Pemko dan Pertamina Diminta Cepat Sikapi Kelangkaan Gas Elpiji

DPRD Kota Banjarmasin mendesak Pemko Banjarmasin dan Pertamina untuk mengambil langkah sistematis untuk menekan gejolak harga akibat terjadinya kelangkaan tersebut.

BANJARMASIN,KP – Kebijakan pemerintah mengurangi beban APBN dengan melakukan konversi bahan bakar minyak ke gas elpiji belum sepenuhnya berjalan lancar. Khususnya, dalam mendistribusikan gas elpiji 3 kilogram.

Pasalnya, karena selain sering terjadi kelangkaan dan membuat harganya dua kali lipat dari HET yang telah ditetapkan yaitu Rp 17.500, diduga sengaja dipermainkan pihak-pihak tertentu.

Menyikapi keluhan masyarakat terhadap kebutuhan bakar untuk keperluan rumah tangga itu tak pelak membuat berbagai kalangan, tidak terkecuali sejumlah anggota DPRD Kota Banjarmasin mendesak Pemko Banjarmasin dan Pertamina untuk mengambil langkah sistematis untuk menekan gejolak harga akibat terjadinya kelangkaan tersebut.

Pemerintah atau pihak Pertamina sebagai pihak yang berwenang mengendalikan penyaluran gas LPG mestinya mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan terjadinya gejolak harga terhadap kenaikan gas LPG, terutama isi 3 kilogram yang didistribusikan untuk warga tidak mampu.

” Masyarakat kini sudah resah dan semakin menjerit,’’ kata Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin, Faisal Hariyadi, kepada KP Senin (31/8/2020).

Menurutnya, dampak sering terjadinya kelangkaan gas elpiji seharusnya mampu diprediksi dan diantisipasi oleh Pemerintah sedini mungkin.

Berita Lainnya
1 dari 1.444
Loading...

Faisal Hariyadi menilai. bahwa kelemahan Pemerintah atau Pertamina yang tidak mampu mengendalikan harga gas LPG selama ini salah satunya disebabkan akibat lemahnya pengawasan atau monitoring dalam pendistribusiannya, khusunya di tingkat pangkalan.

“Akibatnta, tidak menutup kemungkinan adanya agen dan distributor hingga di tingkat pangkalan yang nakal dengan melakukan penimbunan untuk mengambil keuntungan sepihak,’’ ujar anggota dewan dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F,- PAN) ini.

Lebih jauh ia menilai, faktor lain penyebab sering terjadinya kelangkaan hingga melambungnya harga gas LPG adalah, sebagaimana sering dikemukakan adalah belum meratanya konversi minyak tanah ke gas di seluruh wilayah Kalsel.

Dijemujan, faktor lain adalah masih banyaknya warga yang mampu atau menengah keatas menggunakan gas elpiji 3 kilogram.

Padahal tandasnya, kebutuhan gas bersubsidi ini sebenarnya diperuntukan masyarakat kelas bawah atau kurang mampu.

‘’Dampaknya adalah selain pemakaian gas elpiji 3 kilogram akan semakin meningkat terus. Meskipun pihak Pertamina sudah menambah kouta gas elpiji 3 kilogram, khususnya untuk memenuhi kebutuhan Kota Banjarmasin.

Ia mengemukakan, menyikapi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram dalam beberapa pekan terkahir ini, komisi II berencana untuk mengundang pihak Pertamina dan Pemko guna meminta penjelasan dan solousi mengatasi kelangkaan ini. (nid/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya