Moderasi Beragama : Menunjukkan Semakin Jauhnya Dari Ajaran Islam

Oleh : Chayra Mumtaza
Aktivis Dakwah Muslimah

Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akan bersinergi untuk mengampanyekan moderasi beragama ke masyarakat internasional. Rencana kerja sama itu muncul setelah Sekretaris Jenderal Kemenag Nizar bertemu dengan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (Dirjen IDP) Kemenlu Teuku Faizasyah di Kantor Kemenag. (kompas.com)

Bahkan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta jajarannya untuk mempercepat implementasi moderasi beragama dalam berbagai program Kementerian Agama (Kemenag). Toleransi keberagamaan harus menjadi yang utama demi terlaksananya program dengan baik.

Menag berharap, program-program itu bisa dijalankan dalam tahun 2021 ini. Menag optimistis moderasi beragama dapat segera dijalankan di seluruh lini. Apalagi Pokja Moderasi Beragama Kemenag telah menyelesaikan peta jalan (roadmap) moderasi beragama. Untuk memperkuat moderasi beragama, Yaqut pun mengusulkan perlunya penerbitan peraturan presiden (perpres). (jawapos.com)

Dikutip dari salah satu web resmi kemenag daerah, moderat adalah sebuah kata sifat, turunan dari kata moderation, yang berarti tidak berlebih-lebihan atau sedang. Kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin moderatio, yang berarti ke-sedang-an, tidak kelebihan, dan tidak kekurangan, alias seimbang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata moderasi didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstreman.

Maka, ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama, menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keesktreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama. (https://diy.kemenag.go.id/10959-kenapa-harus-moderasi-beragama.html)

Dalam hal ini, sebagai seorang muslim tentu wajib bagi kita senantiasa menggunakan potensi berpikir untuk melihat dan peka terhadap kondisi umat hari ini. Saat kebijakan akan moderasi beragama dicanangkan dan perlahan namun pasti merujuk pada pengeleminasian (pengurangan) ajaran Islam yg shohih, maka itu haruslah menjadi perhatian besar kita bersama. Sangat berbahaya ketika seakan hal itu dibenarkan bahwa Islam harus selaras dengan perkembangan zaman. Bisa dilihat dari beberapa kebijakan yang baru saja kita dapatkan yang berkaitan dengan SKB 3 Menteri dan Pelegalan Penjualan Minol (minuman beralkohol). Jelas terlihat bagaimana kehidupan umat Islam hari ini diarahkan bersandar pada prinsip kebebasan alias Liberalisme.

Benar, dalam sistem Kapitalisme-Sekuler, semua kemaksiatan akan menjadi benar dilakukan ketika itu didasarkan pada hak individu dan keuntungan ekonomi bagi suatu negeri. Tak pelak kita temui, seringnya ketidaksesuai realita dengan apa yang dipahami dalam ajaran agama. Sistem demokrasi yang lahir dari akidah kapitalisme-sekuler telah membuat tak sedikit umat Islam buta akan ajaran agama mereka sendiri. Menjauhkan aturan agama dari kehidupan hingga tujuan hidup dan harga diri serendah nilai mata uang. Misalnya saja berpakaian sudah diserahkan pada kebebasan, aturan agama pun dipandang sebagai pengekang. Pun ketika kebutuhan minum dibebaskan, yang diharamkan tak masalah dilakukan atas nama keuntungan dan asas manfaat yang tak lepas dari keinginan nafsu manusia yang tersesat.

Aturan Islam Allah turunkan ke kita, bukanlah disesuaikan dengan kehidupan hari ini. Tapi, yang benar bahwa kehidupan inilah yang harusnya menyesuaikan diri dengan aturan Islam. Karena Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan dunia, tak ada siapapun yang bisa mengatur kecuali Sang Penciptanya. Namun, ketika hukum-hukum Allah dalam Quran dikatakan tak sesuai kebutuhan zaman, benarkah dengan mengubah (mengurangi) kemuliaan ajaran didalamnya dilakukan? Benarkah menuduh, memfitnah, dan mengkriminalkan mereka yang berusaha taat dan berjuang pada penerapan AlQuran?

Al-Islam, ialah Din yang mulia dan memuliakan manusia, turun dari Dzat Yang Maha Mulia, Allah subhanahu wa ta’ala, ia hadir dengan berbagai keunggulannya, sebagaimana ia pun tegak dengan berbagai karakteristiknya. Namun saat ini kita menemukan pendistorsian (tahrîf) atas nash-nash syari’ah sebagai dalih atas pemahaman sesat menyesatkan, pengaburan ajaran Islam dengan istilah-istilah yang mengkotak-kotakan Islam dan penyimpangan makna di balik istilah yang disematkan pada Islam. Salah satunya syubhat di balik ungkapan “Islam Rahmatan Lil ’Alamin”.

Dimana realitasnya istilah ini seringkali dijadikan dalih kaum liberal dalam menyebarkan syubhat seakan Islam membenarkan paham kufur pluralisme, kebebasan beragama, dan pengkotak-kotakan Islam dengan antitesisnya “Islam fundamental” atau “Islam radikal” yang mereka adakan dan maknai sendiri secara zhalim untuk menstigma negatif gerakan-gerakan Islam yang memperjuangkan penegakkan al-Islam, sehingga ia menjadi dalih mendistorsi dan mereduksi ajaran Islam serta menjegal perjuangannya. Ini pun menunjukkan standar ganda mereka yang bisa ’rahmat’ dengan asas pluralisme terhadap kekufuran dan penganutnya namun tidak bagi umat Islam yang memperjuangkan syari’at Islam kaaffah dalam kehidupan.

Berita Lainnya
1 dari 292

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad -shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam-) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Kata al-rahmah adalah mashdar dari kata kerja rahima, dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’uli ajlihi) atau sebagai keterangan (hal) bahwa Muhammad -shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- adalah al-rahmah yang menguatkan kedudukan beliau -shalallahu ‘alayhi wa sallam- (mubalaghah), dan dalam konteks penggunaan istilah ini Al-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ia terkadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsan (kebajikan). Atau al-khayr (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan). Maka ia termasuk satu lafazh yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak) yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.

Memahami makna ayat di atas, diperjelas firman-Nya: “Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86)

Lihat pula QS. Al-’Ankabut ayat 51, dimana keduanya memperjelas tidaklah Allah mengutus Muhammad -shalallahu ‘alayhi wa sallam- kecuali sebagai rahmat bagi ciptaan-Nya dengan apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim ini. Yakni kebaikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran-Nya. Para ulama mu’tabar pun menjelaskan rahmat dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syari’at Islam kaffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wa sallam-. Di antaranya ulama nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H): “Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”

Imam ’Izzuddin bin ’Abdissalam (w. 660 H) menafsirkan kata rahmat[an] dalam ayat ini sebagai hidayat[an] yakni petunjuk, yang tentunya petunjuk dari risalah Islam yang diemban Nabi -shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam-. Sejalan dengan Imam al-Nasafi, Imam al-Baydhawi pun menegaskan bahwa beliau -shalallahu ‘alayhi wa sallam- menjadi rahmat karena diutus dengan apa yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan kebaikan bagi kehidupan dunia dan tempat kembalinya kelak. Imam Al-Zamakhsyari (w. 538 H) menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wa sallam- sebagai rahmat bagi semesta alam karena ia datang dengan apa-apa yang akan membuat mereka bahagia jika mengikutinya.

Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) pun menyatakan rahmat tersebut mencakup kehidupan agama dan dunia; bagi agama karena beliau -shalallahu ‘alayhi wa sallam- turun menyeru manusia kepada jalan kebenaran dan pahala, mensyari’atkan hukum-hukum dan membedakan antara halal dan haram. Dan yang mengambil manfaat (hakiki) dari rahmat ini adalah siapa saja yang kepentingannya mencari kebenaran semata, tidak bergantung kepada taqlid buta, angkuh dan takabur, berdasarkan indikasi dalil:

”Katakanlah: ”Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan.” (QS. Fushshilat [41]: 44)

Dan bagi kehidupan dunia karena manusia terhindar dari banyak kehinaan dan ditolong dengan keberkahan din-Nya ini. Maka inti penafsiran di atas kian menjadi jelas ketika kita memerhatikan firman-Nya:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Tak samar kewajiban menegakkan syari’at Islam kaffah (totalitas) dalam QS. 2: 208. Maka Islam adalah rahmat bagi semesta alam dengan ajaran-ajarannya, Islam adalah rahmat dengan syari’at shaum (QS. 2: 183) sebagaimana ia pun rahmat (kebaikan hakiki) dengan keseluruhan syari’atnya; syari’at qishash (QS. 2: 178) dan syari’at jihad dalam QS. 2: 216 dimana ayat ini dan QS. 21: 107 pun menjadi dalil kaidah syar’iyyah: “Dimana tegak syari’at maka akan ada kemaslahatan.”

Maka penegakkan seluruh ajaran Islam yang menjadi satu kesatuan sistem kehidupan yang merupakan kebaikan hakiki bagi seluruh sendi kehidupan. Sebaliknya banyak dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengecam orang yang berpaling dari ajaran-Nya (QS. 20: 124) atau mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian lainnya dari ajaran-Nya (QS. 2: 285). Wallahu ‘alam

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya