Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Ekonomi

Hasil Panen Menurun, Petani Tatah Hanyar Keluhkan Sulitnya Mendapat Solar untuk Alsintan

×

Hasil Panen Menurun, Petani Tatah Hanyar Keluhkan Sulitnya Mendapat Solar untuk Alsintan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260813 WA0055 scaled
PANEN PADI - Petani di Tatah Hanyar, Gambut, Kabupaten Banjar sedang memanen padi menggunakan mesin pemanen padi atau combine harvester. (Kalimantanpost.com/Opiq)

BANJAR, Kalimantanpost.com – Musim panen padi tahun ini menjadi tantangan berat bagi petani di wilayah Tatah Hanyar, Kelurahan Gambut Barat, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Selain hasil panen yang menurun akibat kondisi tanah asam akibat sebelumnya lahan yang lama terendam air, petani juga menghadapi persoalan lain, yakni sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk mengoperasikan alat dan mesin pertanian (Alsintan).

Fauzi, Ketua Kelompok Tani Maju Bersama, mengatakan terdapat tiga kelompok tani yang tersebar di tiga Rukun Tetangga (RT) di kawasan Tatah Hanyar. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi pertanian di wilayah tersebut sebenarnya masih relatif mampu menghasilkan panen dengan baik.

Kalimantan Post

Namun, kondisi berbeda terjadi tahun ini. Lahan persawahan yang sebelumnya lama terendam air membuat tanah menjadi asam sehingga berdampak terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil produksi padi. Ditambah lagi saat ini kemarau cukup panjang sehingga padi mengalami kekeringan.

“Dalam tiga tahun terakhir di daerah kami ini saja yang bisa panen normal. Kalau daerah lain kebanyakan gagal panen, seperti di Kurau, Jambu Burung, Malintang dan sekitarnya,” ungkap Fauzi, Kamis (13/8/2026) kepada Kalimantan Post.

Menurutnya, petani di wilayah tersebut menanam sejumlah varietas padi, di antaranya Beras Gumpal, Mayang, Mutiara dan Siam Madu. Masa tanam hingga panen rata-rata berlangsung sekitar tiga sampai lima bulan.

Meski masih dapat melakukan panen, hasil yang diperoleh tahun ini jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat petani harus semakin cermat menghitung biaya operasional agar kegiatan pertanian tetap berjalan.

Persoalan lain yang cukup membebani petani adalah ketersediaan solar untuk mengoperasikan mesin pemanen padi atau combine harvester.

Fauzi menceritakan, selama ini petani terpaksa membeli solar melalui pengecer dengan harga mencapai Rp18.000 per liter. Padahal, harga solar di SPBU jauh lebih rendah, sekitar Rp6.800 per liter.

Baca Juga :  Pamor Borneo 2026 Perkuat Investasi, UMKM dan Digitalisasi Kalsel

“Kami kesulitan mendapatkan solar. Selama ini beli di eceran Rp18.000. Di SPBU Rp6.800, tetapi kami susah mendapatkannya,” katanya.

Kebutuhan solar untuk satu unit combine harvester, kata Fauzi, juga tidak sedikit. Dalam sehari, satu mesin membutuhkan sekitar 80 hingga 90 liter solar untuk mendukung operasional selama proses panen.

Sementara, di wilayah Tatah Hanyar yang digarap Fauzi bersama kelompok tani setempat, lahan sawahnya sekitar 3.500m x 3.500m atau mencapai 1.225 hektar. Kemudian, terdapat 5 hingga 7 unit combine harvester yang digunakan menggarap hasil sawah. Dengan jumlah tersebut, kebutuhan solar untuk operasional seluruh mesin bisa mencapai sekitar 400 liter per hari.

“Di wilayah kami ada sekitar lima sampai tujuh alat combine. Jadi paling tidak kami perlu 400 liter solar untuk operasional,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Fauzi bersama kelompok tani bahkan telah mengajukan permohonan resmi kepada sejumlah SPBU. Permohonan itupun diketahui perangkat desa dan ditujukan khusus untuk memenuhi kebutuhan operasional alat pertanian.

Fauzi menegaskan, solar yang diajukan bukan untuk kegiatan usaha lain maupun diperjualbelikan kembali. BBM tersebut murni digunakan untuk mengoperasikan combine harvester dalam membantu petani memanen padi.

Lebih jauh Fauzi menjelaskan, di tengah biaya operasional yang tinggi, keuntungan yang diperoleh petani dari jasa panen juga relatif kecil. Mereka mengambil upah borongan sekitar Rp40 ribu per karung.
Dari nilai tersebut, keuntungan yang tersisa hanya sekitar Rp8 ribu per karung. Keuntungan itu pun masih harus dibagi kepada empat orang yang terlibat dalam pekerjaan.

“Jadi Rp2 ribu saja per orang. Apalagi kita sewa combine sehingga perlu biaya besar,” ucap Fauzi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani tidak hanya berhadapan dengan risiko gagal panen dan turunnya produksi, tetapi juga tingginya biaya untuk mengoperasikan alat pertanian.

Baca Juga :  Pamor Borneo 2026 Buka Peluang Investasi Rp62,69 Triliun, Dorong Transformasi Ekonomi Kalimantan

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah, instansi atau lembaga terkait bisa
memberikan perhatian terhadap kebutuhan BBM bagi petani, khususnya solar untuk alat-alat pertanian. Kemudahan akses terhadap solar dinilai penting agar proses panen tetap dapat berjalan dan biaya produksi tidak semakin membebani petani.

“Bantulah kami agar bisa mendapatkan solar dengan harga subsidi, yakni Rp6.800, agar para petani bisa bekerja maksimal menggarap sawah,” harapnya.

Fauzi juga mengatakan, hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang pernah mengatakan bahwa sektor pertanian harus didukung. Presiden Prabowo menegaskan sektor pertanian merupakan prioritas utama dalam pemerintahan yang dia pimpin. Baginya, pangan adalah sektor paling dasar terutama dalam menghadapi situasi global yang hingga kini masih terjadi perang antar negara dimana-mana. Karena itu, semua kementerian dan lembaga harus memperkuatnya.

“Kami berharap dipermudah untuk menggarap sawah ini. Kalau masyarakat makmur, pemerintah kan bisa makmur juga,” pungkasnya. (Opq/KPO-1)

Iklan
Iklan