Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Kalsel

Cegah Stunting dari Desa, Nor Fajeri Dorong Penguatan Peran Ibu Hamil dan Kader Kesehatan

×

Cegah Stunting dari Desa, Nor Fajeri Dorong Penguatan Peran Ibu Hamil dan Kader Kesehatan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260811 WA0062
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H. Nor Fajeri, S.E., saat melaksanakan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) satu titik terkait Perda Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 01 Tahun 2012 tentang Kesehatan di Desa Gunung Riut, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. (Kalimantanpost.com - Foto/HumasDPRDKalsel)

BALANGAN, Kalimantanpost.com – Upaya pencegahan stunting harus dimulai sejak dini dan diperkuat dari lingkungan keluarga serta desa. Karena itu, peran ibu hamil, orang tua balita, bidan desa dan kader kesehatan dinilai menjadi kunci dalam menekan risiko stunting di Kabupaten Balangan.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H. Nor Fajeri, S.E., saat melaksanakan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) satu titik terkait Perda Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 01 Tahun 2012 tentang Kesehatan di Desa Gunung Riut, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Ahad (9/8/2026).

Kalimantan Post

Kegiatan tersebut diikuti ibu hamil, orang tua balita, bidan desa dan kader kesehatan dari empat desa, yakni Gunung Riut, Karya, Puyun dan Liyu.

Nor Fajeri mengatakan, pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Keluarga dan masyarakat desa harus menjadi bagian penting dalam memastikan kesehatan ibu dan anak terjaga sejak masa kehamilan hingga anak memasuki masa pertumbuhan.

“Kesehatan ibu hamil dan anak balita adalah fondasi utama. Kalau sejak awal kita jaga gizinya, pantau kesehatannya, dan libatkan bidan serta kader, maka risiko stunting bisa kita tekan,” ujarnya.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gizi, pemeriksaan kehamilan secara rutin serta pemantauan tumbuh kembang balita merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Karena itu, kader dan bidan desa diharapkan aktif memberikan pendampingan sekaligus edukasi kepada keluarga.

Ia menegaskan, Perda Nomor 01 Tahun 2012 tentang Kesehatan menjadi salah satu landasan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. Pemahaman terhadap regulasi tersebut, kata dia, perlu diperluas agar masyarakat mengetahui hak, kewajiban dan peran mereka dalam menjaga kesehatan.

“Pencegahan stunting bukan hanya untuk kepentingan hari ini, tetapi investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang sehat hari ini adalah generasi yang akan menjadi pemimpin dan tenaga kerja produktif di masa depan,” katanya.

Baca Juga :  Serapan Anggaran Masih Rendah, Firman Yusi Minta OPD Kalsel Stop Kebiasaan Kejar Realisasi di Akhir Tahun

Nor Fajeri pun mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi. Pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, orang tua dan masyarakat harus bergerak bersama untuk menemukan faktor risiko gangguan pertumbuhan anak sedini mungkin.

“Karena itu, kita harus memulainya dari desa, dari keluarga, dari ibu hamil dan balita,” tegasnya.

Sosper berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah peserta menyampaikan persoalan yang dihadapi di lapangan, mulai akses pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi keluarga hingga kebutuhan edukasi kesehatan yang lebih intensif.

Nor Fajeri berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai sosialisasi regulasi, tetapi dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.

Dengan penguatan peran keluarga dan kader kesehatan hingga tingkat desa, upaya pencegahan stunting diharapkan semakin efektif dan berkelanjutan, sehingga anak-anak di pedesaan dapat tumbuh sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.(nau/KPO-1)

Iklan
Iklan