Klaster Pengungsian Intai Warga Penyintas Banjir

Semenjak banjir melanda pada pertengahan Januari lalu, penerapan protokol kesehatan (prokes) pun buyar lebih-lebih terkait kerumunan

BANJARMASIN,KP – Belum selesai menangani penyebaran Covid-19, Kota Banjarmasin tiba-tiba harus dihadapkan dengan musibah banjir yang memaksa sebagian warganya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Padahal, Kota Banjarmasin bisa dikatakan sudah cukup berhasil menekan angka penularan virus corona, dengan terus menyadarkan masyarakat untuk menerapkan prinsip 4 M. Yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan menjauhi kerumunan.

Namun, semenjak banjir melanda pada pertengahan Januari lalu, penerapan protokol kesehatan (prokes) pun buyar. Lebih-lebih terkait kerumunan.

Bukan tanpa sebab. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun awakedia, sekitar 51 ribu jiwa yang terdampak banjir, seribu lebih warga diantaranya harus mengungsi di sebuah tempat yang dianggap aman.

Kondisinya pun sudah bisa dibayangkan. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, harus diisi orang banyak. Tentu, prokes pun sulit untuk diterapkan.

Terkait hal itu, anggota Tim Pakar Covid-19 dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin pun angkat bicara.

Ia menjelaskan pemerintah daerah, Satgas Covid-19, terutama masyarakat perlu mewaspadai adanya klaster pengungsian. Hal itu dikarenakan banjir memaksa warga mengungsi ke tempat keluarga atau tempat-tempat pengungsian umum lainnya.

“Pengungsi kerap kesulitan dalam menerapkan protokol kesehatan. Khususnya mengenakan masker, menjaga jarak dan kebersihan,” ucapnya, saat dihubungi awak media, Rabu (28/01) kemarin.

Berita Lainnya
1 dari 3.215

Hidayatullah memaparkan, untuk Kota Banjarmasin, kelurahan yang cukup banyak pengungsinya adalah Kelurahan Sungai Jingah, Tanjung Pagar, Pemurus Dalam, Sungai Lulut, Antasan Kecil Timur, Alalak Selatan, Sungai Andai, Surgi Mufti, Pemurus Baru, Kelayan Dalam, dan Kelayan Timur.

“Sehingga resiko pertumbuhan Covid-19 akan lebih tinggi di daerah-daerah terdampak banjir yang menyebabkan banyak warga mengungsi,” jelasnya.

Ia berharap, strategi 3T, khususnya testing dan tracing perlu lebih diintensifkan di daerah-daerah yang banyak jumlah pengungsinya.

Ia menganggap, dengan deteksi dini, maka warga yang diketahui terinfeksi Covid-19 dapat segera diisolasi. Bahkan jika memerlukan perawatan, dapat segera dibawa ke rumah sakit rujukan terdekat.

“Sedangkan tracing, diperlukan untuk mengetahui potensi penularan dari warga terinfeksi. Dengan cara ini, penularan lebih besar dapat dicegah. Kemudian, juga mencegah kemungkinan kondisi sakit yang lebih parah, termasuk memitigasi bertambahnya kasus meninggal karena keterlambatan penanganan,” tutupnya

Sebelumnya diberitakan, dari sekian banyak lokasi yang menjadi pengungsian, gedung Terminal Tipe B Kilometer 6 adalah salah satunya.

“Benar. Sudah over kapasitas. Jadi ada sebagian yang tidur di lorong,” ucap Rusma Khazairin, Kepala UPTD Terminal Tipe B Provinsi Kalsel beberapa waktu lalu.

Rusma mengakui, karena kondisi pengungsian yang sudah berdesakan, protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19 tidak bisa diterapkan dengan baik.

Oleh karena itu, Ia meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Banjarmasin, untuk turut memperhatikan kondisi kesehatan warga di pengungsian. Baik itu mengenai penularan virus maupun penyakit lainnya yang biasa diderita ketika terjadi banjir. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya