Mengapa Remaja Milenial Makin Liberal?

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi. Berdomisili di HSS.

Berawal dari video Tiktok yang viral tersebar di media sosial, praktik prostitusi online usia di bawah umur akhirnya terbongkar. Sejak dilakukan penyelidikan Satpol PP Banjarbaru dari Rabu (19/2). Akhirnya, teka-teki praktik terlarang ini terungkap Kamis (20/2) tadi.

Petugas penegak perda bersama tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pengendalian Masyarakat, Perempuan & Anak (Disdalduk KB PMP & PA) Banjarbaru, Dinas Sosial, Polsek Banjarbaru Barat dan Unit PPA Polres Banjarbaru menertibkan beberapa orang. Totalnya ada delapan orang, enam remaja wanita, dua remaja pria. Mirisnya, semuanya merupakan anak di bawah umur. Paling muda berusia 14 tahun. Mereka berdomisili di Banjarbaru. Namun untuk wilayah operasinya, cenderung dilakukan di Banjarmasin.

Dalam melancarkan aksinya, mereka punya tim yang sudah terkoordinir. Generasi muda ini saling berbagi peran. Mereka mengelola bisnis ini secara independen. Tanpa ada campur tangan sindikat prostitusi online. Perannya ada yang sebagai penyedia jasa kencan satu malam. Ada sebagai makelar (mucikari), dan satunya adalah tukang antar & jemput. Sementara sisanya mengaku baru ingin coba-coba.

Tarifnya bervariatif. Karena merasa masih muda, mematok harga dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk paket ST (Short Time). Sementara jika LT (Long Time) bisa mencapai di atas Rp1 juta (https://kalsel.prokal.co/read/news/30740-dari-tiktok-ungkap-prostitusi-online-anak-di-banjarbaru.html).

Viralnya video tiktok yang berlatar adegan ranjang, membuat dunia maya geger. Apalagi pelaku video tersebut dilakonkan oleh para pelajar di Banjarbaru. Ditengarai, video ini erat hubungannya dengan prostitusi online yang terus menyeruak di Banua kita. Mengapa remaja kita dewasa ini kian terjerat aksi liberal yang tak terbendung?

Liberalisme, yang diantaranya kebebasan bertingkah laku berasal dari negara-negara dengan ideologi Kapitalisme. Paham ini pun masuk ke dalam dunia generasi milenial kita, menjadikan kaum remaja lebih mencinta dunia dan jauh dari tuntunan agama. Sehingga kaum remaja milenial kini menjadi sasaran empuk sekaligus pangsa pasar kaum kapitalis untuk meraup berbagai keuntungan, lewat gaya hidup untuk mengejar fun, food, fashion dan film.

Padahal, generasi milenial merupakan generasi yang secara fisik, akal dan mental memiliki potensi yang sangat optimal untuk kebangkitan peradaban negeri. Namun, sangat disayangkan kehidupan liberal dengan diterapkannya sistem sekuler Kapitalisme telah menggerogoti kaum muda dan membuat mereka menjadi sekadar penghamba dunia. Tenggelam dalam hingar bingar kehidupan. So fun and santuy! Pikiran mereka hanya berisi kesenangan pribadi dalam hidup, tanpa takut berbuat dosa ataupun ingat akan kematian. Miris sekali melihat keadaan generasi kini!

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Apalagi, dunia pendidikan saat ini sarat komersialisasi. Menjadikan materi sebagai tujuan utama. Sehingga mengesampingkan tujuan utama yaitu mencetak generasi penerus bangsa yang berkepribadian mulia. Sebab, landasan pembangunan sumber daya manusia hanya berpijak pada sekular-kapitalistik. Masyarakat pun menjadi masyarakat yang sekuler-liberal. Hingga lahirlah generasi yang sekadar mengejar tingginya nilai akademik namun darurat dalam akhlak.

Bagaimanakah cara memutus mata rantai kerusakan yang menimpa generasi negeri? Kasus kenakalan remaja terus menerus berulang, bahkan jumlahnya makin meningkat. Seakan penguasa membiarkan tanpa ada penyelesaian. Sebenarnya, adakah solusi yang Islam punya dalam menangani permasalahan ini?

Jika potret generasi kita saat ini didominasi maraknya kehidupan seks bebas, kehamilan di luar nikah, prostitusi, aborsi, kecanduan narkoba, minum minuman keras, suka hura-hura dan sebagainya menunjukkan remaja tengah berada pada situasi yang sangat gawat. Bila tidak diwaspadai, situasi seperti ini bukan tidak mungkin akan membawa generasi harapan umat di masa depan tenggelam pada kehancuran yang sangat mengerikan. Karenanya, terkait masa depan bangsa kita harus berpikir tentang sistem penanganan generasi yang mampu menghasilkan generasi unggulan.

Islam ketika diterapkan dalam kehidupan mampu mengatur sistem pergaulan dalam kehidupan dan interaksi sesama manusia di tengah masyarakat. Negara akan mengawasi media dari segala hal yang tidak mendidik serta melarang masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan Islam. Demikian pula terkait aspek ekonomi, negara wajib menyiapkan sarana pendidikan yang berkualitas, sehingga bisa mencetak generasi cerdas dan religius.

Rasulullah Saw bersabda: “Setiap anak Adam suka berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat”. (HR. Ibnu Majah).

Juga sabda beliau SAW : “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits shahih).

Generasi dalam naungan khilafah Islam memiliki standar kebahagiaan yaitu untuk meraih keridhaan Allah SWT. Mereka dalam menjalankan seluruh aktivitasnya menyesuaikan dengan perintah-perintah Allah SWT dan larangan-larangan-Nya. Jadi, kebahagiaan bukanlah sendar memuaskan kebutuhan jasmani dan mencari kenikmatan semu. Sehingga hal ini akan menciptakan ketenangan dalam diri setiap generasi muda.

Islam pun punya aturan yang tegas dalam pergaulan laki-laki dan perempuan. Pengaturan ini akan terlaksana dengan baik di bawah pengawasan ketat negara, termasuk sanksi tegas bila ada pelanggaran. Disokong pula dengan kontrol sosial yang kuat di masyarakat sebab ketakwaan yang tinggi pada individunya. Semua terwujud karena kekuatan akidah yang mantap. Inilah yang harus diupayakan saat ini oleh umat Islam, agar kerusakan generasi bisa dihentikan. Sehingga terwujud generasi milenial yang siap menopang peradaban Islam.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya