KEKERINGAN di Kalimantan Selatan mulai menunjukkan dampak yang tidak bisa lagi dianggap sepele. Ketika petani yang selama ini menjadi penghasil beras justru mulai membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari, alarm ketahanan pangan semestinya berbunyi lebih keras.
Data Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalsel per 31 Juli 2026 mencatat 6.691 hektare lahan padi terdampak kekeringan. Meski luas lahan yang dilaporkan puso masih relatif kecil, ancaman gagal panen tetap terbuka karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September dan berpotensi lebih panjang akibat pengaruh El Nino.
Kabupaten Tanah Laut menjadi wilayah dengan dampak terluas, mencapai 3.383 hektare, disusul Barito Kuala 1.919 hektare. Kondisi ini patut mendapat perhatian khusus karena Barito Kuala merupakan salah satu lumbung pangan Kalsel. Jika lahan yang seharusnya memasuki masa panen kehilangan pasokan air, persoalannya bukan lagi sekadar nasib petani, melainkan menyangkut ketersediaan pangan masyarakat.
Pernyataan bahwa petani mulai membeli beras adalah gambaran paling nyata dari situasi tersebut. Selama ini mereka menanam, memanen, dan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ketika hasil panen tidak tersedia, ketergantungan terhadap pasar mulai muncul.
Pemerintah tentu tidak boleh menunggu hingga gagal panen meluas. Pompanisasi, pemanfaatan sumur pertanian, pengelolaan sumber air, hingga modifikasi cuaca harus ditempatkan sebagai langkah mitigasi yang terencana, bukan sekadar respons darurat.
Yang lebih penting, kebijakan pertanian harus berbasis prakiraan cuaca dan kondisi hidrologis. Informasi tentang kemarau panjang dan El Nino sebenarnya memberikan waktu bagi pemerintah untuk bersiap.
Kekeringan bukan bencana yang datang tanpa tanda. Karena itu, jangan sampai pemerintah baru bergerak ketika sawah mengering, tanaman puso, dan petani kehilangan hasil panen.
Ketahanan pangan harus dijaga dari hulu. Menyelamatkan sawah hari ini berarti menjaga agar masyarakat tidak menghadapi persoalan yang lebih besar: beras tersedia, tetapi petani sebagai penghasilnya justru tidak mampu memproduksi.













