Masa Pandemi Permintaan Ternak Itik di HSU Turun

Amuntai, KP – Akibat ekonomi yang ditimbulkan dari Pandemi Covid 19 selama ini, khususnya di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) terhadap penjualan maupun permintaan ternak ungga jenis bebek yang banyak dikembangkan di Amuntai.

Sebagaimana diketahui Kota Amuntai selain terkenal dengan ternak kerbau rawanya juga dikenal dengan banyak peternak Unggas bebek, baik menghasilkan telor maupun penjualan daging bebek.

Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menjadi daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang sangat dikenal dengan keberadaan unggas jenis itik. Salah satu desa yang banyak dijumpai yaitu Desa Mamar kecamatan Amuntai Selatan yang ditetapkan menjadi sentra penetas itik yang berjarak kurang lebih 5 km dari pusat kota Amuntai.

Salah satu peternak Taufikurrahman yang sudah puluhan tahun menggeluti penetasan bebek maupun penjualan dagingnnya mengatakan ada dua jenis Itik yang dietaskan dirinya adalah jenis Packing dan itik Mojokerto – Alabio (MA).

“Usaha penetasan itik ini adalah turun temurun dari orang tua saya yang mana sudah kurang lebih 30 tahun”, ungkapnya.

Untuk pemasaran sendiri ada yang kita jual di HSU, Kalimantan Tengah, Balikpapan dan luar kota lainnya, lanjutnya.

Berita Lainnya

Pendidikan PAUD Perlu Terus Dilakukan

Harga Jual Bibit Itik Alabio Anjlok

1 dari 384

Sedangkan cara yang dipakai untuk penetasan dengan menggunakan alat buatan berupa kotak kayu pakai rak yang di dalamnya ditaruh kawat elemen penghasil panas yang dialiri listrik, alat ini bisa menampung ribuan butir telur itik dengan lama masa penetasan dan tingkat keberhasilan juga tidak berbeda bila menggunakan indukan.

Tahap awal adalah melakukan penyortiran terlebih untuk membedakan telur yang bisa ditetaskan dan telur hanya dikonsumsi. Lama telur hingga menetas membutuhkan waktu 1 bulan hingga bisa dijual, sedangkan untuk telur yang hanya bisa dikonsumsi maka akan kita jual kembali atau bisa dibuat telur asin.

Menurutnya saat pandemi covid-19 sektor penetasan itik juga terasa dampaknya, salah satunya adalah permintaan pasar dan turunnya harga itik.

“Saat pandemi seperti ini sangat berdampak bagi penjualan baik itu dari segi harga dan permintaan pasar”, ungkapnya.

Dijelaskannya untuk itik betina jenis MA yang umur 10 hari dijual dengan harga 12.000 perekor yang dulunya 15.000 sampai 16.000, untuk harga itik jenis packing juga sangat anjlok 3500 perekornya yang sebelumnya 5000.

Sementara untuk pejantan jenis MA 1500 sebelumnya 4000 perekor, ini dikarenakan pandemi covid-19 dan penerapan PPKM diberbagai wilayah, semoga pandemi ini cepat berlalu dan perekonomian kembali seperti semula. (nov/K-6)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya