Oleh : Eka Triyatna Shanty, SE,MH,CIEM
Fellowship Reseacher Imam Bukhari International Scientific Research Center Samarkand Uzbekistan
Setiap tahun, puluhan ribu peziarah dari Indonesia berbondong-bondong menuju Samarkand, Uzbekistan. Bagi mereka, perjalanan panjang itu bukan sekadar wisata religi biasa, melainkan upaya untuk mendekatkan diri kepada salah satu ulama hadits paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam, Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Karya monumentalnya, Shahih al-Bukhari, telah lama menempati posisi kedua setelah Al-Qur’an dalam hierarki otoritas keagamaan umat Islam di berbagai belahan dunia. Namun, di balik kemegahan makam yang kini mampu menampung 65.000 peziarah setiap harinya, tersimpan fakta menarik yang jarang diketahui publik: situs suci ini nyaris hilang ditelan bumi dan terbengkalai puluhan tahun sebelum akhirnya dipugar kembali. Lebih mencengangkan lagi, kebangkitan kompleks pemakaman tersebut tidak terlepas dari pengaruh presiden Indonesia pertama, Soekarno.
Kisah ini mungkin merupakan salah satu episode diplomasi Indonesia yang paling menarik, namun sekaligus paling terlupakan dalam narasi sejarah resmi. Ia bercerita tentang bagaimana seorang pemimpin dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, di tengah ketegangan Perang Dingin yang memecah belah dunia, berhasil memaksa negara adidaya komunis untuk mengakui keberadaan, menemukan kembali dan memulihkan martabat makam seorang ulama yang selama puluhan tahun sengaja dilupakan oleh kebijakan ateisme Soviet. Yang tak kalah mengagumkan, proses pemugaran itu sendiri terjadi berkat desakan Soekarno yang kemudian menjadikannya sebagai kepala negara pertama yang berziarah ke makam Imam Bukhari. Di luar dimensi diplomatiknya, kisah ini juga mengungkap bagaimana kecintaan Soekarno terhadap buku Sahih Bukhari yang telah ia tekuni sejak masa pengasingan di era kolonialisme Belanda di Ende, pesisir selatan pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Untuk memahami mengapa Soekarno begitu gigih memperjuangkan pemugaran makam Imam Bukhari, kita perlu menelusuri perjalanan spiritualnya jauh sebelum ia menduduki kursi kepresidenan. Soekarno tidak dibesarkan dalam lingkungan pendidikan agama yang formal. Sang ayah, Raden Sukemi, lebih akrab dengan pemikiran teosofis, sementara ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang penganut Hindu Bali yang baru memeluk Islam setelah menikah. Namun demikian, ketika berusia lima belas tahun dan tinggal di kediaman HOS Tjokroaminoto di Surabaya, Soekarno mulai mengenal Islam secara lebih terstruktur melalui pengajian rutin yang diselenggarakan di rumah pimpinan Sarekat Islam tersebut. Di forum itulah ia pertama kali mendengarkan ceramah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang kelak diakuinya sebagai salah satu tokoh yang paling memengaruhi cara pandangnya terhadap agama dan kehidupan berbangsa.
Babak terpenting dalam pembentukan pemikiran keislaman Soekarno terjadi selama masa pembuangannya di Ende, Flores, antara tahun 1934 hingga 1938. Di tengah kesendirian dan keterasingan di pulau terpencil itu, Soekarno memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca dan merenung secara intensif. Ia mulai berkorespondensi dengan A. Hassan, salah satu tokoh utama Persatuan Islam (Persis), sebuah organisasi reformis yang mendorong umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber otentik ajaran Islam. Surat-menyurat mereka, yang kemudian dibukukan dengan judul Surat-Surat Islam dari Endeh, menjadi saksi bisu betapa seriusnya Soekarno mendalami sumber-sumber pokok ajaran Islam, jauh dari kesan dangkal yang kerap dilekatkan padanya.
Yang paling menarik dari korespondensi tersebut adalah sepucuk surat Soekarno tertanggal 25 Januari 1935. Dalam surat itu, dengan terus terang ia menyatakan: “Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim, karena di sanalah hadits-hadits yang disebut ‘sahih’ dikumpulkan.” Bahkan lebih jauh, ia merujuk pada kritik seorang orientalis Inggris yang berpendapat bahwa hadis-hadis lemah telah menyebabkan kemunduran umat Islam. Alih-alih menolak mentah-mentah kritik tersebut, Soekarno justru menjadikannya sebagai titik pijak untuk merenungkan mengapa peradaban Islam mengalami stagnasi. Sikap kritis namun tetap menghormati tradisi keilmuan ini menunjukkan bahwa ketertarikannya pada Imam Bukhari bukanlah manuver politik sesaat, melainkan buah dari pergulatan intelektual yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Pada tahun 1941, Soekarno mengambil langkah spiritual yang lebih radikal. Ia menjalani khalwat atau menyepi diri selama empat puluh hari, di makam Maulana Ishaq al-Tabarqi seorang tokoh yang dianggapnya sebagai leluhur dan termasuk dalam jajaran Wali Songodi kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Menurut kesaksian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, khalwat ini merupakan persiapan batin Soekarno untuk memikul tanggung jawab kepemimpinan nasional. Dengan beri’tikaf di makam seorang wali, Soekarno secara simbolis menempatkan dirinya sebagai pewaris otoritas spiritual para wali. Fakta bahwa Maulana Ishaq berasal dari Samarkand, wilayah yang sama dengan tempat kelahiran Imam Bukhari, mengindikasikan bahwa benih-benih keterhubungan Soekarno dengan Asia Tengah telah tertanam jauh sebelum ia menjadi presiden.
Hubungan Soekarno dengan dunia pesantren tidak berhenti pada khalwat di Tebuireng. Ia memiliki ikatan emosional dan intelektual yang erat dengan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU). KH Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi tersebut, bahkan secara terang-terangan menunjuk Soekarno sebagai calon presiden ketika pihak Jepang menanyakan sosok yang layak memimpin Indonesia merdeka. Kyai Hasyim menolak tawaran menjadi presiden untuk dirinya sendiri dan bersikeras menunjuk “Insinyur Soekarno.” Keputusan ini bukan sekadar sikap politik, melainkan pertimbangan strategis yang didasarkan keyakinan bahwa Soekarno adalah sosok pemersatu yang mampu merangkul semua golongan, baik nasionalis sekuler maupun kalangan agamis.
Hubungan yang lebih erat lagi terjalin antara Soekarno dan KH Wahab Hasbullah, yang oleh banyak kalangan disebut sebagai “guru politik” Bung Karno. Dalam berbagai situasi sulit, terutama ketika menghadapi krisis politik pasca-kemerdekaan, Soekarno selalu meminta nasihat Kyai Wahab. Ketika terjadi perpecahan di kalangan elit politik, Kyai Wahab menyarankan agar semua pihak saling memaafkan dalam sebuah pertemuan yang kelak melahirkan tradisi Halal bi Halal. Di bidang diplomasi, Kyai Wahab memberikan nasihat yang menentukan dalam pembebasan Irian Barat. Ketika ditanya tentang status hukum pendudukan Belanda, Kyai Wahab menjawab bahwa Belanda telah melakukan ghasab atau merampas hak milik orang lain. Setelah jalur diplomasi gagal, Kyai Wahab mengeluarkan fatwa “Akhadzahu qahran” (ambil dengan paksa). Dari sinilah lahir “Diplomasi Cancut Tali Wondo,” di mana Soekarno menggabungkan kekuatan diplomasi dengan persiapan militer dan doa qunut nazilah yang digerakkan oleh warga NU.
Kisah pemugaran makam Imam Bukhari sendiri dimulai dari undangan yang diajukan oleh pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, kepada Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan pada tahun 1956. Saat itu, Soekarno berada di puncak pengaruhnya pasca-Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun sebelumnya. Namun, alih-alih menerima undangan dengan tangan terbuka, ia mengajukan syarat yang membuat para birokrat Kremlin kebingungan: ia hanya bersedia datang jika pemerintah Soviet bisa menemukan dan memperbaiki makam Imam Bukhari yang telah lama hilang dan terbengkalai di wilayah Uni Sovyet (saat itu belum ada Uzbekistan).
Bagi Khrushchev, yang saat itu tengah berusaha keras menarik simpati negara-negara non-blok, permintaan Soekarno tersebut adalah dilema yang pelik. Menolak berarti kehilangan pengaruh di Asia Tenggara; menerima berarti harus mengakui dan memulihkan situs keagamaan yang selama puluhan tahun sengaja diabaikan dan dialihfungsikan oleh kebijakan ateisme negara.
Kondisi makam Imam Bukhari sebelum intervensi Soekarno sungguh memprihatinkan. Selama era Soviet, situs suci ini diperlakukan tidak ubahnya bangunan tak berharga. Sejarawan Eren Tasar dalam bukunya Soviet and Muslim (2017) mencatat bahwa makam Imam Bukhari di Khartang digunakan sebagai gudang penyimpanan oleh pertanian kolektif setempat, bahkan tanpa nisan yang layak. Inilah yang kemudian menjadi “buah simalakama” bagi Khrushchev. Tekanan diplomatik Soekarno memicu respons birokrasi yang panik di Moskow dan Tashkent. Sharof Rashidov, pemimpin RSS Uzbekistan, menjadi motor penggerak untuk meyakinkan Moskow. Dalam suratnya, Rashidov memperingatkan bahwa kegagalan memenuhi permintaan Soekarno dapat menyebabkan “runtuhnya hubungan diplomatik” dengan negara-negara Muslim kaya minyak seperti Indonesia dan Lebanon. Lebih lanjut, ia berargumen bahwa pemugaran makam ini dapat dijadikan “etalase diplomasi” untuk menunjukkan toleransi Soviet kepada dunia Islam. Akhirnya, pada 23 Maret 1956, pemerintah Uzbekistan mengeluarkan keputusan yang mengizinkan pembukaan kembali masjid di tiga belas tempat suci, termasuk makam Imam Bukhari. Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pemugaran makam tersebut, dan Soekarno tercatat sebagai pemimpin negara pertama yang meminta pemugaran sekaligus berziarah ke makam tersebut.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah: apa hubungan semua ini dengan Pancasila? Dalam berbagai peringatan dan pertunjukan kolaborasi Indonesia-Uzbekistan belakangan ini, muncul narasi bahwa Soekarno “menggali” Pancasila dari hadits-hadits yang termuat dalam Shahih al-Bukhari. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dalam sebuah pertunjukan teater di Gedung Kesenian Jakarta pada Juni 2025, menyatakan bahwa ketika menyusun Pancasila, Soekarno memperoleh banyak ilham dari hadits Imam Bukhari, termasuk menemukan kata-kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan keadilan. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, juga menegaskan bahwa selama pengasingan di Ende, Soekarno merenung dalam-dalam dan membaca hadits Imam Bukhari, yang kemudian melahirkan ide-ide besar seperti Ketuhanan Yang Maha Esa.
Jika kita cermati lebih saksama, kelima sila Pancasila memang memiliki resonansi yang kuat dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sejalan dengan hadits riwayat Abu Musa bahwa perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan yang tidak seperti orang hidup dan orang mati. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tercermin dalam hadits tentang memberi makan orang lapar, menjenguk orang sakit, dan ajaran bahwa tidaklah beriman seseorang yang kenyang perutnya sementara tetangganya kelaparan. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, sejalan dengan hadits yang memperingatkan bahwa siapa yang memisahkan diri dari jamaah meski sejengkal, lalu mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, terinspirasi dari ajaran bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mencerminkan hadits bahwa pemimpin yang adil adalah yang pertama dinaungi Allah pada hari kiamat.
Soekarno memang tidak pernah mengklaim bahwa Pancasila merupakan salinan langsung dari hadits, namun ia memahami bahwa nilai-nilai keadilan, persatuan, dan kemanusiaan yang ia rumuskan memiliki akar yang dalam dalam tradisi Islam yang otentik. Dalam pidatonya di hadapan BPUPKI pada 1 Juni 1945, ia menegaskan bahwa bukan saja bangsa Indonesia berketuhanan, tetapi tiap-tiap orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan menurut cara sendiri. Ini adalah interpretasi kreatif yang memungkinkan Pancasila menjadi payung bagi keberagaman keyakinan di Indonesia.












