BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pamor Borneo 2026 resmi menutup rangkaian kegiatannya setelah berlangsung pada 7–9 Agustus 2026.
Ajang yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Provinsi Kalsel dan mitra strategis tersebut berhasil mencatat sejumlah capaian dalam mendorong investasi, memperkuat daya saing UMKM, serta memperluas akseptasi pembayaran digital.
Pada sektor investasi, dari 15 proyek yang ditawarkan, sebanyak 12 proyek berhasil memperoleh 32 Letter of Interest (LoI) dari 15 investor dengan nilai mencapai Rp64,45 triliun.
Investor juga mendapat kesempatan melakukan pertemuan bisnis secara langsung melalui one-on-one meeting dengan pemilik proyek, serta mengunjungi sejumlah lokasi investasi. Capaian tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju realisasi investasi secara konkret di Kalimantan.
Penguatan UMKM juga menjadi bagian penting Pamor Borneo 2026. Lebih dari 50 UMKM unggulan hasil kurasi berpartisipasi dengan menampilkan produk kriya, ready to wear, wastra hingga kuliner.
Selama kegiatan berlangsung, penjualan UMKM tercatat mencapai Rp377 juta, sedangkan fasilitasi business deals perdagangan dalam negeri dan ekspor mencapai Rp2,2 miliar. Dari sisi pembiayaan, tercatat komitmen pembiayaan UMKM sebesar Rp1,05 miliar.
Pamor Borneo 2026 turut menghadirkan pameran potensi pariwisata Kalimantan yang menarik sekitar 300 pengunjung.
Tak hanya sektor ekonomi, kegiatan tersebut juga mendorong penguatan wakaf produktif. Masyarakat diajak mendukung berbagai program, mulai dari produksi daging olahan untuk kemandirian pesantren, wakaf produktif kandang ayam untuk pemberdayaan masyarakat, hingga wakaf uang untuk dana abadi pendidikan.
Dari program tersebut, total wakaf yang terkumpul mencapai Rp14,46 juta melalui 924 transaksi menggunakan QRIS.
Di sektor sistem pembayaran, Pamor Borneo 2026 menjadi momentum memperluas penggunaan transaksi digital. Selama kegiatan berlangsung tercatat lebih dari 3.200 transaksi QRIS.
Literasi digital juga diperkuat melalui aplikasi Buku Saku Edukasi Digital (BUDI) Bank Indonesia yang telah dimanfaatkan lebih dari 1.500 masyarakat peserta kegiatan.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari kanal digital, dengan respons positif yang mendekati satu juta dan jangkauan lebih dari 100 ribu akun media sosial.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Haris Munandar, mengatakan berbagai capaian tersebut mencerminkan kuatnya sinergi Bank Indonesia, pemerintah daerah, Dekranasda, OJK, perbankan, instansi vertikal, asosiasi, pelaku usaha hingga masyarakat.
Menurutnya, sinergi tersebut perlu terus dilanjutkan meski rangkaian Pamor Borneo 2026 telah berakhir, terutama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan digitalisasi sistem pembayaran di Kalimantan Selatan.
Sebagai bentuk apresiasi atas konsistensinya dalam mendorong peningkatan daya saing UMKM, pemberdayaan masyarakat dan digitalisasi pembayaran, Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Selatan Hj. Fathul Jannah Muhidin diperkenalkan sebagai Bunda QRIS Kalimantan Selatan.
Peran tersebut diharapkan semakin memperkuat edukasi dan perluasan akseptasi pembayaran digital di tengah masyarakat.
Bank Indonesia berkomitmen melanjutkan sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif melalui fasilitasi investasi, pemberdayaan UMKM serta akselerasi digitalisasi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong perekonomian Kalimantan Selatan dan kawasan Kalimantan tumbuh lebih tinggi, inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Kalsel sebagai gerbang logistik Kalimantan dan Kalimantan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara. (nau/KPO-1)















