Petani Banjar Pertahankan Tradisi ”Bahandipan”

Martapura, KP – Mempertahankan budaya memanen padi bersama, petani di Desa Keramat Baru melakukan tradisi ”Bahandipan” atau secara bergantian saling membantu untuk memanen padi.

Tradisi ini dianggap mampu menyelesaikan panen padi dengan cepat. Seperti yang nampak dilakukan para petani Desa Keramat Baru, Kecamatan Martapura Timur.

Saat musim panen padi tiba, petani perempuan dan laki-laki sejak pagi hari sudah banyak yang menuju sawah. Biasanya, bahandipan ini berlangsung selama satu hari penuh. Bukan hanya memetik padi, mereka juga memproses padi hingga merapai (bairik/memisahkan bulir padi dari batangnya) dan biasanya dilakukan para pria.

Peralatan memanen padi hingga merapai masih menggunakan alat tradisional bernama Ranggaman. Sementara untuk merapai, petani masih melakukan secara manual, yakni dengan cara digiling dengan kaki.

Berita Lainnya
1 dari 412

”Selesai di sawah yang satu, kami pindah ke sawah lainnya, semuanya dilakukan secara gotong royong alias tanpa upah,” kata salah satu petani, Wafa.

Dia menambahkan, tradisi bahandipan ini sudah dilakukan sejak dulu dan hingga kini masih dipertahankan masyarakat. Selain proses panen jadi cepat, juga mempererat tali silaturrahmi dan gotong royong.

”Untuk wilayah Martapura Timur telah memasuki masa panen padi. Namun lantaran tahun ini sering hujan, petani sering pula memanen padinya saat hujan,” katanya.

Bila hujannya deras, lanjutnya, akan membuat pohon padinya jadi roboh dan sedikit sulit dipanen. Hama tikus juga lebih mudah memakannya. Jadi harus cepat dipetik padinya. (Wan/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya