambi, Tambilahan, Batam, Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Pakistan, Iran, terus ke Abu Dhabi hingga akhirnya sampai di tanah suci, dengan lama perjalanan pergi 7 bulan lebih. Uangnya yang tak mencukupi tidak memungkinkannya menginap di hotel termurah sekalipun, hal ini memaksanya hanya istirahat dan bermalam di masjid-masjid. Begitu juga saat wukuf di Arafah ia tidak naik bus, melainkan tetap dengan sepeda kesayangannya. Menuju Madinah juga demikian. Sampai akhirnya usai sudah prosesi ibadah haji. Baru saat pulangnya, ada dermawan yang berkenan membantunya, sehingga ia pulang ke tanah air tidak lagi naik sepeda, tetapi dengan pesawat udara. H Landung tidak henti-hentinya bersyukur, menurutnya kalau Allah swt sudah memutuskan sesuatu maka akan terwujud, meskipun sebelumnya dirasa mustahil.

Baca Juga :  Dehumanisme Muslim Pelestina Oleh Zionis, Makin Mengkhawatirkan

Di pertengahan 2022, seorang pemuda Indonesia asal Magelang Jawa Tengah yaitu Muhammad Fauzan (28 tahun), berhasil mencapai Arab Saudi juga dengan naik sepeda. Ia berangkat dari tanah air menuju tanah suci pada bulan November 2021, dan setelah 7 bulan di perjalanan, pada 26 Mei 2022 tiba di Arab Saudi, yaitu di Kota Riyadh. Puluhan negara dilaluinya, sehingga harus beberapa kali mengganti spare part sepedanya. Di depan sepedanya ditulis ”From Magelang to Makkah, Rindu Ka’bah”. Sebagai salahseorang pemuda kader Muhammadiyah, kedatangan Fauzan disambut oleh Ketua Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah Arab Saudi, juga disambut oleh Dubes RI Abdul Aziz Ahmad dan Wakil RI di Jeddah Arief Hidayat. Kedatangannya ke Arab Saudi dengan hanya naik sepeda, membuat geger publik negeri tersebut, sehingga mengundang TV Saudi untuk melakukan wawancara dengannya. Wawancara dilakukan saat Fauzan berada di Jeddah pada 8 Juni 2022. Hebatnya, M Fauzan seorang pengelana yang mampu berbahasa Arab, sehingga ketika wawancara berlangsung ia menggunakan bahasa tersebut. Di antara motivasinya naik sepeda ke Saudi adalah karena kecintaannya kepada tanah suci sekaligus untuk berhaji. Kalau perjalanan haji dilakukan secara konvensional dengan mendaftar lewat pemerintah atau travel swasta, diperlukan waktu tunggu yang lama sekaligus biaya yang besar yang baginya dirasakan agak mustahil terwujud dalam waktu dekat. Dengan bersepeda, selain murah di segi biaya dan kaya pengalaman, di segi waktunya ternyata ia Insyaallah mampu berhaji setelah 7 bulan di perjalanan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Yunus Abdurrahman (41 tahun) asal Malang Jawa Timur. Ia sudah bercita-cita untuk pergi ke tanah suci sejak kelas III SD. Setelah dewasa, ia sudah empat kali membuat paspor. Akhirnya ia bertekad untuk pergi ke tanah suci dengan bersepeda. Jenis sepeda yang digunakannya merek Pasific. Di badan sepeda ia gantungkan beberapa tas dan kantong kecil, diantaranya berisi kompor mini, alat-alat dapur dan onderdil sepeda yang dipastikannya ada yang diganti di tengah jalan karena aus atau rusak. Di bagian belakang sepeda ia kibarkan bendera Merah Putih ukuran kecil. Saat berada di Jakarta, ia sempat dilepaskan oleh pengurus PBNU. Yunus minta dukungan doa agar cita-citanya untuk berhaji dengan naik sepeda ini terwujud. Jelasnya masih banyak lagi orang Indonesia yang nekad berhaji dengan berjalan kaki dan bersepeda. Yang diuraikan sepintas di atas hanya sebagian saja. Cuma setahu saya belum ada urang Banjar yang nekad berhaji dengan jalan kaki dan bersepeda. Barangkali urang Banjar lebih kaya. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan