Pemurus Dalam Kembali Merah, Pakar Covid-19 ULM Pertanyakan Efektifitas PPKM Mikro

Jumlah warga Banjarmasin yang terkonfirmasi positif Covid-19 sepanjang 16 hari pertama di bulan Februari sudah mencapai 415 kasus aktif

BANJARMASIN, KP – Seperti diberitakan sebelumnya, kondisi pandemi Covid-19 di Kota Banjarmasin saat ini cukup memprihatinkan. Pasalnya saat ini muncul kelurahan yang statusnya naik menjadi zona merah, yakni Keluarahan Pemurus Dalam.

Hal itu terjadi ketika Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan itu tengah menjalankan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala Mikro.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Tim Pakar Covid-19 dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin pun akhirnya angkat bicara.

Ia menjelaskan, dengan populasi mencapai 16 persen dari total jumlah penduduk Kalimantan Selatan, Banjarmasin berkontribusi 25 persen dari 19.977 kasus kumulatif di provinsi ini.

“Besarnya kasus Covid-19 di kota ini tidak aneh. Mengingat kuatnya faktor yang mendorong penularan virus,” ungkapnya ketika dikonfirmasi awakediaelalui sambungan telepon, Rabu (17/02) siang.

Berdasarkan publikasi berbagai artikel ilmiah dan riset, yang ia lakukan sendiri terhadap situasi pandemi Covid-19 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, pertumbuhan dan penyebaran Covid-19 sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan kepadatan penduduk dan ukuran ekonomi suatu wilayah.

Dimana menurutnya, Banjarmasin merupakan kota yang sangat padat lebih dari 6 ribu penduduk per kilometer persegi, pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan, hingga memicu tingginya mobilitas penduduk yang menjadi motor penularan Covid-19.

“Tanpa adanya intervensi untuk mengendalikan mobilitas penduduk maka pertumbuhan kasus Covid-19 akan terus berlangsung,” tegasnya.

Padahal Pemerintah Kota Banjarmasin melalui PPKM dan PPKM Mikro telah dilaksanakan. Sehingga penerapan kebijakan-kebijakan tersebut yang sudah berjalan itu memang berdampak pada sebaran kasus Covid-19 masih jadi pertanyaan.

Oleh karena itu, Hidayatullah menekankan, bahwa kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak efektif dalam menekan angka kasus. Hal ini ditunjukkan oleh terjadinya ledakan kasus Covid-19 Januari dan Februari ini.

Berita Lainnya
1 dari 3.239

Kondisi ini mengindikasikan bahwa sangat penting upaya pengendalian mobilitas penduduk untuk memutus mata rantai penularan virus. Tidak cukup hanya dengan penerapan protokol kesehatan.

Menurutnya, jika tidak dapat menerapkan lockdown lantaran bukan merupakan rencana pemerintah pusat, maka harus dicari strategi cerdas dalam pengaturan kegiatan ekonomi dan masyarakat untuk menurunkan mobilitas penduduk.”Seperti aturan WFH sebanyak 75% harus betul-betul diimplementasikan. Jangan membuka sekolah saat pandemi belum terkendali, berlakukan aturan larangan makan di rumah makan/warung (hanya takeaway saja). Siapkan digitalisasi pasar tradisional untuk mengurangi tingkat kepadatan yang tinggi,” pungkasnya.

Terakhir, Ia juga menyayangkan, peta zonasi yang dibuat Pemko tidak mengacu pada satgas pusat. Adanya warna hijau dalam peta menimbulkan kebiasan dari kondisi riil. Seolah-olah pandemi di Kota Banjarmasin terkendali, padahal tidak karena jauh dari standar WHO untuk ukuran sudah terkendali.

“Peta zonasi hijau di tingkat kelurahan tersebut memberikan rasa aman palsu bagi masyarakat. Sehingga mereka kemudian menjadi semakin longgar bahkan menjadi abai dalam menerapkan prokes,” tutupnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan CoVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi mengklaim, bahwa perubahan zonasi yang terjadi di Kota Baiman ini sudah sesuai dengan instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 3 Tahun 2021.

Ia juga meminta, agar masyarakat untuk meningkatkan, kewaspadaan dan kepedulian dengan lingkungan sekitar agar saling untuk menerapkan prokes.”Kita minta agar prinsip 4 M terus dijalankan dengan disiplin,” tandasnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun awak media melalui rilis data yang dikeluarkan Dinkes Kota Banjarmasin, Tertanggal 16 Februari, jumlah kumulatif warga Kota Banjarmasin yang dikonfirmasi terinfeksi virus Corona sudah mencapai 4.996 kasus.

Itu artinya tinggal 4 kasus lagi maka jumlah penduduk yang terinfeksi Covid-19 akan menembus angka 5 ribu kasus.

Terlihat juga jumlah warga Banjarmasin yang terkonfirmasi positif Covid-19 sepanjang 16 hari pertama di bulan Februari sudah mencapai 415 kasus aktif.

Bahkan Kelurahan Pemurus Dalam yang sebelumnya berstatus zona kuning, kini kembali merah. Kemudian ada empat kelurahan yang berubah menjadi zona oranye, dan 32 kelurahan yang berstatus zona kuning. Sementara sisanya berstatus zona hijau.

Begitu juga dengan kasus aktif di Banjarmasin juga mengalami peningkatan yang cukup besar. Jika pada akhir tahun 2020 ada 177 warga kota yang berada dalam status masih positif, maka pada akhir Januari jumlahnya melonjak menjadi 318 orang.

Kini jumlah penduduk yang masih terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 482 kasus, yang mana 382 diantaranya dirawat di rumah sakit. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya