Oleh : Hafizhaturrahmah
Duta Fetival Pelajar Luar Negeri (Felari) PPI Dunia 2024 & Peneliti Puskolegis UINSA
Perdagangan pasar spot pekan ini ditutup dengan sesak yang luar biasa. Berdasarkan data terkini per Kamis (4/6/2026), nilai tukar Rupiah resmi menjebol ambang psikologisnya, tersungkur hingga menyentuh angka Rp 18.051 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebuah rekor kejatuhan terdalam sepanjang sejarah. Saat Jakarta sibuk mengalkulasi rapor merah inflasi Mei yang merangkak ke angka 0,28 persen secara bulanan akibat lonjakan volatile food dan ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz, nun jauh di sana, ada sebuah entitas yang langsung mengalami hantaman eksistensial paling nyata: mahasiswa diaspora Indonesia.
Bagi mahasiswa rantaian global, kejatuhan kurs menjelma devaluasi martabat hidup yang terjadi secara instan, sebuah realitas yang melampaui sekadar angka di running text berita bisnis atau komoditas perdebatan para ekonom makro.
Dalam kacamata ekonomi, fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai double squeeze—hantaman ganda. Di satu sisi, daya beli (purchasing power) mereka merosot tajam karena jumlah nominal kiriman Rupiah dari orang tua menyusut drastis ketika dikonversi ke mata uang asing. Di sisi lain, mereka harus menghadapi inflasi domestik di negara tujuan akibat meroketnya harga komoditas global. Akibatnya, ruang gerak hidup menyempit secara brutal. Kamar-kamar flat sewaan disulap menjadi semakin padat demi membagi beban sewa, dan asupan nutrisi dikompromikan ke tingkat paling minimal demi sekadar bertahan hidup.
Tragedi kulturalnya dimulai ketika situasi ini memaksa para pemburu ilmu bermutasi menjadi pemburu cuandemi menutup defisit kurs. Terjadilah fenomena survival ekonomi massal. Di berbagai belahan dunia, mahasiswa Indonesia kini terpaksa masuk ke dalam ekosistem gig economy. Di negara-negara Barat, mereka menghabiskan waktu paruh waktu menjadi buruh cuci piring di dapur restoran, kurir makanan digital, hingga pembersih hotel di sela-sela jam kuliah. Sementara di wilayah lain, waktu mereka tersedot untuk mengurus bisnis jastip (jasa titip), katering dadakan, hingga menjadi pemandu wisata informal.
Ada resiliensi (daya tahan) yang luar biasa di sana, benar. Namun, ada harga akademik yang teramat mahal yang harus digadaikan.
Secara sosiologis dan psikologis, konsentrasi belajar yang membutuhkan ketenangan berpikir langsung runtuh akibat kelelahan fisik dan kecemasan finansial yang akut. Alih-alih menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membedah inovasi riset, energi mereka habis untuk menghitung upah per jam dan melayani pelanggan. Waktu esensial untuk menyerap pengetahuan global terdistorpsi oleh rutinitas kerja kasar demi memastikan dapur esok hari tetap mengepul.
Kondisi ini memicu paradoks yang sangat ironis jika kita sandingkan dengan diskursus pembangunan nasional. Belum lama ini, mantan Direktur Jenderal Imigrasi Silmy Karim menulis sebuah esai bertajuk “Diaspora dalam Arsitektur Ketahanan dan Diplomasi Ekonomi” (Kompas, 8/4/2026). Beliau menawarkan konsep The Networked State of Indonesia—sebuah model di mana diaspora ditempatkan sebagai simpul strategis dalam teori complex interdependence (saling ketergantungan kompleks) untuk memperkuat ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, bagaimana kita bisa mengharapkan mahasiswa diaspora menjadi “aktor diplomasi ekonomi” yang tangguh jika jaring pengaman finansial mereka sendiri rontok dihantam kurs? Bagaimana mereka bisa menjadi simpul strategis jika di tanah rantau mereka harus bertahan hidup dengan status kelas pekerja yang rentan dan kelelahan secara intelektual?
Membiarkan mahasiswa diaspora bertarung sendirian melawan turbulensi ekonomi global tanpa adanya skema mitigasi atau beasiswa yang adaptif terhadap fluktuasi mata uang melambangkan bentuk pengabaian aset bangsa. Mengirim anak-anak muda terbaik ke luar negeri tanpa proteksi ekonomi yang matang sama saja dengan mengirim serdadu ke medan laga tanpa amunisi—mereka tidak akan pulang membawa kemenangan diplomasi, melainkan sekadar bertahan agar tidak gugur di parit-parit peperangan finansial.











