‘Gejolak’ Soal Makam Sultan Suriansyah, Jangan Coba-coba Memobilisasi Massa

Banjarmasin, KP – Terjadi ‘gejolak’ soal Makam Sultan Suriansyah di Banjarmasin Utara.

Kedua belah pihak antara penglola baru dan pengelola lama, melakukan penggembokan seluruh akses menuju makam.

Termasuk pelepasan atribut-atribut yang dipasang sebelumnya.

Itu, atas adanya penetapan Status Quo oleh pihak Polresta Banjarmasin.

Ini polemik soal pengelolaan cagar budaya Makam Sultan Suriansyah yang coba diluruskan.

Dan kini ditatakelola “Penjaga Marwah Raja Banjar”, yang ternyata menimbulkan gejolak hingga Senin (20/4).

Dari keterangan, pihak Polresta Banjarmasin melalui pihak anggota Sat Intelkam, kedua belah pihak sepakat menerima pernyataan lisan Kapolresta tersebut, guna menghindarkan munculnya konflik horizontal di kalangan masyarakat bawah.

“Seperti pada tanggal 13 April lalu sempat terjadi gejolak, namun bisa diredam, termasuk hari ini juga kami ikuti permitaan Kapolresta agar seluruh pihak mencabut semua atribut yang terpasang di area makam.

Intinya kami menerima arahan Kapolresta, namun kami juga mengharapkan agar Status Quo ini cepat selesai dan segera ada kepastian dari pihak kepolisian agar tidak terjadi dampak-dampak di kemudian hari,” ucap Ketua Pengelola Makam Sultan Suriansyah yang baru Budi Santoso Humaidi kepada wartawan.

Terkait soal dampak, Pengawas sekaligus pengagas Penjaga Marwah Raja Banjar, H Maulana yang akrab disapa H Imau, menegaskan kalau hal itu sudah terjadi, terlebih pasca penggembokan seluruh akses makam.

“Ini tak lain akibat Pemangku Wilayah  saya nilai ‘berpangku tangan’, hingga terjadi gejolak dan penggembokan sore ini.

Dan dampaknya membuat warga tidak bisa lagi berziarah ke makam Sultan Suriansyah.

Harusnya peka dan proaktif saat di awal Maret silam disaat kami mulai mengadu ke DPRD Kota Banjarmasin.

Berita Lainnya

Kapolda Dukung Gerakan Demokrasi

1 dari 1.023

Seharusnya dipecahkan walikota,” ujar H Imau.

Bukan hanya Walikota, H Imau juga menyorot kinerja Kadis Parsenibud Kota Banjarmasin Ikhsan Alhaq yang dinilai lagi sangat meremehkan persoalan ini.

“Saat kadis secara resmi diundang berdialog dengan masyarakat yang ditengahi DPRD Kota Banjarmasin, malah yang diutus sekretarisnya saja pada tanggal 5 Maret 2020 silam,” jelasnnya.

H Imau, tak menampik kalau dari pihaknya sudah memprediksi akan muncul gejolak-gejolak.

“Saya ingatkan, jangan coba-coba memobilisasi masa dan membawa-bawa isu SARA.

Karena kalau sekali saja mencoba-coba, saya akan melakukan hal serupa berkali-kali lipat.

Tolong diingat itu, karena persoalan ini sangat sensitive, menyangkut marwah raja-raja Banjar.

Tolong sekali lagi hati-hati dalam bertindak dan bertutur, karena ini tanah Banjar,” ujarnya dengan nada keras.

Dikatakan lagi, sepertinya tak rela kalau ‘lumbung rupiah’ mereka dengan mengkomersilkan cagar budaya Makam Sultan Suriansyah untuk arena permainan odong-odong dan dikomersilkan itu, terusik.

Itu dengan upaya ribuan masyarakat yang sudah membubuhkan tanda tangannya demi meluruskan kembali marwah makam Raja Banjar tersebut.

“Pengelola lama saya tegaskan tidak bijak dan tidak smart sama sekali menyikapi persoalan yang muncul,” tambahnya.

Ribuan masyarakat bereaksi seperti ini lanjut H Imau, tentunya ada sebab akibat.

Bukannya pengelola lama menyikapi dengan cara arogan dengan bersikukuh sebagai ahli waris saja.

Pengelola lama juga ia sarankan belajar lagi soal SK Menparsenibud dan UURI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. (*/K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya