Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Di Balik Gemuruh Demo Mahasiswa, Tiga Srikandi Curi Perhatian Lewat Aksi Penagih “Klakson” di Jalanan

×

Di Balik Gemuruh Demo Mahasiswa, Tiga Srikandi Curi Perhatian Lewat Aksi Penagih “Klakson” di Jalanan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260828 WA0082
Aksi Tiga Srikandi yang Membajak Jalan Simpang Lambung Mangkurat di Tengah Aksi Demo Mahasiswa, Jum’at (28/08/2026). (Kalimantanpost.com/Nug)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Di tengah panasnya suhu politik dan tebalnya kabut asap yang menyelimuti Kota Banjarmasin, sebuah pemandangan menggelitik sekaligus menohok tersaji di urat nadi kota.

Tepat di persimpangan Jalan Lambung Mangkurat menuju Jalan Bank Rakyat, Jumat (28/08/2026) sore, arus lalu lintas mendadak riuh oleh sahut-sahutan bunyi klakson kendaraan.

Kalimantan Post

Keriuhan itu bukanlah akibat kemacetan biasa. Sumber utamanya bermuara pada aksi teatrikal jalanan yang dilakoni oleh tiga orang perempuan tangguh. Tanpa pengeras suara maupun mimbar orasi, ketiga demonstran ini sukses “membajak” atensi ribuan pasang mata pengendara yang melintas hanya dengan bermodalkan potongan kertas dan kardus sederhana.

Berdiri tegap di trotoar persimpangan, ketiganya membentangkan tulisan bernada satir yang langsung menyentil keresahan warga kota. Poster pertama memuat pesan tajam berbunyi, “Klakson Jika Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja”.

Tak kalah pedas, poster kedua menggunakan bahasa daerah yang terasa sangat dekat dengan kekecewaan warga lokal, “Klakson Sagan Pandiran Gubernur”. Sementara itu, poster ketiga menembak langsung pada isu lingkungan yang tengah menyiksa pernapasan warga Banua dalam beberapa pekan terakhir, yakni “Klakson Amun Pian Merasa Terdampak Asap”.

IMG 20260828 WA0083

Cara unjuk rasa yang elegan namun mengena ini terbukti ampuh. Alih-alih merasa terganggu, para pengemudi roda dua hingga roda empat justru meresponsnya dengan antusias. Setiap kali lampu lalu lintas menyala hijau, bunyi klakson menggema bersahut-sahutan memecah jalanan, seolah menjadi paduan suara rakyat yang lelah dipaksa menghirup udara beracun.

Aksi simpatik penagih klakson dari ketiga “srikandi” ini nyatanya tidak berdiri sendiri. Kehadiran mereka di jalanan sore itu merupakan potret kecil dari gelombang amarah yang jauh lebih besar. Tepat beberapa ratus meter dari lokasi mereka berdiri, Rumah Banjar alias Gedung DPRD Kalimantan Selatan tengah dikepung oleh lautan almamater.

Baca Juga :  Unjuk Rasa Memanas, Mahasiswa Paksa Masuk Gedung DPRD Kalsel

Ya, pada saat yang bersamaan, ratusan massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalsel tengah menggelar Unjuk Rasa. Para mahasiswa ini membawa delapan tuntutan yang ironisnya sangat selaras dengan jeritan isi kertas milik ketiga perempuan tersebut.

Di depan gedung dewan, mahasiswa berteriak menuntut langkah konkret penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Mereka juga meradang menuntut kompensasi dari PLN akibat pemadaman listrik bergilir, hingga mendesak Pertamina dan aparat untuk menyikat habis mafia BBM bersubsidi. Ultimatum pencopotan pejabat BUMN pun lantang disuarakan jika tuntutan tersebut tak digubris.

Namun pada akhirnya, hari itu publik disuguhkan dua wajah perlawanan yang berbeda namun bermuara pada satu muara kekecewaan. Jika para mahasiswa memilih berteriak lewat megaphone dengan rentetan tuntutan formal, ketiga perempuan di simpang Lambung Mangkurat ini memilih cara yang lebih membumi. Mereka membuktikan bahwa selembar kertas dan lengkingan klakson di jalanan sudah cukup untuk meneriakkan bahwa ibu pertiwi, dan Kalimantan Selatan pada khususnya, memang sedang tidak baik-baik saja. (Nug/KPO-1)

Iklan
Iklan