Sopir Taksi Kuning dan Organda Tolak Pengoperasian Bus Trans Banjarmasin

Organda dan sopir taksi kuning yang tergabung dalam Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) menolak pengoperasian Bus Trans Banjarmasin.

BANJARMASIN, KP – Penyediaan taksi bus tinggal menunggu waktu untuk dioperasikan di Kota Banjarmasin. Saat ini pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin sudah membuka lamaran untuk merekrut 18 pengemudi atau sopir yang mengoperasikan angkutan massal yang dinamai Bus Trans Banjarmasin itu.

Namun usai dioperasikannnya Bus Rapid Transit (BRT) atau dikenal Bus Tayo melayani rute Kota Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura yang dioperasikan Dishub Provinsi Kalsel, angkutan transportasi massal dinamai Bus Trans Banjarmasin itu mendapat penolakan Organda Kota Banjarmasin dan sopir angkutan taksi kota atau taksi kuning yang tergabung dalam Serikat Pekerja Transporasi Indonesia (SPTI).

Dalam aspirasi disampaikan ke DPRD Kota Banjarmasin melalui komisi III Kamis (23/1/2020), Organda dan sopir taksi kuning yang tergabung dalam SPTI meminta, agar Dishub Kota Banjarmasin tidak mengoperasikan bus tersebut.

“Masalahnya jika bus itu dioperasikan, tentunya akan mengancam dan mematikan keberadaan taksi kota atau biasa disebut taksi kuning yang sudah puluhan tahun melayani angkutan taksi dalam kota ini,’’ kata Ketua Organda Kota Banjarmasin, Asqalani SE.

Dikemukakan Asqalani, saat ini saja keberadaan taksi kuning sudah dalam kondisi memprihatinkan karena penumpang menggunakan transpotasi itu semakin sepi, sebagai dampak banyaknya memiliki kendaraan pribadi. Belum lagi, lanjutnya, persaingan dengan transportasi lain, seperti angkutan Gojek dan Grab.

“Sehingga dengan dioperasikan Bus Trans Banjarmasin itu di tengah makin sepinya penumpang akan semakin mengancam mata pencaharian dan piring nasi sopir angkutan taksi kuning di kota ini,’’ tandas Asqolani.

Menurutnya, saat ini saja keberadaan taksi kuning akibat adanya persaingan dengan transporasi lainnya, dari dulunya mencapai 800 unit sekarang hanya tersisa 300 unit. Itupun yang masih layak beroperasi tinggal sekitar 200 unit.

Terkait penyediaan bus yang siap dioperasikan itu, Asqalani mengemukakan, pihak Pemko Banjarmasin melalui Dishub tidak pernah mengundang Organda dan sopir taksi kuning yang tergabung dapat SPTI.

Sementara Ketua SPTI Kota Banjarmasin, Kumar juga menyatakan penolakannnya. Ia mengakui, di tengah persaingan dan banyak pilihan terhadap angkutan umum saat ini keberadaan taksi kuning diibaratkan sudah hidup segan mati tak mau.

Menurut Kumar, jika kemudian ditambah lagi adanya persaingan baru dengan dioperasikannya Bus Trans Banjarmasin, itu berarti Pemko Banjarmasin secara cepat menginginkan kematian mata pencaharian sopir angkutan taksi kuning.

“Kami sendiri sangat menyadari di tengah persaingan sangat ketat, untuk mencari penumpang saja taksi kuning tidak seramai seperti tempo dulu. Sehingga kalaupun angkutan taksi ini harus mati, biar mati dengan sendiri,’’ kata Kumar.

Kumar juga mengatakan akan menolak, terkait rencana Dishub merekrut sopir taksi kuning untuk menggemudikan atau menjadi sopir Bus Trans Banjarmasin yang siap dioperasikan itu. “Apalagi sampai meminta-minta pekerjaan, sebab yang kami inginkan bagaimana agar kami tetap bisa mencari nafkah,’’ ujar Kumar.

Menyikapi keluhan dan aspirasi disampaikan, Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Muhammad Isnaeni akan segera menyikapinya dengan mengkoordinasikan masalah ini dengan Dishub Kota Banjarmasin.

Menurut Muhammad Isnaeni, terkait penyediaan Bus Trans Banjarmasin yang siap dioperasikan itu pihak Dishub sudah menjanjikan tidak akan berdampak mematikan angkutan taksi kuning.

Kendati sebelumnya Muhammad Isnaeni mempertanyakan, terkait penyediaan dan pengeoperasian bus tersebut apakah sudah benar-benar dilakukan kajian dan diyakini tidak akan berdampak pada trasnportasi lain, khususnya taksi kuning.

Hal senada juga disampaikan anggota komisi III, Sukhrowardi yang meminta Dishub berhati-hati dalam mengambil kebijakan terkait pengoperasian bus tersebut agar jangan sampai menimbulkan dampak dan kegaduhan lain.

“Karenanya terkait keluhan dan aspirasi disampaikan sopir taksi kuning dan Organda ini harus dipikirkan pula untuk dicarikan solusi terbaik,’’ kata Sukhrowardi. (nid/K-5)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...