Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Setahun Lisa Halaby Memimpin Banjarbaru: Menjaga Asa, Menuntaskan Pekerjaan Rumah Kota Idaman

×

Setahun Lisa Halaby Memimpin Banjarbaru: Menjaga Asa, Menuntaskan Pekerjaan Rumah Kota Idaman

Sebarkan artikel ini
IMG 20260623 114618 e1782186466808
Ir. H. Sukhrowardi, MAP

Oleh : Ir. H. Sukhrowardi, MAP
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Genap satu tahun Erna Lisa Halaby memimpin Kota Banjarbaru sebagai wali kota. Dalam hitungan kalender pemerintahan, satu tahun mungkin masih tergolong masa awal. Namun dalam perspektif publik, satu tahun merupakan periode yang cukup untuk mulai menilai arah kebijakan, gaya kepemimpinan, serta sejauh mana janji-janji politik mulai diwujudkan menjadi program yang dirasakan masyarakat.
Momentum setahun kepemimpinan ini menjadi kesempatan yang tepat untuk melihat Banjarbaru secara lebih utuh. Bukan sekadar menyoroti capaian yang telah diraih, tetapi juga mengukur berbagai tantangan yang masih menghadang di depan. Sebab pembangunan sebuah kota tidak pernah selesai dalam satu malam, dan keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penghargaan yang diterima, tetapi oleh seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Kalimantan Post


Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru memikul beban dan harapan yang tidak ringan. Status tersebut membuat Banjarbaru menjadi wajah provinsi, pusat pelayanan pemerintahan, sekaligus magnet pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi.

Konsekuensinya, tuntutan terhadap pemerintah kota jauh lebih besar dibandingkan daerah lain. Masyarakat menginginkan pelayanan yang cepat, infrastruktur yang memadai, lingkungan yang nyaman, dan kesempatan ekonomi yang semakin terbuka.


Di tengah ekspektasi tersebut, Lisa Halaby memulai kepemimpinannya dengan pendekatan yang cukup jelas, yakni memperkuat pelayanan publik dan meningkatkan kualitas birokrasi. Pilihan ini dapat dipahami karena pelayanan publik merupakan wajah pertama yang dirasakan masyarakat ketika berinteraksi dengan pemerintah. Sehebat apa pun program pembangunan yang dirancang, apabila masyarakat masih kesulitan mengakses layanan dasar, maka kepercayaan publik akan sulit dibangun.


Dalam satu tahun terakhir, komitmen itu mulai menunjukkan hasil. Predikat Zona Hijau Ombudsman dengan kategori kualitas tinggi menjadi salah satu indikator yang cukup penting. Penghargaan tersebut bukan hanya simbol administratif, melainkan pengakuan bahwa sistem pelayanan publik di Banjarbaru berjalan sesuai standar yang diharapkan. Tidak adanya temuan maladministrasi menunjukkan adanya upaya serius dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan dan kualitas layanan kepada masyarakat.


Meski demikian, tantangan ke depan tentu tidak berhenti pada mempertahankan penghargaan tersebut. Justru tantangan yang lebih besar adalah memastikan kualitas pelayanan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh warga, mulai dari pusat kota hingga kawasan pinggiran. Sebab ukuran keberhasilan pelayanan publik sesungguhnya tidak terletak pada sertifikat yang dipajang di dinding kantor pemerintahan, melainkan pada pengalaman warga ketika mengurus berbagai kebutuhan administrasi sehari-hari.


Di bidang pendidikan, capaian Banjarbaru juga layak mendapatkan apresiasi. Penghargaan terkait Rata-Rata Lama Sekolah dan Standar Pelayanan Minimum Pendidikan menunjukkan bahwa sektor pendidikan masih menjadi salah satu kekuatan utama kota ini. Di era persaingan yang semakin ketat, investasi terbesar sebuah daerah bukan lagi hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia.

Baca Juga :  KEADILAN WAJIB DITEGAKKAN


Keberhasilan menjaga kualitas pendidikan memiliki dampak jangka panjang yang sangat penting. Kota yang memiliki sumber daya manusia unggul akan lebih mudah menarik investasi, menciptakan inovasi, dan menghadapi perubahan zaman. Karena itu, capaian pendidikan yang diraih selama setahun terakhir seharusnya tidak dipandang sebagai garis akhir, melainkan sebagai fondasi untuk melahirkan generasi Banjarbaru yang lebih siap menghadapi masa depan.


Pemerintahan Lisa Halaby juga menunjukkan upaya untuk merealisasikan berbagai program prioritas yang sebelumnya dijanjikan kepada masyarakat. Normalisasi sungai, penanganan rumah tidak layak huni, penataan kabel utilitas, penguatan UMKM, hingga bantuan pendidikan merupakan program yang menyentuh langsung kebutuhan warga.


Langkah tersebut penting karena masyarakat pada dasarnya tidak hanya ingin mendengar janji pembangunan, tetapi ingin melihat bukti nyata di lapangan. Kepercayaan publik akan tumbuh ketika masyarakat dapat melihat bahwa apa yang disampaikan selama masa kampanye benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang konkret.


Di sisi lain, berbagai indikator pembangunan yang menunjukkan tren positif juga memberikan optimisme tersendiri. Meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia, membaiknya pertumbuhan ekonomi, menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran, serta berkurangnya prevalensi stunting menjadi kabar baik bagi Banjarbaru. Walaupun capaian tersebut merupakan hasil dari proses pembangunan yang berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak, keberadaan kepemimpinan yang mampu menjaga ritme pembangunan tetap menjadi faktor penting.
Namun seperti halnya kota-kota berkembang lainnya, Banjarbaru masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang belum selesai. Persoalan banjir menjadi salah satu tantangan yang paling sering dikeluhkan masyarakat. Setiap musim hujan tiba, berbagai titik masih menghadapi genangan yang mengganggu aktivitas warga. Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan drainase dan pengelolaan tata air masih membutuhkan perhatian yang lebih serius.


Masyarakat tentu memahami bahwa persoalan banjir tidak dapat diselesaikan hanya dalam hitungan bulan. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang, anggaran yang besar, serta koordinasi lintas sektor yang kuat. Akan tetapi, masyarakat juga berharap adanya progres yang dapat dirasakan dari tahun ke tahun. Karena bagi warga yang setiap musim hujan harus menghadapi genangan di lingkungan tempat tinggalnya, banjir bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan kualitas hidup.
Tantangan lainnya adalah pembangunan infrastruktur kota yang semakin kompleks.

Sebagai ibu kota provinsi yang terus berkembang, Banjarbaru menghadapi peningkatan kebutuhan akan jalan, kawasan permukiman, transportasi, serta berbagai fasilitas publik lainnya. Pertumbuhan kota yang tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang berpotensi menimbulkan berbagai persoalan baru di masa depan.

Baca Juga :  Membaca Adalah Hijrah Yang Tak Pernah Usai


Dalam konteks ini, kepemimpinan Lisa Halaby dituntut tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga mempersiapkan Banjarbaru untuk kebutuhan sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang. Kota yang baik adalah kota yang mampu tumbuh tanpa kehilangan kualitas hidup warganya.


Persoalan lingkungan hidup juga menjadi isu yang tidak boleh diabaikan. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Banjarbaru memiliki identitas sebagai kota yang relatif hijau dan nyaman. Karakter tersebut harus tetap dipertahankan di tengah derasnya pembangunan.


Ketersediaan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah yang efektif, konservasi kawasan resapan air, serta pengendalian dampak lingkungan dari pembangunan menjadi agenda yang semakin penting. Sebab kota yang maju bukan hanya kota yang dipenuhi gedung dan jalan baru, tetapi kota yang tetap memberikan ruang hidup yang sehat bagi masyarakatnya.


Sementara itu, sektor ekonomi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Meskipun berbagai indikator menunjukkan perkembangan positif, pemerintah daerah tetap harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Pertumbuhan yang berkualitas adalah pertumbuhan yang mampu membuka lapangan pekerjaan, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.


Di sinilah pentingnya kebijakan yang berpihak pada ekonomi kerakyatan. UMKM perlu terus diperkuat karena sektor inilah yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Ketika UMKM tumbuh, maka peluang kerja akan terbuka lebih luas dan roda ekonomi masyarakat akan bergerak lebih cepat.


Pada akhirnya, satu tahun kepemimpinan Erna Lisa Halaby memberikan kesan bahwa Banjarbaru sedang berada dalam fase konsolidasi menuju arah yang lebih baik. Berbagai capaian yang berhasil diraih menunjukkan adanya keseriusan dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Namun pada saat yang sama, berbagai tantangan yang masih ada mengingatkan bahwa perjalanan pembangunan kota ini masih panjang.


Masyarakat Banjarbaru tentu berharap tahun-tahun berikutnya menjadi periode percepatan pembangunan, bukan sekadar mempertahankan capaian yang telah ada. Sebab harapan terbesar warga sesungguhnya sederhana: mereka ingin merasakan kehidupan yang lebih nyaman, pelayanan yang lebih mudah, lingkungan yang lebih baik, serta peluang ekonomi yang semakin terbuka.


Setahun pertama telah memberikan fondasi dan arah. Kini saatnya pembuktian yang lebih besar dilakukan. Karena sejarah kepemimpinan tidak akan diingat dari bagaimana seseorang memulai jabatannya, melainkan dari seberapa besar perubahan yang berhasil ditinggalkan untuk masyarakatnya. Dan bagi Banjarbaru, perjalanan menuju kota yang semakin maju, modern, dan berkelanjutan masih terus berlanjut.

Iklan
Iklan