Oleh : AHMAD BARJIE B
Di antara orang yang paling berjasa dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah pamannya Abu Thalib. Jasanya dalam semua aspek kehidupan Nabi. Ia mengasuh nabi kecil sejak berusia 8 tahun, saat ditinggal wafat kakeknya Abdul Muthalib. Walaupun ia tergolong miskin dan banyak anak dibanding paman-paman nabi yang lain yang tergolong kaya (seperti Abu Lahab, Abbas dan Hamzah), namun ia mengambil alih tanggung jawab mengasuh nabi. Ia asuh nabi melebihi anak-anaknya sendiri. Ia dan anak-anaknya tidak makan dan tidur, kecuali kalau Muhammad sudah makan dan tidur. Abu Thalib mengatakan, “sungguh Muhammad membawa keberkahan”.
Ketika Muhammad berusia 12 tahun ia membawa Muhammad kecil berdagang ke negeri Syam. Di tengah jalan ia bertemu, dengan Bahirah, seorang pendeta Nasrani, yang menasihatinya agar cepat-cepat membawa Muhammad pulang, sebab kalau diketahui orang Yahudi mungkin akan dibunuh. Bahirah sudah melihat tanda-tanda kenabian akhir zaman pada diri Muhammad. Abu Thalib membenarkan nasihat Bahirah, maka segera setelah menghabiskan barang dagangannya dengan tergesa-gesa ia pulang ke Makkah.
Saat Muhammad dewasa dan kawin, ia pula yang mendatangkan (melamar) Khadiyah sebagai perwakilan keluarga. Saat Muhammad diutus sebagai Rasul, Abu Thalib menyuruh anak-anaknya mengikuti Muhammad (masuk Islam), dan menyuruh Ali agar menyertai Muhammad dalam keadaan bagaimanapun. Sebagian sejarahwan mengatakana, Abu Thalib tidak menyatakan keislamannya secara-terang-terangan supaya tidak terlalu dimusuhi oleh kaumnya. Tetapi banyak kaumnya mencurigai Abu Thalib seiman dengan anak kemenakannya itu. Buktinya, saat kaum muslimin mengalami blokade sosial ekonomi (di tahun ke-7 kenabian), Abu Thalib ikut diblokade di Lembah Abi Thalib di luar Kota Makkah, selama 3 tahun, dengan segala penderitaan, sehingga beberapa orang Islam meninggal karena kelaparan dan kehausan. Sekiranya ia tidak dianggap muslim, seperti Abbas (masuk Islam di Madinah setelah tertawan dalam Perang Badr), dan Abu Lahab (kafir sampai meninggal) tentu tidak diboikot. Abu Thalib sendiri dan juga Khadijah meninggal tidak lama setelah pulang dari blokade ini, sehingga tahun itu disebut Amul Huzn (tahun kesedihan), terjadi di tahun ke-10 kenabian, sebelum peristiwa Isra dan Mi’raj.
Menurut Al-Syaikh Shaleh bin Muhammad al-Fakir al-Umari, seorang ulama dari Yaman, lulusan Pondok Darul Musthafa Tarim Hadramaut dan sarjana jurusan bahasa Arab Universitas al-Wathaniyah, Abu Thalib masuk Islam secara sembunyi-sembunyi, karena beliau salahseorang tokoh Quraisy dan menghindari agar orang-orang kafir Quraisy tidak mengganggu Nabi. Beliau sesungguhnya orang yang mengurus anak yatim yang paling mulia yaitu Muhammad saw, dan ada risalah ahlus-sunnah wal jamaah mengatakan bahwa Abu Thalib termasuk Ahlul Jannah.
Seandainya ia tidak beriman, tentu ia memusuhi nabi, seperti halnya Abu Lahab, tidak mau mengasuh dan membantunya setelah menjadi Rasul, tidak mau mengorbankan jiwa raganya untuk nabi, tidak menganjurkan anak-anaknya masuk Islam, dan tentu ia ikut menyembah berhala. Karena itu al-Syaikh Saleh menyebut tiga orang paman nabi yang masuk Islam dengan caranya masing-masing, yaitu Hamzah secara terang-terangan, Abbas masuk Islam ketika sudah berada di Madinah dan ikut mendampingi nabi ketika berunding dengan orang-orang Anshar menjelang hijrah, dan Abu Thalib secara sembunyi-sembunyi supaya tekanan kafir Quraisy tidak terlalu kuat terhadap beliau.
Nabi Muhammad sendiri sangat menyintai pamannya itu. Memang ada ayat Alquran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang dicintainya. Tetapi mengingat jasa Abu Thalib yang demikian besar terhadap nabi dan dakwah beliau, maka kita tidak bisa menyatakan dengan tegas bahwa beliau tidak Islam sampai wafatnya. Tentu tidak rasional, kalau Abu Thalib yang demikian berjasa terhadap nabi dan Islam dianggap masuk neraka. Sedangkan musuh Islam yang utama, Abu Sofyan masuk surga, padahal seumur hidupnya memusuhi Islam, menjadi panglima perang pihak Qurais dalam Perang Uhud dan Perang Ahzab, dan baru masuk Islam ketika sudah terdesak dan kalah dalam Fathu Makkah. Masalah ini memang jadi kontroversi sejarah yang penuh misteri, bahkan sampai sekarang ini. Wallahu A’lam.












