Meski Kesulitan Ekonomi, Tetap Berdakwah di Kaki Pegunungan Meratus

Barabai, KP – Perjuangan dalam mensyiarkan Islam di kawasan pelosok tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi para da’i yang berupaya mensyiarkan agama Islam. Salah satunya di kaki Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Salah satunya adalah Ustadz Muhammad Hidayat. Saat ini, ia mengajar di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Desa Alat RT 002, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) yang berada di kaki Pegunungan Meratus.

Untuk menuju kecamatan ini saja membutuhkan tantangan, karena medan yang cukup terjal. Selain medan yang cukup menantang, Ustadz Hidayat mengungkapkan secara ekonomi, para da’i yang mengajar di ponpes di Desa Alat ini juga masih jauh dari kata memadai.

Selain persoalan biaya hidup, untuk urusan tempat tinggal pun mereka harus mencari jalan tengah. “Untuk tempat tinggal saja, masih menumpang di ponpes maupun di tempat mereka mengabdi,” kata Ustadz Hidayat, kemarin.

Kendati demikian, hal ini tidak menjadi persoalan yang menghambat perjuangan mereka dalam berdakwah di kaki Pegunungan Meratus. Karena bagi Ustadz Hidayat, yang menjadi tujuan para da’i dalam mengajar adalah ingin menyebarluaskan ajaran Islam dan memberikan wawasan dan akidah Islam.

“Saat ini saya masih aktif berdakwah dan menjadi salah satu penggerak par da’i untuk mensyiarkan agama Allah di kaki Pegunungan Meratus,” imbuh Ustadz Hidayat.

Berita Lainnya
1 dari 1.524

Lalu, apa yang menjadi pemicu bagi Ustadz Hidayat maupun para da’i yang tetap semangat dalam berdakwah untuk masyarakat di Desa Alat?

“Saya tetap berdakwah hingga di pelosok ini karena mencari keridhaan Allah dan berbagi pengetahuan agama kepada masyarakat di sini,” tandasnya.

Kisah perjuangan Ustadz Hidayat yang berdakwah di pelosok negeri ini, mendorong tim Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan (ACT Kalsel) untuk memberikan semangat, di bawah bendera program Sahabat Da’i Indonesia. Selain Ustadz Hidayat, tercatat ada 8 ustadz lainnya yang menjadi penerima manfaat program ini.

“Kita hadir untuk memberikan semangat kepada para da’i yang tetap semangat berdakwah di kawasan pelosok negeri. Apalagi di Desa Alat, Kecamatan Hantakan ini merupakan salah satu kawasan yang terdampak bencana banjir di awal tahun ini,” ucap Muhammad Rizki, Staf Program ACT Kalsel.

Dalam program ini, 9 orang ustadz yang masing-masing berasal dari Desa Alat dan Desa Tilahan Kecamatan Hantakan, serta dari Desa Baru Kecamatan Batu Benawa mendapatkan bantuan biaya hidup.

Tujuannya, agar para da’i ini semakin bersemangat dalam berdakwah kendati berada di kawasan pelosok seperti di kaki Pegunungan Meratus ini.

“Bantuan biaya hidup ini merupakan tahap ke-3 sebagai bentuk dukungan dan juga kepedulian sahabat dermawan untuk ustadz dan ustadzah kita yang terus semangat mensyiarkan Islam. Para da’i sendiri berterima kasih atas bantuan biaya hidup, karena meringankan beban ekonomi mereka,” tukas Rizki. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya