Semangat Bambu Runcing di Era Kecerdasan Buatan

Oleh : Mambang, M.Kom

Ketua Indonesian Computer Electronics And Instrumentation Support Society (IndoCEISS) Kalimantan Selatan

Perjalanan bangsa dalam mengusir penjajah pastilah sangat lekat sekali dengan salah satu senjata tradisional yang tumbuh subur di sela lebatnya hutan dialah “Bambu Runcing. Perjuangan yang sangat heroik dilakukan pejuang-pejuang dalam mengusir penjajah ditunjukan dengan sebuah senjata yang terbuat dari bambu yang diruncingkan dalam mengusir penjajah dari bumi Indonesia, saat itu banyak digunakan di berbagai daerah di Indonesia untuk melambangkan keberanian dan pengorbanan dalam meraih kemerdekaan. Dalam menghadapi masa dimana akan berdampingan dengan serbuan teknologi asing dan baru, kita harus memiliki semangat yang tertanam dalam diri adalah keberanian, kegigihan dan harapan.

Hari demi hari dan tahun demi tahun telah diarungi bersama dalam perjalanan kehidupan, catatan sejarah peradapan manusia menjadi dimensi yang berbeda di setiap abad baru. Dan kini, pada abad 21 dimana kita semua menjadi saksi perubahan dunia yang terasa samakin dekat antara satu benua ke benua yang lain dibelahan bumi. Teknologi hadir mendekat disekitar kita dan terus bergerak maju tanpa peduli dengan kehidupan sosial masyarakat diiringi dengan hadirnya musuh-musuh yang tak kasat mata. Pada saat ini kita dapat melihat bagaimana “Mesin” sudah dapat melakukan berbagai hal yang membutuhkan kecerdasan seperti manusia melakukannya.

Dengan terus berkembangnya dunia kecerdasan buatan, adakah kemungkinan bahwa kecerdasan buatan bisa berkembang sampai seperti Terminator yang sanggup melukai manusia, jawabanya ada pada kita manusia sebagai kendali terhadap teknologi itu sendiri. Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) pernah menjadi bahan guyonan karena dianggap sebagai suatu ide yang sangat mustahil untuk diwujudkan. Tapi kenyataannya pada zaman milenial ini perkembangan kecerdasan buatan sangat cepat dan semakin luas. Sebagai kilas balik kita, tahun 1997 Komputer Deep Blue yang dilengkapi program catur sudah digunakan melawan pecatur juara dunia Garry Kasparov serta Volkswagen AG (Jerman) menciptakan sistem pengemudi kendaraan otomatis. Para ahli seperti “Haag dan Keen -1996” mendefinisikan AI (Kecerdasan Buatan) adalah bidang studi yang berhubungan dengan penangkapan, pemodelan, dan penyimpanan kecerdasan manusia dalam sebuah sistem teknologi sehingga sistem tersebut dapat memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang biasanya dilakukan oleh manusia.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, menyimpan sejuta potensi dimana “Berdasarkan data Administrasi Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 272.229.372 jiwa, dimana 137.521.557 jiwa adalah laki-laki dan 134.707.815 jiwa adalah perempuan” dengan jumlah populasi terbesar ke 4 dunia setara dengan 3,51 persen dari total penduduk dunia, kita sangat yakin Indonesia menuju Negara yang maju dan modern serta kita harus berani memiliki tujuan yang besar dalam persaingan global.

Berita Lainnya

Lunaknya Sikap KPI Terhadap Pelaku Asusila

1 dari 326

Teknologi hadir dalam rangka memecahkan masalah dan membantu manusia dalam berbagai bidang. Imaginasi manusia terhadap sesuatu yang unik dan berbeda akan selalu hadir dan menciptakan teknologi yang selalu ada didekat kita. Hadirnya teknologi kecedasan buatan mampu mereplikasikan hal-hal yang bisa manusia pikirkan dan lakukan ke dalam komputer. Saat ini kita dapat melihat tidak ada satupun perusahaan yang tidak mengandalkan teknologi dalam segala aspek. Aplikasi Kecerdasan Buatan (AI) dapat membantu meningkatkan kemampuan problem solving secara cepat dan konsisten, meningkatkan produktivitas dalam melaksanakan banyak tugas, menangani informasi yang berlebihan dengan cara merangkum/mengikhtisar dan menginterpretasi informasi.

Pada prosesnya ada beberapa jenis teknologi yang tergolong kecerdasan buatan (AI) seperti Symbol-manipulating AI, Neural AI, Neural Networks. Kecerdasan buatan memiliki berbagai kelebihan seperti bersifat permanen, mudah diduplikasi, kecerdasan buatan lebih mudah dan murah, bersifat konsisten. Hilirnya dari kecerdasan buatan dapat kita temui pada “Siri” yang merupakan salah satu program cerdas yang ada pada ponsel iPhone dan berfungsi untuk melayani pemiliknya atau lebih tepatnya merupakan sebuah asisten virtual cerdas yang serba bisa dalam melayani pemiliknya ketika mengoperasikan smartphone. Ada juga “Google Assistant” merupakan sebuah layanan berupa asisten virtual yang dikembangkan oleh Google dan bisa digunakan untuk melakukan percakapan dua arah dengan Google.

Tidak kalah dari kedua produk tersebut ada “Tesla” sebuah kecerdasan buatan yang mana berupa mobil yang bisa beroperasi sendiri walaupun tidak ada supir yang mengemudikannya. Sebenarnya, di dunia teknologi, AI ini bukanlah sesuatu yang baru. Konon, Kecerdasan Buatan (AI) sudah mulai diciptakan manusia sejak abad ke-17 oleh para ilmuwan matematika dunia. Namun dorongan untuk mempelajari lebih jauh tentang sistem kecerdasan buatan ini terjadi di era tahun 1950-an. Ini seiring dengan dimulainya pengembangan komputer elektronik dan stored program di era tahun sebelumnya. Tahun 1951 sistem AI tercipta ketika dua programmer dari University of Manchester, yaitu Christopher Strachey dan Dietrich Prinz, berhasil membuat sebuah permainan catur melawan komputer.

Mereka yang pertama kali menuliskan Kecerdasan Buatan (AI) pada komputer Ferranti Mark I. Terdapat perbedaan antara kecerdasan buatan dengan kecerdasan alami, kecerdasan buatan lebih bersifat permanen. Kecerdasan alami akan cepat mengalami perubahan. Kecerdasan buatan dapat mengerjakan pekerjaan lebih cepat dibanding kecerdasan alami. Kecerdasan buatan dapat mengerjakan pekerjaan lebih teliti dan lebih baik dibanding kecerdasan alami. Fungsi utama dari AI adalah kemampuannya untuk mempelajari data yang diterima secara berkesinambungan. Semakin banyak data yang diterima dan dianalisis melalui algoritma khususnya, semakin baik pula AI dalam membuat prediksi.

Dalam penerapannya, AI akan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru untuk manusia, yang bahkan saat ini belum tersedia. Apakah AI akan menggantikan peran manusia? Tentu tidak. Teknologi berbasis AI masih membutuhkan peran manusia, bukan menggantikan manusia. Seperti diungkapkan oleh Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, pusat dari AI adalah manusia. Teknologi bertenaga AI dirancang untuk melakukan pekerjaan yang menghambat produktivitas manusia seperti pekerjaan yang bersifat repetitif.

Dalam event Reddit Ask Me Anything, Bill Gates ditanya soal pandangannya terhadap kecerdasan buatan. Jawabannya mengejutkan, dia meminta masyarakat waspada terhadap Kecerdasan Buatan (AI) sebelum terlambat. Bill Gates menjelaskan, pada awalnya mesin akan melakukan pekerjaan untuk manusia dan tidak terlalu cerdas. “Tapi, beberapa dekade setelah itu, kecerdasan ini menjadi cukup kuat untuk membuat kita khawatir,” kata dia. Sebelum Bill Gates, Elon Musk juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap AI. Bos Tesla dan SpaceX itu sering kali menyampaikan kekhawatirannya akan masa depan kecerdasan buatan atau AI. Sampai-sampai dia pernah menyatakan kalau teknologi AI lebih berbahaya ketimbang senjata nuklir. Salah satu faktor pendorong perkembangan kecerdasan buatan adalah pesatnya perkembangan teknologi perangkat keras dan pengembangan perangkat lunak kecerdasan buatan.

Kesempatan dalam bersaing pada tatanan global sangat terbuka bagi generasi muda, sumber belajar dan pengetahuan sangat terbuka dengan jejaring internet sebagai media untuk mendapatkan informasi dan ilmu yang bermanfaat. Semangat Bambu Runcing “Keberanian, Kegigihan dan Harapan” menjadi dasar dalam bersaing tingkat global dan berpikir terbuka serta membekali diri dengan kompetensi abad ini seperti “Critical thinking and problem solving, Creativity and innovation, Communications, Collaboration” agar generasi muda Indonesia mampu menjadi Generasi Emas Indonesia Tahun 2045 yang akan menghadapi dinamika perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga. Bapak pendiri bangsa kita Bung Karno mengatakan “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Belum seratus tahun kita merdeka, jangan sampai kita kehilangan kemerdekaan untuk bermimpi.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya