Peranan Ajaran Tasawuf dalam Pembentukan Karakter Santri

Oleh : Mushofa
Khodim di PP. Daarul Ishlah Assyafi’iyah Batu Meranti Kec. Sungai Loban, Pengurus Cabang NU Tanah Bumbu.

Jika mendengar kata pesantren atau santri langsung terbayang dalam fikiran dan benak kita yaitu komunitas manusia bersarung, baju koko, kopyah agak miring-miring gimana, cewek berjilbab, tidak jarang yang juga bersarung dengan motif bunga, mereka berjalan dengan santai dan menundukkan pandangan sambil mententeng kitab kuning. Jika mereka disapa pasti membalas dengan senyuman yang khas dan bahasa yang halus. Jika mereka berpapasan dengan seorang kyai/ustadz mereka pasti berhenti dengan membungkukkan badan dan diam seperti patung. Jika mereka menghadap kyai atau ustadz pasti duduk bersimpuh layaknya budak dan menekuk kepala ke bawah sambil mendegarkan dawuh-dawuh atau intruksi dari kyai/gurunya. Jika sudah selesai mereka tidak berani balik kanan membelakangi kyai dan gurunya, mereka berjalan mundur kira-kira jarak lima meter baru mereka berdiri dan balik kanan maju jalan.

Dari segi penampilan, pakaian, pergaulan, semuanya dilakukan dengan datar. Keuangan mereka juga pas-pasan, namun mereka tetap menampilkan keikhlasan dan kesabaran. Mereka menjauhi keramaian dunia, ngempet (menahan) hawa nafsu pergaulan, hawa nafsu dunia digital, dan hawa nafsu–hawa nafsu lainnya. Hiburan mereka adalah hafalan dan nadzoman sambil diiringi musik clasik yang dihasilkan dari timba, bantal dan gayung, sendok dan botol, dengan semangat meneriakkan hafalannya seakan melampiasakan semua kepenatan. Ujian sakit, kehilangan, dibenci teman, diejek dan digojlok menjadi hidangan yang tiap hari datang, namun mereka hadapi dengan santai. Rasa rindu yang mendalam dengan keluarga mereka tahan bertahun-tahun. Semua itu mereka lakukan untuk meraih ridlo Tuhan. Dibenak mereka tidak terbesitpun incaran materi, sukses duniawi, yang cuma ngaji-ngaji dan ngaji.

Bertahun-tahun santri hidup dalam lingkungan seperti itu. Maka lingkungannya menjadi perenan penting dalam pembentukan karakter mereka. Pendidikan karakter yang dikembangkan para kyai dan guru di pesantren semuanya mengandung niai-nilai ajaran tasawuf diantaranya adalah:

  1. Qana’ah

Qanaah adalah salah satu sikap yang harus dimiliki oleh seorang mukmin untuk mencapai derajat kemukminan yang sempurna. Dalam literasi tasawuf berikut catatan definisi qanaah : a. Qanaah adalah meninggalkan pandangan (berharap) terhadap sesuatu yang tidak ada dan merasa cukup dengan sesuatu yang ada (Perkataan Syeikh Abu Abdillah bin Khofif dalam Risalah Al-qusyairiyah : 160); b. Qana’ah adalah ridlonya hati terhadap apa yang telah dibagi Allah dalam urusan rizqi (Perkataan Syeikh Muhammad bin Aly Atturmudzi dalam Risalah Al-Qusyairiyah : 160).

Dari dua definisi qanaah di atas dapat kita simpulkan bahwa qonaah adalah menggunakan dan mensyukuri apa yang ada dan tidak thoma’ terhadap yang tidak ada. Di pesantren pembelajaran qana’ah melalui : a. Makan apa adanya dengan lauk pauk sederhana dan porsi yang dibatasi. Kebiasaan ini mengajarkan kepada santri untuk tidak bersifat toma’ (rakus) dan tidak mempunya rasa memiliki milik orang lain; b. Uang saku dibatasi. Santri tidak diberi ijin menggenggam uang banyak, sehingga mereka secara tidak langsung akan belajar memenej keuangan secara hemat. Sebab orang ketika mempunyai cadangan keuangan berlebih mereka akan boros, menghambur-hamburkan harta dan berfoya-foya; c. Tempat tidur yang sederhana. Tidak peduli anak presiden, anak pejabat, anak raja, anak rakyat jelata semua diberlakukan sama yaitu tidur di tempat yang sama tanpa kasur empuk seperti di hotel berbintang, tanpa AC dingin, dan fasilitas mewah lainnya. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik mereka menjadi manusia sederhana.

  1. Sabar

Imam Ghozali dalam Mukasyifatul Qulub mengatakan : “Barang siapa yang ingin selamat dari adzab Allah dan mendapat pahala dan rahmat dariNya serta masuk ke dalam surgaNya, maka hendaklah bisa mengendalikan nafsu syahwat dunia dan sabar atas kedahsatan musih-musibah dunia, sebagaimana Allah berfirman : “Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (Mukasyifatul Qulub: 18).

Pembelajaran sabar di pesantren melalui : a. Kesabaran menjalankan ketaatan seperti : disiplin jamaah’, tepat waktu masuk kelas, wajib setor hafalan, mentaati semua peraturan; b. Kesabaran menjauhi larangan seperti: dilarang berbuat maksiat, dijauhkan dari dunia maksiat, dilarang ini-dilarang itu.Semua mereka lakukan dengan penuh kesabaran.

  1. Sukur. Allah berfirman : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Ayat di atas adalah salah satu dalil perintah bersyukur kepada Allah SWT. Lantas sekarang apa itu bersyukur? Berikut cuplikan definisi syukur yang terekam baik dalam Risalah Al-qusyairiyah : a. Syukur itu menyandarkan kenikmatan-kenikmatan kepada dzat yang menguasai nikmat dengan cara tunduk; b. Syukur itu melepaskan kemampuan; c. Memperhatikan dzat yang memberi kenikmatan bukan pada kenikmatanNya.

Dari sekian banyak definisi dapat disimpulkan bahwa syukur itu menggunakan kenikmatan yang diberi oleh dzat pemberi nikmata untuk tunduk atau beribadah kepadaNya. Dengan demikian maka setiap orang mempunyai potensi berbeda dalam mengimplementasikan rasa syukurnya kepada dzat pemberi nikmat. Orang sehat caranya bersykur adalah menggunakan kesehatannya untuk menyembah Allah. Orang kaya cara bersyukurnya adalah bersedekah. Orang berakal cara bersyukurnya adalah menggunakan akalnya untuk menuntut ilmu. Dan lain sebagainya.

Berita Lainnya

Rakyat dan Calon Pemimpin Merakyat

Korean Wave Tidak Layak Menjadi Panutan

1 dari 166

Pembentukan pribadi syukur di pesantren melalui : a. Selalu berdoa kepada Allah di setiap aktifitas santri terutama di saat jam-jam belajar; b. Memberikan pemahan bahwa menuntut ilmu itu bagian dari cara mengimplemntasikan syukur kepada Allah karena sudah diberi akal sehat; c. Memberi pemahaman bahwa segala sesuatu itu semua atas kehendak Allah bukan atas kuasa makhluk, sehinga santri sadar bahwa semuanya milik Allah. Maka selaku hamba berkewajiban mensyukurinya.

  1. Ikhlas. Allah berfirman dalam Alqur’an : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5)

Ayat di atas adalah salah satu ayat dari sekian banyak ayat yang menjadi dalil perintah agar kita ikhlas di dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Kemudian ikhlas itu seperti apa? Berikut sebagian definisi ikhlas yang terekam indah dalam kitab “Attashowuf Ruhul Islam” yang ditulis oleh Dr. Judah Muhammad Abu Yazid Al-Mahdi : a. Imam Junaid berkata : “Ikhlas adalah bersihnya amal dari kotoran-kotorannya”; b. Ibrohim bin Adham berkata : Ikhlas adalah kesungguhan niat bersama Allah SWT; c. Sahal bin Abdullah At-Tustury berkata : Ikhlas adalah diam dan geraknya seorang hamba hanya untuk Allah semata. (Attashowuf Ruh Al-Islam, hlm.518-519)

Dari sekian definisi ikhlas dapat disimpulkan bahwa ikhlas adalah melakukan ibadah yang disertai niat hanya untuk Allah bukan untuk yang lain.

Pembentukan karakter ikhlas di pesantren melalui: memberi tanggung jawab tugas khusus kepada santri yang dikerjakan dengan ikhlash tanpa pamrih misalnya; member tuas pengabdian bagi santri senior, nyapu halaman dan lantai lingkunan pesantren, merawat taman, mencuci kendaraan, menata sandal guru dan tamu, kerja bakti/ro’an, membiasakan sholat tahajjud dan duha dan lain sebagainya.

  1. Tawadlu’. Dari Ibnu Mas’ud ra, dari Nabi SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar dzarroh (semut pudak)”. (HR. Muslim: 91, Abu Daud: 3091, Atturmudzi: 1999).

Sombong adalah memandang yang lainnya kecil. Sedangkan sombong lawan dari tawadlu’. Ibnu Mubarok berkata “sombong terhadap orang kaya dan rendah diri terhadap orang fakir sebagian dari tawadu’. Kapan orang itu harus tawadu’? Dia menjawab, “orang yang tidak memandang dirinya sendiri mempunyai kedudukan dan bukan sebagai realitas keadaan serta tidak memandang orang lain buruk.” (Risalatul Qusyairiyah, hlm. 265).

Berangkat dari perkataan Ibnu Mubarok maka dapat dikatakan bahwa tawadu’ adalah memposisikan diri di tempat serendah-rendahnya sampai tidak merasa mempunyai kedudukan dan tidak mempunyai pandangan buruk terhadap orang lain.

Pembentukan karakter tawadlu’ ini di pesantren biasanya melalui: mengikat santri dengan berbagai aturan tertentu seperti; dilarang lari lewat depan kantor sambil lari, merunduk jika di depan guru, jangan menempati tempatnya guru, diajari untuk tidak suka menonjolkan diri di lingkungannya dan lain sebagainya.

  1. Wara’. Syeikh Izzudin bin Abdussalam berkata : Wara’ adalah ketetapan hati dan kehati-hatian untuk melakukan sesuatu yang dianggap sebagai maslahat dan meninggalkan sesuatu yang dianggap sebagai mafsadat. (Sajarotul Ma’arif, hlm. 902).

Dari paparan Syekh Izzudin bin Abdussaalam di atas dapat pahami bahwa sifat wara’ adalah sikap kehati-hatian dalam segala hal. Dalam dunia pesantren kemanfaatan dan keberkahan ilmu itu sangat dipengaruhi kewara’an santri saat nyantri. Sebagaimana pendapat Syeikh Azzarnuzi dalam ‘Talimul Muta’alim” : “Karena hal itu, ketika seorang pelajar mempunyai sifat waro’ maka ilmunya akan lebih bermanfaat dan proses belajarnya akan lebih mudah dan faidah ilmu yang di dapat juga banyak. (Ta’limul Muta’alim, hlm. 356)

Sikap wara’ ini menjadi sikap mutlak yang harus dimiliki oleh santri. Penanaman sikap wara’ di pesantren melalui: penerapan larangan ghosob, anjuran puasa senin kamis, tidak boleh terlalu kenyang dalam hal makan, tidak boleh terlalu mewah dalam hal pakaian, tidak diperkanankan banyak tidur, tidak boleh bergaul dengan sembarangan teman terutama teman yang bisa menyebabkan berbuat maksiat, dan lain sebagainya.

Inti dari ajaran tasawuf adalah membersihkan hati. Ketika hati seseorang sudah bersih maka akan berefek positif pada tingkah lakunya. Penerapan nilai-nilai tasawuf yang menjadi pembiasaan di pesantren itu akan berdampak besar terhadap karakter santri. Sehingga diharapkan output pesantren itu menjadi manusia yang berakhlakul karimah.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya