Kisah Kakak Beradik Kompak Jadi Pengemis

Banjarmasin, KP – Matahari sedang terik-teriknya kemarin (1/6) siang. Di perempatan Jalan S Parman, dua perempuan tampak berjalan tertatih-tatih. Mengarahkan gelas plastik, mengharapkan receh dari para dermawan pengguna jalan.

Kedua perempuan itu baru berhenti mengemis apabila lampu jalanan berubah menjadi hijau. Mereka menepi. Mengamankan diri agar tak terserempet kendaraan bermotor yang sesekali melaju dengan kecepatan tinggi.

Ada sejumlah kesamaan dari dua perempuan itu. Saat mengemis, keduanya, sama-sama menggendong seorang bocah.

Kepada awak media, salah seorang pengemis mengaku bernama Desi Selpia. Dia mengatakan, dirinya tak punya pilihan lain selain mengemis.

“Saya sudah tidak bersuami lagi. Saya harus menghidupi anak-anak saya. Turun dari rumah siang hari, baru pulang sore hari nanti,” jelasnya.

Perempuan 30 tahun itu menuturkan, bahwa sudah sebulan terakhir dirinya mengemis. Sebelumnya dia sempat bekerja serabutan sebagai pengupas bawang. Namun, penghasilan yang didapatnya, dianggap tak cukup memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.

“Sehari, hanya bisa bawa pulang Rp20 ribu sampai Rp40 ribu. Mana cukup. Saya belum pernah dapat bantuan apapun dari pemerintah,” ungkapnya.

Desi lantas menjelaskan, bahwa dirinya memiliki dua orang anak. Anak pertama duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar. Sedangkan anak kedua, usianya enam tahun. Yang ia bawa serta ketika mengemis.

Dari penghasilannya mengemis, perempuan asal Kelayan B Gang Haji Muhammad, itu mengaku bisa mengantongi Rp100 ribu setiap harinya.

Ditanya mengapa nekat membawa anaknya ke jalanan, Desi mengatakan bahwa bila ditinggal di rumah, tak ada seorang pun yang menjaga.

Berita Lainnya
1 dari 2.979

Ketika ditanya apakah dirinya tidak takut apabila sewaktu-waktu ditangkap oleh aparat penegak peraturan daerah atau perda.

“Kalau sudah jalannya tertangkap ya tidak apa-apa. Sudah nasib,” ucapnya sambil menambahkan bahwa dirinya pernah tertangkap sekali yang kemudian dibawa ke rumah singgah.

“Setelah keluar dari rumah singgah, saya ya mengemis lagi,” timpalnya.

Di lokasi yang sama. Pengemis lainnya, mengaku bernama Kartika. Tak disangka, perempuan 32 tahun itu adalah kakak dari Desi. Berbeda dari sang adik, dia mengaku baru lima kali mengemis. Itu pun, lantaran diajak oleh adiknya, itu.

“Di sini (Jalan S Parman) tiga kali,bdan di perempatan Jalan Lambung Mangkurat dua kali,” ungkapnya. Nasib Kartika juga tak jauh berbeda dari nasib adiknya. Mengemis lantaran tak punya pilihan lain. Tak lagi memiliki suami. Tak pernah dapat bantuan dari pemerintah. Kemudian, juga mengaku memiliki dua orang anak.

Satu laki-laki dan seorangnya lagi perempuan.”Yang laki-laki, duduk di bangku kelas II SMP. Sedangkan adiknya, ini usianya baru jalan tiga tahun,” ucapnya.

Kesamaan lainnya, Kartika juga mengaku pernah bekerja serabutan alias sebagai pengupas bawang. Namun, upah yang dihasilkan, juga dianggapnya tidak mampu memenuhi kehidupan sehari-hari.

“Saya sebenarnya ingin saja melamar pekerjaan lain. Tapi mau bagaimana, kalau SD pun saya tak lulus,” tuturnya.

Kartika juga menuturkan hanya bisa pasrah bila suatu saat dirinya tertangkap oleh aparat penegak perda.”Tadi ada mobil patroli Satpol PP yang lewat. Saya tadi sempat ditegur,” ungkapnya.

Begitu juga bila suatu hari, misalnya ternyata ada orang jahat yang nekat merampas hasil jerih payahnya di jalanan.”Masing-masing sudah ada rezekinya. Dan susah ada yang mengatur,” tutupnya. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya