Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Ketika Sampah Tidak Punya KTP: Cermin Tanggung Jawab Kita di Banjarmasin

×

Ketika Sampah Tidak Punya KTP: Cermin Tanggung Jawab Kita di Banjarmasin

Sebarkan artikel ini

Oleh : RK Ariyandi
Praktisi Perbankan/Warga Kota Banjarmasin

Di Banjarmasin, persoalan sampah hari ini tidak lagi bisa kita anggap sebagai gangguan sesaat. Ia telah berubah menjadi cermin—yang memantulkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tumpukan limbah.

Kalimantan Post

Kota ini tidak tiba-tiba kotor. Ia menjadi seperti ini, sedikit demi sedikit—dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele.

Dari plastik yang kita buang tanpa pikir panjang. Dari kantong yang kita lepaskan ke aliran air, dengan keyakinan bahwa semuanya akan “pergi dengan sendirinya”. Dari kebiasaan yang kita ulang setiap hari, tanpa pernah benar-benar kita pertanyakan.

Dan tanpa kita sadari, yang menumpuk bukan hanya sampah. Tetapi juga cara pandang. Karena masalah yang kita anggap kecil, sering kali justru adalah masalah yang paling lama kita biarkan.

Berdasarkan berbagai sumber dan pengalaman pengelolaan kota, timbulan sampah di Banjarmasin diperkirakan rata-rata mencapai 600 ton per harinnya. Angka yang mungkin tidak selalu kita bayangkan secara utuh, tetapi dampaknya kita rasakan—pelan-pelan, dalam keseharian.

Sebagian memang terangkut. Sebagian menemukan tempatnya. Namun tidak sedikit yang tertahan—di sudut jalan, di titik-titik yang tidak semestinya, bahkan kembali ke ruang hidup kita sendiri.

Artinya, setiap hari ada beban yang tidak benar-benar selesai. Ia tidak hilang. Ia hanya berpindah dan menunggu menjadi persoalan yang lebih besar.

Kita melihatnya di pinggir jalan. Kita mencium baunya di udara. Dan dalam diam, kita mulai terbiasa.

Di situlah persoalan sebenarnya bermula: ketika sesuatu yang seharusnya mengganggu, justru mulai kita anggap biasa.

Sebagai kota sungai, Banjarmasin pernah membangun identitasnya dari air. Sungai bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga sumber kehidupan. Di sanalah aktivitas tumbuh, ekonomi bergerak, dan budaya terbentuk.

Namun hari ini, di beberapa titik, kita melihat ironi yang sulit diabaikan. Air yang dulu menghidupi, kini harus menanggung beban dari apa yang kita buang. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang menggeser makna kota ini—pelan-pelan, tapi pasti.

Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa persoalan ini juga berakar pada sistem. Ketika kapasitas pengelolaan tidak lagi sebanding dengan volume yang dihasilkan, ketika pendekatan lama tidak lagi relevan, maka penumpukan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Namun pengalaman menunjukkan, persoalan sampah bukan semata soal ada atau tidaknya kebijakan. Upaya sebenarnya pernah dilakukan. Kebijakan pembatasan penggunaan plastik di ritel dan pusat perbelanjaan modern pernah menjadi langkah progresif, bahkan sempat menjadi rujukan bagi daerah lain. Namun seiring waktu, terutama sejak masa pandemi, implementasinya tidak lagi berjalan dengan konsistensi yang sama.

Dari sini kita belajar, bahwa tantangan terbesar bukan pada merancang kebijakan, tetapi menjaga keberlanjutan dan konsistensi dalam pelaksanaannya.

Di sisi lain, perubahan pola pikir masyarakat tetap menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Selama sampah masih dipandang sebagai sesuatu yang selesai ketika dibuang, maka persoalan ini akan terus berulang.

Baca Juga :  Pangantin Banjar Bausung, “Maangkat Batang Tarandam”

Karena pada akhirnya, solusi tidak hanya lahir dari sistem yang baik, tetapi juga dari kesadaran yang tumbuh dan dijaga bersama.

Sampah, jika kita lihat dengan jujur, bukan hanya persoalan lingkungan. Ia adalah cermin—yang menunjukkan seberapa jauh kita merasa memiliki kota ini.

Ketika sampah berserakan, yang terlihat bukan hanya kegagalan pengelolaan. Yang terlihat adalah jarak, antara kita dan rasa tanggung jawab itu sendiri. Dan jarak itu, jika dibiarkan, akan terus melebar.

Dalam situasi seperti ini, solusi tidak bisa lagi parsial. Ia harus bergerak serempak—dari individu, komunitas, hingga pemerintah di berbagai level.

Di tingkat individu, perubahan dimulai dari kebiasaan paling sederhana: memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan tidak lagi membuang sembarangan. Hal-hal kecil ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan bersama, dampaknya menjadi besar.

Di tingkat komunitas, peran lingkungan terdekat menjadi kunci. Kesadaran tidak lahir di ruang yang jauh, tetapi tumbuh dari kebiasaan yang dibentuk bersama—di tingkat RT, RW, hingga kelurahan dan kecamatan. Di sanalah disiplin dibangun, diulang, dan akhirnya menjadi budaya.

Perubahan kesadaran tidak terjadi dengan sendirinya. Ia perlu dibentuk, diulang, dan dijaga bersama. Membiasakan pemilahan sampah dari rumah, menyediakan tempat sampah terpisah di lingkungan, serta membangun kesepakatan bersama tentang waktu dan cara pembuangan menjadi langkah awal yang sederhana namun menentukan.

Langkah lain seperti membawa tas belanja sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, hingga menghidupkan kembali bank sampah sebagai ruang edukasi dan ekonomi, dapat menjadi gerakan kolektif yang nyata. Ketika dilakukan bersama, kebiasaan ini tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi perlahan berubah menjadi budaya.

Di sisi lain, peran lingkungan juga penting dalam menjaga konsistensi. Saling mengingatkan, memberi contoh, hingga memberikan apresiasi bagi lingkungan yang disiplin menjadi bagian dari proses membangun kesadaran yang berkelanjutan.

Di tingkat pemerintah daerah, langkah konkret perlu diarahkan pada penguatan sistem dari hulu hingga hilir. Dimulai dari kebijakan yang mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah, penguatan peran fasilitas pengelolaan berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di lingkungan, hingga memastikan sistem pengangkutan yang terjadwal dan terintegrasi.

Pendekatan ini perlu didukung dengan mekanisme insentif bagi lingkungan yang berhasil menjaga kebersihan, sekaligus penegakan aturan yang konsisten bagi pelanggaran yang terjadi. Karena perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi juga membutuhkan sistem yang mendorong konsistensi.

Di sisi lain, diperlukan keberanian untuk mengembangkan fasilitas pengolahan yang lebih modern dan berkelanjutan, sehingga sampah tidak hanya berakhir sebagai beban, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai—baik secara lingkungan maupun ekonomi.

Sementara itu, peran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi semakin penting dalam membangun pendekatan yang lebih luas dan terintegrasi. Dukungan kebijakan, penyediaan infrastruktur skala regional, hingga fasilitasi kerja sama antarwilayah menjadi kunci dalam mengurangi beban yang selama ini ditanggung oleh kota.

Baca Juga :  KANDUNGAN DAKWAH SOSIAL

Sinergi dengan wilayah penyangga seperti Kabupaten Banjar dan Barito Kuala bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Karena pada akhirnya, pengelolaan sampah yang efektif hanya dapat terwujud ketika seluruh pihak bergerak dalam satu arah—tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan sebagai satu kesatuan sistem.

Karena sampah tidak mengenal batas administrasi. Ia bergerak, mengalir, dan berdampak lintas wilayah.

Namun dari semua pendekatan itu, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: keteladanan. Karena masyarakat tidak hanya belajar dari aturan. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, setiap hari.

Keteladanan itu tidak selalu hadir dalam hal-hal besar. Ia justru tumbuh dari ruang-ruang kecil kehidupan kita—dari kebiasaan sederhana, dari sikap yang kita tunjukkan, dan dari peran yang kita jalani setiap hari.

Kita bisa membangun sistem terbaik. Kita bisa merancang kebijakan paling lengkap. Tetapi tanpa contoh nyata, semuanya akan kembali menjadi siklus yang berulang.

Maka mungkin, ini saatnya kita berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk bertanya dengan lebih jujur: Seberapa jauh kita sudah merasa memiliki kota ini?

Karena kota tidak pernah benar-benar kotor oleh sampahnya. Ia menjadi kotor ketika warganya berhenti peduli. Jika terus ditunda, persoalan ini tidak akan berhenti—ia akan tumbuh, membesar, dan pada akhirnya menjadi beban yang jauh lebih sulit untuk kita tangani.

Di usia ke-500 tahun Banjarmasin, ini bukan sekadar tentang merayakan perjalanan panjang sebuah kota. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk melihat kembali hal-hal yang selama ini mungkin kita anggap kecil, tetapi terus berulang dan perlahan membentuk wajah kota kita hari ini.

Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari apa yang berhasil kita bangun, tetapi juga dari apa yang mampu kita jaga dan rawat bersama. Jika kita ingin Banjarmasin tetap menjadi kota yang kita banggakan, maka perubahan itu tidak bisa ditunggu.

Ia harus dimulai—dari kita. Dari lingkungan terdekat. Dan dari keberanian untuk menjadikannya sebagai kebiasaan baru.

Bukan karena terpaksa. Tetapi karena kita sadar, ini adalah tanggung jawab bersama. Dan semua itu hanya mungkin terjadi, jika kita berhenti menunggu pihak lain bergerak lebih dulu.

Mungkin perubahan itu tidak perlu dimulai dari sesuatu yang besar. Cukup dari satu rumah, satu kebiasaan, dan satu keputusan sederhana hari ini.

Karena pada akhirnya, hampir ratusan ton sampah setiap hari bukan sekadar angka.

Ia adalah cerita tentang kita—tentang pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan, berulang kali, tanpa kita sadari. Dan masa depan kota ini, akan sangat ditentukan oleh apa yang kita lakukan bersama mulai hari ini.

Sebab jika sampah saja tidak punya KTP, maka pertanyaannya bukan lagi ke mana ia harus dibuang— tetapi apakah kita sudah cukup peduli untuk tidak lagi membiarkannya ada.

Iklan
Iklan