Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Ketika Kader PKK Menjadi Ujung Tombak Program MBG

×

Ketika Kader PKK Menjadi Ujung Tombak Program MBG

Sebarkan artikel ini
IMG 20260628 201310
Indra Wijaya

Oleh : Indra Wijaya
Penyuluh Keluarga Berencana dan Pembina Tim Pendamping Keluarga (TPK)

Pagi baru saja dimulai ketika seorang kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) melangkah menyusuri gang-gang sempit di Kota Banjarmasin. Di tangannya terdapat umprengan berisi makanan bergizi yang harus segera sampai kepada sasaran 3B Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yaitu ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan baduta (anak usia di bawah dua tahun). Perjalanan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan tenaga, waktu, dan komitmen yang besar. Di balik setiap makanan yang diterima masyarakat, terdapat perjuangan kader yang bekerja di garis depan pelayanan.

Kalimantan Post


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan yang menjadi sasaran prioritas. Sasaran 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta, merupakan kelompok yang memerlukan perhatian khusus karena berkaitan erat dengan kesehatan ibu serta tumbuh kembang anak pada masa awal kehidupan. Pemenuhan gizi yang baik pada periode ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Oleh karena itu, keberhasilan pelaksanaan program MBG menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, kader TPK memegang peran penting sebagai penghubung antara program dan penerima manfaat. Mereka memastikan makanan sampai kepada sasaran yang tepat, sekaligus melakukan pemantauan dan pendampingan sesuai ketentuan yang berlaku. Peran tersebut menjadikan kader TPK bukan sekadar pelaksana, melainkan ujung tombak keberhasilan program di tingkat lapangan. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pelayanan pemerintah tidak berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar hadir hingga ke rumah-rumah masyarakat yang membutuhkan.


Di Kota Banjarmasin, tantangan distribusi memiliki karakteristik tersendiri. Banyak penerima manfaat tinggal di kawasan permukiman padat dengan akses jalan yang sempit dan hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki atau kendaraan tertentu. Kondisi ini mengharuskan kader membawa umprengan dari satu rumah ke rumah lainnya melalui lorong dan gang yang cukup jauh. Tidak jarang proses distribusi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan wilayah dengan akses yang lebih mudah. Bagi sasaran 3B, ketepatan waktu distribusi menjadi sangat penting karena berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan gizi harian ibu dan anak yang sedang berada pada masa krusial pertumbuhan dan perkembangan.

Baca Juga :  Tradisi Jaga Kebersamaan


Dedikasi para kader TPK patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Mereka tidak hanya menjalankan tugas distribusi, tetapi juga menjadi pendamping keluarga yang memahami kondisi masyarakat secara langsung. Dalam banyak kesempatan, kader membantu memberikan informasi, motivasi, serta menjadi penghubung antara keluarga sasaran dengan berbagai layanan pemerintah. Kedekatan mereka dengan masyarakat menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam mendukung keberhasilan berbagai program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting.


Seiring berjalannya program, berbagai pengalaman lapangan tentu dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan pelaksanaan MBG. Salah satu aspek yang layak mendapat perhatian adalah dukungan operasional distribusi yang mempertimbangkan kondisi wilayah dan tingkat kesulitan akses menuju rumah penerima manfaat. Mengingat medan distribusi yang tidak selalu mudah, terutama pada kawasan permukiman padat dengan gang-gang sempit, dukungan operasional yang proporsional akan membantu kader menjalankan tugas secara lebih optimal.

Penyesuaian dukungan tersebut bukan semata-mata sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras kader, tetapi juga sebagai upaya menjaga kualitas layanan agar manfaat program dapat diterima masyarakat secara berkelanjutan.
Keberhasilan Program MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disediakan, tetapi juga oleh tangan-tangan yang mengantarkannya hingga sampai ke rumah penerima manfaat. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan lapangan, kader TPK telah membuktikan diri sebagai garda terdepan yang memastikan program pemerintah benar-benar hadir di tengah masyarakat. Melalui dedikasi mereka, manfaat MBG bagi sasaran 3B dapat dirasakan secara langsung oleh keluarga yang membutuhkan. Karena itu, ketika berbicara tentang keberhasilan MBG, sudah sepantasnya kita memberikan perhatian yang sama besarnya kepada para kader yang setiap hari menyusuri gang-gang sempit demi membawa manfaat bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta, sebagai generasi penerus bangsa.

Iklan
Iklan