Kini, Ada ABF di Pelabuhan Perikanan Banjar Raya

Banjarmasin, KP – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui UPT Pelabuhan Perikanan Banjar Raya menjalin kerjasama dengan para pelaku usaha perikanan di Banjarmasin, dalam upaya menjaga ketersediaan pasokan ikan laut segar dan harga yang stabil.

Karena itu, saat ini tengah dibangun Air Blast Freezer (ABF) berkapasitas 6 ton oleh pengusaha perikanan di Banjarmasin di kawasan Pelabuhan Perikanan Banjar Raya.

Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Banjar Raya Banjarmasin, Rusdi Hartono menyampaikan, Pemprov Kalsel menyewakan lahan kepada para pengusaha perikanan untuk membangun ABF tersebut.

“Tentunya, akan menambah pendapatan asli daerah juga, dengan adanya penyewaan tempat di pelabuhan perikanan ini,” ujar Rusdi kepada Kalimantan Post.

ABF sendiri merupakan fasilitas pembekuan atau memasak ikan dalam suhu tertentu. Sehingga, ikan bisa awet dan tahan lama disimpan, namun tetap dalam keadaan segar.

“Air Blaze Frezeer ini tak lama lagi selesai dan siap dioperasikan, mungkin tinggal menunggu pemasangan jaringan listriknya saja lagi” ucapnya.

Ia menambahkan, proses pembekuan atau pemasakan ikan sendiri berlangsung antara 7 sampai 8 jam dengan suhu hingga dibawah -25 derajat celcius.

Berita Lainnya

Pasar Modal Serahkan CSR ke PMI Banjarmasin

1 dari 935

“Melalui proses di ABF, dengan pembekuan hingga minus 25 derajat, ikan akan beku atau masak sampai ke tulang. Selain itu, kondisi ikan akan selalu segar dalam jangka waktu yang lama dengan tetap mempertahankan rasa, aroma dan warnanya,” jelas Rusdi lagi.

Setelah proses pemasakan melaui ABF, selanjutnya ikan-ikan tersebut akan dimasukkan dan disimpan dalam cold storage berkapasitas 100 ton yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Banjar Raya.

Dijelaskan Rusdi, ketika tangkapan nelayan melimpah, harga ikan-ikan di pasaran akan anjlok. Selanjutnya, stok yang melimpah ini tidak dapat bertahan lama jika tidak diproses dengan cara yang benar.

“Saat panen melimpah, akan berlaku hukum ekonomi. Kalau Ikan sedang banyak-banyaknya harganya pasti turun. Pernah ikan Lajang harganya sampai Rp 8.000 per kilogram, dan ikan Peda Rp 10.000 per kilogram. Saking banyaknya, dari pada tidak laku dan malah rugi, akhirnya dibikin tepung ikan untuk pakan ternak,” imbuh Rusdi.

Dengan adanya ABF ini, sambung Rusdi, saat tangkapan ikan melimpah bisa dibekukan dan dijual lagi ketika tangkapan nelayan sepi.

“Jadi, harga ikan tetap stabil dan ada untung bagi para pelaku usaha,” tandasnya.

Disisi lain, dengan adanya ABF di Banjarmasin, pelaku usaha baik dalam skala besar maupun kecil dapat lebih menghemat waktu, tenaga dan biaya. Sebab, selama ini pengusaha perikanan mesti pergi ke Jorong, Kabupaten Tanah Laut, untuk melakukan proses memasak ikan dengan proses ABF.

Pemprov Kalsel, dikatakan Rusdi, juga akan membuat ABF sendiri pada tahun 2021 nanti di wilayah Pelabuhan Perikanan Banjar Raya. “Insya Allah, sudah dianggarkan untuk pembangunan ABF milik Pemprov Kalsel, namun kapasitasnya hanya 2 ton saja,” pungkasnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya