Hanya Diberi Nomor Ambulance

Banjarmasin, KP – Warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) yang seharusnya mendapat pemantauan ekstra seperti halnya pasien Covid-19 yang dirawat di ruang isolasi rumah sakit tak dirasakan oleh Noor Hasanah.

Pasalnya, wanita paruh baya yang sudah berusia 55 tahun itu hanya sekedar disuruh mengisolasi dirinya di rumah usai Tarmizi (64) yang tak bukan merupakan suaminya divonis terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil PCR di Rumah Sakit Islam Banjarmasin pada 15 Juli 2021 yang lalu.

Anak Noor Hasanah, Mariani menceritakan, ayahnya sempat disuruh isolasi mandiri setelah divonis positif. Namun setelah tiga hari menjalani isolasi di rumah. Ayahnya terpaksa dievakuasi ke rumah sakit akibat gejala yang dialaminya semakin parah.

“Pas tanggal 18 Juli, ayah saya dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat. Karena di rumah kami tidak memiliki oksigen. Makanya kami sekeluarga sepakat untuk mengantarkan ayah ke RS Ansari Saleh,” ungkapnya.

Setelah itu, ia melanjutkan. Istri dari Tarmizi, Noor Hasanah disuruh pihak rumah sakit untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena tidak ada gejala.

Mengetahui ibunya disuruh isoman, Mariani memutuskan untuk melaporkan kondisi yang dialami keluarganya ke Puskesmas setempat, yakni Puskesmas 9 November.

“Setelah melapor. Kami diberinya nomor ambulance. Untuk vitamin ibu saya pun kami membeli sendiri. Beruntung adik saya bekerja di salah satu apotek. Jadi mudah mencarinya,” bebernya.

Tidak hanya sampai disitu, kondisi ibunya yang kini hidup sendiri di rumah pun tidak ada kontrol dari pihak puskesmas.

“Setahu saya sejak awal disuruh isoman tidak ada kontrol untuk ibu saya. Kami(anak-anak Tarmizi) yang berinisiatif sendiri menjaga kesehatan ibu supaya tidak drop,” imbuh warga yang berdomisili di Pengambangan ini.

Selain menjaga kondisi kesehatan ibunya. Mariana dan saudaranya yang lain juga memenuhi segala kebutuhan orangtuanya yang menjalani isoman. Mulai dari makan, sampai dengan vitamin.

“Pokoknya beliau (Ibu Noor Hasanah) kami suruh istirahat saja di rumah,” tandasnya.

Hal serupa juga dialami oleh sumber Kalimantan Post yang tinggal di kawasan Jalan Tembus Perumnas, Banjarmasin Utara.

Berita Lainnya
1 dari 3.546

Pemuda berinisial MS itu menuturkan, semasa menjalani isoman juga mengaku tak begitu dipantau oleh pihak puskesmas. Kalaupun ada, hanya dipantau melalui chatting di aplikasi WhatsApp. Itu pun menurutnya cuma satu kali.

“Saya lupa, apakah di hari ke sembilan atau hari ke sepuluh. Setelah itu, tak ada lagi pihak puskesmas nge-chat,” tuturnya kemarin, melalui sambungan telepon, Jumat (6/8) sore.

Ia menjelaskan, bahkan ia sendiri yang lebih aktif bertanya terkait kondisinya. Termasuk dalam hal mengurus obat-obatan. Padahal menurutnya, ia saat itu masih berstatus positif Covid-19.

“Obat-obatan tidak diantar. Saya sendiri yang mengurus ke puskesmas,” ungkapnya. Beruntung, kini SM sudah tidak lagi menjalani isoman dan bisa beraktivitas seperti semula.

Dikonfirmasi terpisah terkait karut marut pemantauan bingga penanganan itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina rupanya masih berkutat pada teknis. Bahkan ia hanya menjelaskan aplikasi pelayanan yang bisa digunakan oleh warga.

Kemudian, Ibnu berdalih bahwa pemantauan sejatinya sudah dilakukan melalui empat pilar. Yakni pihak kelurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, kemudian petugas puskesmas.

Empat pilar itu, di samping tim surveilans, menurut Ibnu merupakan ujung tombak pelaksanaan 3T (Testing, Tracing dan Treatment).

“Mereka yang mendata. Itu nanti bisa dikonfirmasi dengan melihat data yang ada. Sudah diawasi, dipantau, atau belum,” ucapnya, Jumat (6/8).

Ibnu menilai, data-data itu juga masuk dalam aplikasi Silacak dan Inarisk. Kemudian, ia juga membeberkan bahwa pihaknya juga membentuk telemedicine di enam puksesmas di Kota Banjarmasin.

Tujuannya, melayani konsultasi warga melalui sambungan telepon. Khususnya, melayani warga yang menjalani isoman dan terkonfirmasi positif.

“Ini layanan yang sudah kami operasionalkan dan mudah-mudahan warga terpantau kondisinya,” harapnya.

Lebih lanjut, Ibnu pun lantas membeberkan bahwa pihaknya melalui Dinkes Kota Banjarmasin saat ini juga sudah merekrut 104 tenaga surveilans.

Ia menjanjikan, tiap kelurahan, nantinya bakal ada dua orang tenaga surveilans yang diletakkan.

“Kita memaksimalkan mereka untuk pelaksanaan 3T. Semoga kita bisa kembali berada di zona hijau,” tutupnya.(Vin/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya