Vaksinasi Guru Jelang PTM, Kadinkes : Tanpa PTM, Anak Kita Akan Bodoh

Banjarmasin, KP – Program vaksinasi terhadap guru menjelang rencana penerapan pola Pembelajaran Tatap Muka (PTM) oleh sekolah yang ada di bawah naungan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin dinilai penting dilakukan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Machli Riyadi menjelaskan, pihaknya sangat mendukung kebijakan PTM bagi siswa kelas 6 SD dan 9 SMP tersebut untuk dijalankan.

“Kalau menunggu pandemi Covid-19 ini berakhir, maka sekolah tidak akan pernah buka dan anak kita akan jadi bodoh semua,” ungkapnya saat ditemui awak media usai melakukan pemantauan jalannya program vaksinasi di SMP Negeri 1 Banjarmasin, Jumat (19/03) pagi.

Menurut mantan Wadir Administrasi dan Keuangan RSJ Sambang Lihum itu, pembelajaran yang dilakukan secara online atau daring saat ini sangat tidak efektif.

Pasalnya, ia menambahkan, waktu belajar secara daring itu sangat terbatas dan sangat minim pengawasan terhadap anak. Apalagi ketika anak dia memegang android.

“Kita tidak tau dia (anak didik) berselancar di sosmed kemana-mana, membaca dan melihat apa yang tidak pantas dikonsumsi anak usia sekolah,” pungkasnya.

Karena itu, pihaknya selaku Dinkes Kota Banjarmasin berkewajiban untuk mengadvokasi kebijakan PTM yang dikeluarkan Pemko Banjarmasin tersebut dengan menyediakan vaksin Covid-19 bagi guru tahap pertama.

“Sasaran vaksinasi tahap pertama bagi guru ini 500 guru dulu, sesuai dengan ketersediaan vaksin yang dimiliki Dinkes,” ungkapnya.

Berita Lainnya
1 dari 3.193

Sedangkan jumlah guru yang sudah terdata di Dinkes sebagai penerima vaksin sebanyak 5000 orang. Sehingga hanya 10% guru yang bia divaksin pada tahap pertama vaksinasi kali ini.

“Kita akan lanjutkan lagi nanti saat vaksin datang pada termin berikutnya,” ujarnya.

Lantas, apakah vaksinasi pertama bagi guru yang dilakukan Dinkes tersebut langsung bisa menjamin tidak terjadi penularan Covid-19 saat PTM kelas 6 dan 9 dimulai pada Senin, 22 Maret mendatang?

Menjawab itu, pria dengan sapaan Machli itu menjelaskan, bahwa pembentukkan antibodi di tubuh manusia melalui penyuntikan vaksin memang memerlukan waktu selama 14 hari usai dilakukannya penyuntikkan vaksin pertama.

“Walau begitu, saat PTM dilakukan mereka (guru dan siswa) tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti wajib bermasker dan protokol kesehatan lainnya,” imbuhnya.

Sehingga, ia menilai tidak perlu ada kekhawatiran dengan paparan virus yang menular lewat droplet manusia itu terjadi.

“Sepanjang protokol kesehatan tetap dijalankan secara disiplin dan ketat maka tidak perlu ada kekhawatiran,” tegasnya.

Machli mengaku, bahwa pihaknya menargetkan program vaksinasi bagi para pahlawan tanpa jasa di bidang pendidikan ini bisa selesai dalam beberapa bulan mendatang.

“Tapi target vaksinasi guru ini sesuai dengan kebijakan Pemerintah dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Termasuk jika PTM ini dibuka secara keseluruhan, maka di Bulan Juli semua guru kita harapkan sudah tervaksin sesuai dengan ketersediaan vaksin yang kita miliki,” tutupnya. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya