Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi Pustakawan
(Refleksi Hari Lahir Pancasila)

Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Ideologi merupakan suatu ide atau gagasan yang kemudian melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan. Sejalan dengan hal tersebut, ideologi bangsa juga menunjukkan eksistensi yang sama dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Indonesia, ideologi dasar negara yang ditetapkan adalah Pancasila yang memiliki esensi yang sangat penting bagi kehidupan warga bangsa ini.

Menilai pentingnya Pancasila, maka sejak 1 Juni 1945, ditetapkanlah Hari Lahir Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa Indonesia yang peringatannya 1 Juni 2021 mengangkat tema “Pancasila dalam tindakan bersatu untuk Indonesia tangguh”.

Pancasila Sebagai Identitas

Pancasila sebagai identitas sebuah bangsa turut memberi kontribusi penting bagi terwujudnya nawacita bangsa ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila bukan sekadar nilai teoritis yang tidak membutuhkan perwujudan yang lebih real, lebih dari pada itu adanya nilai Pancasila itu masih hidup adalah karena identitas yang bersifat teoritis itu dilaksanakan dalam bentuk identitas praktis (nyata), sehingga Pancasila benar-benar menjadi nilai yang diresapi kemudian dipraktikan dalam setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara oleh segenap warganya. Karenanya, dengan adanya Pancasila sebagai asas, landasan dalam bernegara, maka tugas kita adalah memahami dan menghidupkan nilai-nilai pancasila itu kedalam setiap aspek kehidupan.

Sebagai warga negara Indonesia, siapapun dia apapun profesinya termasuk seorang pustakawan yang bekerja di perpustakaan harus bangga dengan Pancasila sebagai identitas diri dan menjadi grundnorm (norma dasar) ideologi negara yang menjadi payung kebangsaan dan tempat berpijak seluruh elemen bangsa, dimana beragam suku, budaya, maupun agama, semua berada sejajar di hadapan Pancasila.

Keberadaan Pancasila tidak hanya dipandang sebagai ideologi, tetapi juga sebagai leitstar atau bintang pemimpin yang menuntun arah tujuan peradaban bangsa Indonesia sekaligus juga menjadi kompas atau petunjuk arah bagi para pemimpin bangsa serta masyarakat dalam menghadapi berbagai masa sulit, termasuk Covid-19 yang saat ini tengah mewabah di Nusantara. Sehingga Pancasila harus selalu dijaga sekuat tenaga dari berbagai oknum yang ingin merongrongnya, serta berusaha untuk selalu mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Nilai-Nilai yang Dibangun

Sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa alasan Pancasila diberlakukan sebagai ideologi bangsa yaitu demi persatuan semua pihak, persatuan seluruh penduduk Indonesia. Pancasila memiliki lima prinsip yang menjadi pedoman acuan dan patokan negara. Kesemuanya itu mengatur dan memprioritaskan tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial. Dan Al Quran telah memberi pemahaman bagaimana kesemuanya itu dijalankan dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan yang beragam itu sendiri. Bahkan di setiap sila dalam Pancasila memiliki arti tersendiri yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dengan kata lain Pancasila merupakan hasil manifestasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri yang harus selalu direvitalisasikan.

Berita Lainnya

Hati yang Gelisah

Jalan Terjal Penghapusan Kekerasan Seksual

1 dari 332

Secara umum revitalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti proses cara atau perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Dalam hal ini revitalisasi Pancasila berarti menghidupkan atau menggiatkan kembali pemahaman dan penghayatan Pancasila dan mengamalkan nilai-nilainya dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam perspektif Pustakawan, revitalisasi Pancasila yaitu upaya menghidupkan atau menggiatkan kembali pemahaman penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di dalam diri para pustakawan yang sehari-hari bekerja di perpustakaan.  

Jika kita mencermati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, banyak nilai yang harus selalu kita amalkan dalam diri setiap orang termasuk juga para Pustakawan. Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” merupakan sendi tauhid di dalam Islam termaktub dalam surat Al-Ikhlash ayat 1-4 yang mencerminkan hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablum minallah). Dalam Islam, umat manusia harus mengakui adanya satu Tuhan yang diyakini dan disembah. Begitu pula dengan Pancasila, yang menyatakan adanya ketuhanan yang juga satu, meskipun berbeda agama. Allah tidak pernah memaksa hambaNya untuk menyembah kepada-Nya, karena kesadaran akan bertuhan merupakan fitrah.

Dalam berhadapan dengan Allah, seorang muslim menempati kedudukan sebagai hamba, sehingga tampaklah kepatuhan dan kecintaan dalam pengabdian. Dengan demikian terdapat keterikatan yang kemudian melahirkan komitmen (dimensi akidah). Komitmen inilah yang selalu diikrarkan dalam do’a iftitah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan semuanya hanya karena Allah.

Sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” mencerminkan hubungan antara manusia dengan sesamanya (Hablum Minannas). Apabila dalam hablum minallah kedudukan manusia sebagai hamba, maka dalam hablum minannas kedudukan manusia sebagai khalifah fil-ardhi. Dalam sila ini berkaitan dengan syari’ah, yaitu termasuk ke dalam ibadah sosial, yang mencakup bidang kemasyarakatan (as-siyasah), yang dalam Islam didasarkan pada sikap saling menghormati. Selain itu, dalam Al-Qur’an pun Allah tidak melarang umatnya berbuat baik terhadap orang yang berbeda agama, ini menandakan sikap saling menghormati harus kepada semua kalangan, sesuai degan prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” mencerminkan ide ukhuwah insaniyah (persaudaraan manusia) dan ukhuwah Islamiyah bagi sesama umat Islam. Persatuan akan terwujud apabila telah terjadi sikap toleransi yang tinggi antar sesama, sikap saling menghargai dan menghormati. Selain itu, dalam persatuan harus ditarik sifat persamaannya, bukan perbedaan yang hanya akan menimbulkan perselisihan dan pertentangan. Persatuan yang perlu digarisbawahi yaitu sama halnya dengan pluralitas. Dalam hal ini pluralitas berdasarkan apa yang dituntut oleh kemaslahatan rakyat, agar tercapai kesatuan dalam tujuan dan sasaran.

Sila keempat berisi “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, yang sejalan dengan prinsip Islam yaitu Syura (musyawarah) dan Mudzakarah (beda pendapat). Prinsip syura merupakan dasar dari sistem kenegaraan Islam (karakteristik negara Islam). Uniknya, prinsip syura ada di dalam Pancasila. Ini membuktikan bahwa perumusan Pancasila di ambil dalam bentuk musyawarah bersama berbagai kalangan untuk mencapai kesepakatan.

Makna alternatif yang diterangkan oleh para mufassir adalah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk melakukan musyawarah bukan karena beliau membutuhkan pendapat mereka, melainkan karena ketika beliau menanyakan pendapat mereka, setiap orang akan berusaha berpikir keras untuk merumuskan pendapat yang terbaik dalam pandangan mereka, sehingga sesuai dengan suara hati masing-masing. Sedangkan pada prinsip Mudzakarah, dimaksudkan sebagai suatu sikap penghargaan terhadap pendapat orang lain yang satu sama lain cenderung berbeda. Namun dengan prinsip ini, dikembalikan lagi kepada rasa persamaan dan kesetaraan, bahwa tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain, karena setiap jiwa memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah dan di depan hukum Negara.

Sila kelima berisi “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, yang mengharuskan kita untuk selalu mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan serta mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Islam sangat menjunjung tinggi nilai keadilan dan ini merupakan perintah secara gamblang untuk umat manusia, baik dalam tampuk kepemimpinan yang harus adil dan dalam masalah sehari-hari. Al Quran menegaskan perintah keadilan itu, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. (QS. An Nahl : 90). Dengan adanya keadilan maka memunculkan rasa kepatutan untuk mengelola persoalan-persoalan masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Berharap dengan peringatan hari lahir Pancasila ini, akan selalu meningkatkan pemahaman dan penghayatan kita semua terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam diri pribadi, berbangsa dan bernegara, aamiiiin.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya