Harga Cabai Rawit ‘Makin Pedas’ Tembus Rp140 Ribu

KEMBALI MELAMBUNG TINGGI - Harga semua cabai-cabaian kembali naik disejumlah pasar tradisional Banjarmasin sepekan ini kenaikan ini disebabkan pasokan yang terus berkurang dari Sentra Penghasil akibat kemarau panjang. (KP/Hifni)

BANJARMASIN, KP – Musim kemarau berkepanjangan 3 bulan terakhir ini mulai berdampak mulai melambungnya harga-harga semua jenis cabai disejumlah pasar tradisional dari harga Rp90 ribu naik menjadi Rp140 ribu perkilo.

Harga cabai rawit kondisi ini dikeluhkan para penjual makanan siap saji yang memerlukannya cukup banyak setiap harinya.

Hj Famah penjual makanan siap saji Jawa Timuran dikawasan Kayu Tangi menjelaskan, dalam semingguan ini harga cabai-cabaian terus bergerak naik setiap harinya padahal ia memerlukan cabai rawit dan cabai merah besar hingga sampai 3 kilo lebih karena hampir semua makanan yang dijual ada campuran pedasnya.

” Saya ini jualan makanan siap saji Jawa Timuran dan Padang yang lebih banyak pedasnya setiap menu yang disajikan sehingga memerlukan cabai berbagai jenis sangat banyak dengan harga naik 3 lipat ini pihaknya kembali dibuat pusing,” keluhnya Kamis (14/11).

Kenaikan harga cabai ini menurut para pedagang karena pasokan yang sedikit dibeberapa sentra penghasil banua termasuk juga dari Pulau Jawa karena panen cabai banyak yang rusak akibat musim kemarau, sehingga harganya naik 2 kali lipat lebih dari hari biasanya.

Siah penjual sayuran dari Pasar Teluk Dalam menjelaskan kepada wartawan, saat ini yang ia jual kebanyakan cabai asal Pulau Jawa atau cabai jenis Tiung sedangkan cabai rawit kecil lokalan sudah menghilang atau kosong dampaknya harganya melambung sekalipun ada dijual Rp140 untuk rawit.

Naiknya harga semua jenis cabai-babaian seperti ini kami para pedagang sangat dirugikan karena para pembeli mengeluhkan harga cabai naik terus dan penjualan menjadi menurun.

Disebutkan Nunung, pasokan cabai rawit kecil dan tiung di Kota Banjarmasin ini biasanya dipasok dari Barabai dan Pelaihari namun karena sentra penghasil ini sedang gagal panen, pasokan berkurang.

“ Saya kira harga cabai ini tidak akan cepat turun jika tidak didukung pasokan dari Jawa apalagi saat ini banyak petani sentra penghasil utama yang gagal panen akibat kemarau panjang baik cabai rawit tiung, taji, merah besar dan hijau besar,” lanjutnya.

Dikatakan, untuk harga cabai rawit sebelumnya Rp80 sampai Rp90 ribu naik menjadi Rp120 ribu naik lagi Rp140 ribu, cabai merah besar dari Rp30 ribu naik menjadi Rp50 ribu begitu juga dengan cabai jenis taji dari Rp30 naik melambung menjadi Rp70 ribuan hal sama pada cabai tiung.

Sani penjual cabai Pasar Ksatrian Veteran mengungkapkan, permintaan bumbu dapur cabai turun drastis akibat harganya cukup mahal.

“ Kita akui permintaaan bumbu dapur bawang merah dan cabe rawit lokal sangat tinggi setiap harinya, apalagi saat memasuki bulan keagamaan namun penurunan pasti ada,” jelasnya saat ini.

Tantri penjualan makanan cepat saji Jawa Timuran dikawasan Veteran mengungkapkan, ia sangat terkejut setiap hari harga cabe rawit kembali melambung tinggi minggu ini, padahal setiap hari ia memerlukan sekitar 1 kilo cabe rawit tiung untuk sambel makan pelanggannya. (hif/K-1)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...