Dampak Covid-19, Siring Muara Kelayan Batal Dibangun

Banjarmasin, KP – Proyek pembangunan siring Muara Kelayan di eks Pasar Beras, Jalan Pasar Pagi, Kelurahan Kelayan Luar, Kecamatan Banjarmasin Tengah batal digarap tahun ini.

Pasalnya, anggaran untuk pembangunan siring sepanjang 150 meter senilai Rp 10,7 miliar oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ikut terimbas pemangkasan untuk keperluan penanganan CoVID-19.

“Tak jadi dibangun tahun ini. Anggarannya dialihkan untuk penanganan CoVID-19,” ucap Kepala Bidang Sungai, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Hizbul Wathoni, Kamis (04/06/2020).

Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin memang sudah jauh-jauh merencanakan pembangunan siring tersebut. Bahkan pembebasan lahan Pasar Beras senilai Rp 13 miliar untuk 29 kios sudah dibayar lunas pada 2019 lalu.

Toni mengatakan, akibat kejadian ini pihaknya juga terpaksa harus membatalkan kontrak konsultan pengawasan yang sebenarnya sudah menang lelang.

“Karena fisiknya batal jadi pengawasannya juga dibatalkan. Kalau tak ada fisik apa yang mau diawasi. Mau tak mau kami harus membatalkan juga,” imbuhnya.

Lantas apakah pembangunan siring ini akan tetap bisa diupayakan di anggaran perubahan? Toni menyangsikan hal itu. Sebab, pengerjaan siring ini memerlukan waktu lama. Sehingga besar kemungkinan tak bisa dikerjakan di perubahan.

“Seperti tak mungkin kalau di perubahan. Karena ini fisik, pengerjaannya perlu makan waktu. Takutnya tak selesai sesuai target akhir kalau dipaksa,” katanya.

Selain proyek pembangunan siring, Toni mengaku bahwa ada beberapa anggaran belanja yang turun terimbas pemangkasan. Diantaranya untuk kegiatan non fisik, seperti sosialisasi.

Berita Lainnya
1 dari 1.384
Loading...

“Kalau di bidang kami anggaran yang dipangkas sekitar Rp 11 miliar. Dari total anggaran belanja 2020 Rp 33 miliar,” bebernya.

Toni juga mengaku sudah mendapatkan kabar bahwa anggaran akan kembali dipangkas, guna keperluan normalisasi anggaran. Kendati demikian ia masih belum mengetahui secara pasti berapa yang akan kembali dipangkas dari bidangnya.

“Juga ada mendengar kabar bahwa bakal ada pemangkasan lagi. Tapi masih belum tau berapa jumlahnya. Kami pun harus mencari lagi anggaran yang mana yang akan dialihkan,” katanya.

Selain itu, terkait pembebasan lahan, meski tak dikerjakan tahun ini Toni mengharap agar banguan kios beras milik pedagang yang masih tersisa bisa segera dibongkar. Sebab, pihaknya berencana melakukan pembersihan terlebih dahulu.

“Para pedagan sudah disurati untuk segera membongkar. Karen kami juga akan melakukan pengerukan sekaligus pembersih sungai, karena banyak sisa-sisa kayu Ulin di sana,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pedagan Rahmansyah saat dikonfirmasi, mengakui masih ada beberapa banguan kios yang masih belum dibongkar pemiliknya.

Ia memperkirakan bahwa lahan tersebut akan dibersihkan secepatnya. “Iya kami sudah menerima suratnya. Kemungkinan minggu-minggu ini sudah selesai,” jelasnya.

Rahmansyah mengatakan, bahwa dari 29 pedagan yang mana semuanya sudah menerima ganti rugi sebagai sudah ada menempati banguan yang mereka bangun secara swadaya.

“Kalau yang pindah ke bekas losmen itu ada 20 pedagang. Kalau sisanya ada yang pindah ke tempat lain ada juga yang berhenti berjualan,” pungkasnya. (Sah/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya